Tampilkan postingan dengan label kejawen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kejawen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Agustus 2014

Kerinduan akan Laku Kejawen

Tersentilnya sebuah ketenangan dalam hidup post modern ini menempatkan orang harus kembali mengulang dan menjalani hidup yang menyatu dengan alam, secara holistik Rene Descartes pun pernah mengatakan bahwa saya berpikir maka saya hidup. Dalam tataran inilah semua orang akan kembali menggerakkan sel sel dalam otaknya tuk kembali menghargai seonggok daging yang ditopang oleh puluhan bahkan ratusan tulang yang kemudian disebut oleh tubuh ini.
Kehidupan post modern ini menjanjikan setiap manusia untuk tinggal dalam sebuah penjara yang sangat disukainya, yaitu penjara rutinitas dan keteraturan. Rutinitas dan keteraturan yang disajikan oleh kehidupan saat ini akan mampu membunuh sukma yang ada dalam tiap ruh manusia yang ada. Akibat yang sering dirasakan adalah matinya rasa dan rahsa yang ada, kurang dekatnya dengan alam dan cenderung menjadi anak tiri di dalam ibu pertiwi. 


Kehidupan saat ini seringkali berkata......

"Diam dan duduk merenung adalah kesia sia an belaka"......
"Melihat alam adalah sesuatu yang membuang waktu"......


"Mengembangkan toleransi adalah suatu bentuk ketidakberanian seseorang"......
dan masih banyak lagi kalimat kalimat yang melemahkan dan memposisikan kebijakan tradisional menjadi sesuatu yang kuno dan jadul.
Orang menjadi jadul ketika memakai beskap dan keris terselip di pinggangnya, orang menjadi kuno ketika memakai blangkon di kepalanya atau memakai selop di kakinya.

orang cenderung tidak memandang lebih jauh

Setiap yang dipakai oleh orang jawa adalah sebuah arti, mengandung sebuah pelajaran dan bisa kita jadikan patokan untuk memperoleh tiang dalam pegangan hidup. Inilah pelajaran yang menempel dan bisa terbaca dalam tiap tingkah dan tanduk orang jawa, apakah ini akan kita hapus dan kita berkiblat kepada budaya barat yang cenderung merendahkan leluhur leluhur kita, merendahkan tradisi kita dan merendahkan kebudayaan kita hingga ke titik nadir terendah kebudayaan.

kalo tidak kita siapa lagi kalo tidak kapan lagi, itu kata kang Prabowo.....

wakakakakkakak

Minggu, 13 Oktober 2013

KOSMOLOGI TUBUH.......bagian pertama

kalo pada rame sekarang ini ttg apa itu AM yang merupakan ketua salah satu lembaga negara, yang terlibat kasus suap dan penyalahgunaan narkotika. Itu awalnya, kita juga pernah dihebohkan dengan berbagai macam pemberitaan yang bertajuk korupsi, terorisme, skandal dan bahkan kecelakaan yang melibatkan banyak orang, itu hal biasa di dalam lingkup negara tercinta ini....

......gak usah dibahas lah itu

yang penting, saya sekarang bekerja, berkarya dan menempatkan pekerjaan dan karya saya adalah sebagai sebuah ibadah yang mengharapkan pahala dari Allah semata, ya karna sesungguhnya hakiki yang saya cari adalah kemenangan di surga, kemenangan di dunia ini hanyalah semu dan akan hilang seriring dengan seringnya kita ke kamar kecil tuk buang kotoran, ups ma'af......

pekerjaan yang menyenangkan akan menghadirkan sebuah suasana yang kondusif sehingga intuisi pekerjaan akan tumbuh subur di dalam ranah dan lingkungan tempat dan wewenang dia. apa itu menyenangkan dan apa itu suasana kondusif.......

hati itu letaknya ada di bawah otak, tentunya semuanya tau, secara biologis hati seringkali disebut dengan kata hepar atau liver, hati yang berada di bawah otak dan diatas perut ini memiliki makna kosmologis yang tinggi. perut menjadi penyokong dari hati dan hati merupakan penyokong dari otak.

seseorang yang dalam keadaan lapar, perut kosong, yang berlangsung sekian lama akan menyebabkan hati akan berada pada kondisi instabilitas, tidak stabil, sering goyah dan tergoyahkan, akhirnya muncullah apa yang disebut dengan buruk sangka, paranoid dan ketakutan akan sesuatu hal. 

oleh karna itu, kondisi perut merupakan sarat mutlak kosmologis dari suasana hati kita, tapi jangan salah, apa yang mengisi perut itu juga mempengaruhi suasana hati yang akan terbentuk, jika perut diisi dengan sesuatu yang 'panas' maka hati ini juga akan ikut hangat, tapi bila perut diisi dengan sesuatu yang 'dingin' maka hati ini akan terasa sejuk......

itulah kosmologi dari perut yang berada di bawah hati....

sementara itu, hati adalah penyokong dari otak yang tegak berdiri di atas medulla oblongata, atau sumsum tulang belakang. otak tidak akan melakukan pekerjaannya dengan sempurna bilamana kita tidak dapat mengendalikan laju dari larinya hati, laju larinya hati ini akan membawa kita kepada suatu kondisi dimana otak akan bekerja untuk memilah, memilih dan memutuskan suatu jenis persoalan. 

suasana bole panas, kondisi bole tegang tapi bila kita berhasil mengendalikan liarnya lari hati kita di tanah terjal ini maka kita akan serasa menaiki mobil mewah yang tak terguncang sedikitpun walau melalui jalanan berbatu, begitu juga sebaliknya bila kita tidak mampu mengendalikan liarnya hati.

hati akan menciptakan ruang tuk otak kita tenang, berpikir dan memutuskan....

semuanya dalam kondisi optimum, saya bilang optimum bukan maksimal, perut akan tidak nyaman bila kosong akan tetapi juga tidak nyaman bilamana terlalu penuh, hati juga akan tenang bila dekat dengan ilahi tapi juga tidak bagus tuk ritme yang dibutuhkan bilamana terlalu jauh dari sang Pencipta.....

maka mulailah dengan kondisi nyaman diperut
.......nyaman dihati
.......berpikir cerdas


Senin, 04 Juli 2011

keseimbangan pati geni pati tirto....

Kita pernah mendengar tentang apa itu yin dan yang, inti dari keseimbangan diajarkan dalam dua kata tersebut. Tapi di kejawen keseimbangan alam ditempatkan diatas segalanya, bahkan diatas tuah pada tiap ajaran tersebut.....

Semisal kita tau kalau tombak A adalah tombak dengan tuah untuk pengayoman dan ketenangan dan kita juga tau kalau keris B adalah keris dengan pamor kewibawaan dan kekuasaan maka penyusunan dan peletakan kedua benda tersebut diatur menurut tata letak jawa atau nogo dino nogo pati......

Apa itu nogo dino dan nogo pati ?

Kita tau di Jawa ada pasaran hari, nah pasaran hari itulah melambangkan sedulur papat limo pancer. Sedulur papat adalah keempat mata angin dan yang kelima adalah pancernya atau inti dari segalanya. Maka menurut ajaran jawa diletakkan lah Wage itu ada di Timur, Legi itu ada di Barat, Pon itu ada di Selatan, dan Pahing itu ada di Utara. Sementara itu Kliwon adalah merupakan sentra kosmo bagi masyarakat Jawa atau lebih tepatnya diletakkan di tengah-tengah dari keempat arah mata angin tersebut, sehingga dikenal dengan istilah pancer sedulur papat. Penempatan Kliwon sebagai pancer tersebut mempengaruhi filosifi tentang pasaran tersebut sehingga jum'at agung bagi orang jawa adalah jum'at Kliwon, sementara Selasa Kliwon lebih dikenal sebagai hari Anggoro Kasih dimana banyak makhluk halus dilahirkan....

Nah penempatan pusaka-pusaka yang kita miliki ini ditambah dengan weton kita (sang pemilik) dan arah hadap rumah maka melahirkan apa itu yang disebut dengan keseimbangan pati geni pati tirto. Sebuah rumus yang mudah dan dapat diaplikasikan dengan seksama. Akan tetapi hal tersebut, walau mudah dan murah, banyak orang tidak memperhatikan hal tersebut.

Sebuah pusaka dengan pamor untuk pengayoman dan perlindungan alangkah baiknya diberikan pada sisi barat rumah dan menempati sedulur Legi, hal ini diharapkan bahwa pengayoman dan perlindungan selalu mendapat pandangan terbaik ketika kita melakukan shalat (karena menghadap ke barat). Sementara itu pusaka untuk kekayaan dan kemelimpahan harta sebaiknya diletakkan pada sedulur Pahing dari rumah tersebut (karena mitologi yang terbangun di jogja adalah argo ono ing sisih Pahing, utara). Hal ini dilakukan karena dewi kemakmuran itu berasal dari gunung (hargo) yang ada di sisi utara dari kasultanan Jogjakarta. Pusaka yang memiliki pamor untuk jabatan dan kewibawaan sebaiknya diletakkan pada sedulur Pon (selatan). Dalam mitologi Jogja, selatan adalah identik dengan Kanjeng Ratu Kidul yang akan menyelaraskan dengan jabatan yang dimiliki oleh semua raja jawa. Sementara untuk pusaka dengan pamor untuk kelancaran, kemudahan dan keberhasilan diletakkan pada sisi Wage, timur. Hal ini mengacu pada kemunculan dari sang surya yang tiap pagi berada di sisi timur, sehingga diharapkan kelancaran dari setiap tidak tanduk akan selancar munculnya matahari di ufuk timur. Dan yang terakhir adalah pamor yang menerangkan sisi Ketuhanan maka diletakkan di tengah-tengah rumah dalam kondisi berdiri keatas, baik itu tombak maupun keris, dengan harapan agar semua sentra usaha yang kita lakukan kita kembalikan ke ALLAH yang mengatur segalanya, TIDAK LAIN.....

Itulah keseimbangan pati geni pati tirto yang menempatkan peletakkan tiap pusaka menjadi hal yang sangat penting diperhatikan, mengingat optimalisasi dari masing-masing do'a yang terkandung di dalam masing-masing pusaka yang diletakkan tersebut.....

Senin, 28 Februari 2011

Katuranggan perkutut.....

Kalau baca judulnya jelas ini tentang perkutut deh, tapi liat dulu apa itu katuranggan. Katuranggan berasal dari dua kata yaitu katur yang berarti terucapkan atau diceritakan kembali dan angga yang berarti badan, sehingga katuranggan dapat berarti segala ciri yang ada dalam fisik, karena ini tentang perkutut jelas sekali ini adalah fisik perkutut.....

Setelah ular, keris dan saat ini perkutut..........pasti temen2 banyak bilang saya tuh aneh dan seneng klenik banget ya.

Perkutut ini tidak saya beli melainkan saya diberi orang, orang inipun secara tidak sengaja bertemu dengan saya di jogja, mas Giyanto, Pajimatan Imogiri Bantul Jogjakarta, makasih ya mas, akhirnya do'a saya untuk memiliki perkutut hasil pemberian terkabul juga. Mas Giyanto ini memberi saya perkutut putih, dengan mata merah yang tembus cahaya dan kaki serta paruh putih kemerah-merahan, wah TOP lah pokoknya, keluarga kami menamakan dia 'slamet'.......semoga keselamatan bersama keluarga kami, AMIEN.

Perkutut yang satunya diberi oleh mas Gatot (yang tidak lain adalah kakak kandung mas Giyanto) yang rumahnya ada di Banyusumurup, Imogiri Bantul Jogjakarta. Mas Gatot memberi saya perkutut biasa 'Pendowo Mijil" (disebut pendowo mijil karena bulu ekornya berjumlah limabelas) dan keluarga kami memberi nama padanya 'bejo'...............semoga keberuntungan selalu menyertai kami sekeluarga, AMIEN.

Dengan buta penngetahuan tentang keperkututan saya mulai membaca beberapa buku yang ada, bahkan saya mendatangi beberapa Bird Farm di Semarang untuk saya tanyai tentang pola dan cara perawatan perkutut, tanpa kecuali saya juga datangi beberapa penjual dan nongkrong di pasar hewan untuk diskusi masalah perkutut.

Seabreg dan banyak sekali informasi yang saya dapatkan, bahkan menurut pengetahuan saya malah lebih dari cukup untuk pengetahuan seorang pemula perkutut mulai dari pakan, penjemuran, penggantangan, air minum dan kebersihan kandang dan perkutut itu sendiri. Cukup saya rasa......

Akan tetapi semua harus di dasari dengan kasih sayang, itu yang terpenting, seperti pada 'bejo' maupun 'slamet' keduanya sekarang sudah mulai manggung dan menunjukkan keelokannya. Kasih sayang yang diberikan bukan kasih sayang yang memanjakan perkutut itu sendiri, walau masih berumur sekitar 6-8 bulan keduanya saya latih tuk hidup di dinginnya udara AKPOL Semarang ini. Bahkan ketika hujan lebat pun, keduanya tetap berada di teras rumah.........

tuk jaga rumah kami dengan keselamatan dan keberuntungan, AMIEN.

Selasa, 23 November 2010

Pelajaran dari dalam pasar......jilid 2

Beberapa hari kemudian saya tunggu dia di los empon-empon, di pasar Beringharjo, Gusti Paino belum juga muncul. Mendekati jam 10 pagi dia baru datang, trus buka dasaran tuk jualan di los itu.....sembari buat cem-ceman teh dia nanya padaku, "Arep takon opo meneh mas......"

Saya masih bingung tuh, setelah kita bisa masuk ke dalam kendaraanNYA itu apa yang harus kita lakukan lagi.....(baca : Pelajaran dari dalam pasar.........jilid pertama).

Beliau terus nunjuk ke arah ember plastik hitam, tulisannya ANTI PECAH, tapi atasnya dah robek. Gusti Paino bilang, liat sana.....loh saya kan bingung, udah lama nunggu, begitu ketemu kok disuruh liat ember pecah. Ya saya liat tuh ember, isinya air, mungkin los ini bocor dan 'ditampani' pake ember ini......

Saya bilang ke Gusti Paino, isi ember itu air Gus. Trus dia bilang, liat yang bener.....saya ulangi liat lagi, ya isinya air, bening, sampai sisa wortel saya liat di dasarnya. Saya cerita ke dia, kalau isinya air, didasar ember itu isinya sisa wortel.

Trus dia suruh saya liat ember lagi, kali ini yang dia tunjuk adalah ember milik tukang bakso yang berada di gerbang masuk pasar. Nah loe, makin bingung kan saya.......akhirnya saya liat, ember itu ada di luar tritisan (teras) pasar, jadi tukang bakso itu terlindungi oleh atap pasar cuma tempat duduknya saja, sementara gerobak beserta embernya kena terik matahari bila panas dan kena air bila hujan turun.

Ketika saya lihat, ember itu terbuat dari plastik, warna biru.....sambil malu-malu saya tengok isinya (wah jadi tontonan saya waktu itu, malu sih), didalamnya ada satu mangkok, waktu saya perhatikan mendadak saya silau oleh sinar matahari yang terpantulkan oleh air. Saya bilang ke Gusti Paino, isinya air juga, jernih, dan ada mangkuk bakso didalamnya, dia bilang hanya itu.....ya saya bilang silau karena di bawah terik matahari langsung.

Setelah itu dia nyuruh saya duduk di kloso mendong (sejenis pandan) nya, begitulah olah batin yang dilakukan, nah loe aku bingung kan....apa hubungannya antara ember ma olah batin ????

Akhirnya sambil nyruput teh dengan gulo batu, dia beberkan semuanya......

Hati itu layaknya ember yang anti pecah itu (walau pernah, hati pecah berkeping-keping karena ditinggal pacar, xixixixixi), yang diisi atau terisi air tadi. Matahari itu hanya satu, tapi bila dihalaman nan luas ada 1000 ember yang terisi air, maka akan ada 1000 matahari pada semua ember (masing-masing ember 1 matahari). Tapi apakah kualitas dari pantulan sinar matahari itu sama ?, tentu tidak, hal ini akan dipengaruhi oleh kekeruhan dari tiap-tiap ember yang ada, semakin jernih maka semakin menyilaukan pantulan yang terjadi, begitu pula sebaliknya semakin keruh dan banyak sekali kotorannya maka bayang-bayang matahari itu semakin tidak karuan bentuknya, apalagi pantulannya, mungkin gak terlalu menyilaukan......

Begitu juga dengan batin kita, semakin bersih laku batin kita maka semakin bagus juga pancaran dari ajaran gusti ingkang murbeng dumadi. Semakin kotor batin kita maka kita akan semakin tidak tahu, apa keinginan dari yang Kuasa untuk kita.

Trus saya nanya, nah kalau ember yang didalam pasar (yang digunakan untuk 'nadahi trocoh' tadi), dia bilang, itulah simbol orang yang telah tertutup dengan glamornya duniawi. Ember yang didalam pasar memang tidak ada sinar mataharinya, sebab terhalang oleh atap pasar, ya inilah penghalang masuknya sinar matahari ke dalam ember, walaupun saya masih bisa melihat dasar ember yang ada sisa wortelnya itu.....

Gusti Paino membeberkan, begitu juga dengan batin manusia yang telah tertutup glamornya duniawi (:pada kasus ember itu adalah atap pasar), dia tidak akan mendapatkan petunjuk dari yang maha Kuasa (: pada kasus ember itu adalah sinar matahari). Walaupun kejernihan batinnya telah terbukti, dengan terlihatnya sisa wortel didasar ember, akan tetapi ember tersebut tidak bakalan bisa memantulkan sinar matahari (karena emang gak dapet sinar karena ketutup atap pasar). Inilah bentuk batin yang telah bersih akan tetapi tidak mendapatkan petunjuk dari ALLAH sehingga tidak dapat berguna untuk manusia maupun lingkungan sekitaranya, walaupun sebersih apapun batinnya......masyaALLAH.

Saya malah terbengong, saya tanya ke Gusti Paino, jadi ada empat ember ya......

1. Ember yang berisi air sangat jernih dan berada di tanah lapang sehingga dapat memantulkan sinar matahari dengan terang benderang. Inilah bentuk batin yang sangat bagus yang dimiliki oleh para utusan ALLAH dan waliALLAH.

2. Ember yang berisi air yang keruh akan tetapi berada di tanah lapang sehingga masih dapat memantulkan sinar matahari walau tidak terlalu terang, karena terganggu dengan sampah-sampah yang ada didalamnya. Inilah bentuk batin yang masih harus dibersihkan dari kotornya penyakit hati.

3. Ember yang berisi air sangat jernih dan berada di dalam ruangan sehingga tidak dapat memantulkan sinar matahari. Inilah hati yang telah bersih, akan tetapi kehidupan duniawi menutup jalannya petunjuk dari ALLAH.....

4. Ember yang berisi air sangat keruh dan berada di dalam ruangan sehingga tidak dapat memantulkan sinar matahari dan tidak dapat dilihat apa yang ada didalamnya. Inilah bentuk batin yang harus kita hindari, selain tidak mendapatkan petunjuk dari ALLAH, batin dengan bentuk ini diliputi oleh semua kebusukan dan penyakit hati.....

Saya malah tambah panik.....gak terasa adzan dhuhur berkumandang, saya dan Gusti Paino menuju masjid untuk sholat dhuhur, dalam jalan kaki saya, saya masih memikirkan apa yang diajarkan barusan......hanya masalah ember isi air loh, GAK LEBIH.

GIMANA AIR YANG ADA DI EMBER KAMU ??????

Minggu, 22 Agustus 2010

pelajaran dari dalam pasar.....jilid 1

Beberapa saat yang lalu sowan kepada sesepuh di Imogiri Bantul Jogjakarta, saya pingin tahu tentang apa sih sebetulnya laku prihatin menurut Jawa. Dengan segenggam dasar tentang llaku prihatin (: baca ibadah) menurut Islam telah saya pegang kuat-kuat, dengan harapan, bila saya nantinya mendapatkan ilmu baru, saya akan bisa dengan mudah membedakan apakah ini bid'ah, ataukah sudah masuk ke dalam ranah syirik (insyaALLAH tidak).

Tapi satu yang membuat saya heran, beliau tidak mau memberikan pelajaran itu pada saya (: padahal hari-hari sebelumnya saya diberikan langsung beberapa ilmu tentang kejawen dari beliau), tapi beliau malah memberikan nama dimana saya bisa belajar sama dia........aneh nya lagi saya harus menemuinya di pasar beringharjo, tidak boleh dirumahnya.

Gusti Paino namanya, seorang pedagang di pasar beringharjo yang memiliki tinggi orang ini sekitar 168 cm dengan tubuh gempal dan kumis yang ringan menempel diatas bibirnya, orangnya cukup sederhana dan tidak terkesan dia memiliki ilmu yang saya cari itu, konsepsi tentang apa itu laku prihatin, sebab orang ini termasuk gemuk menurut ukuran saya. Dengan beralaskan koran yang mungkin sudah sobek sobek karena panasnya pantat, dia membuka pertanyaan, "pingin tau apa mas.........". Saya malah bingung, tapi saya beranikan bertanya tentang konsepsi dasar tentang laku prihatin.

Dan inilah penjabaran beliau.......

Prihatin, kata beliau adalah suatu niatan kita untuk membuat pedih hati kita (Perih ing Batin), dengan apa kita buat pedih hati kita, kita coba membuat batasan-batasan dan mengurangi sesuatu yang kita sukai, baik itu makanan, minuman, bahkan hobi kita. Jadi, sebelum kita memulai laku prihatin, kita harus tahu apa yang sebetulnya yang menjadi kesukaan kita, jadi gak mesti puasa aja, bisa yang lainnya, contohnya saya suka sekali sate kambing, maka saya ingin mengendalikan itu dengan tidak makan sate kambing selama 3 bulan lamanya......itu kunci pertama yang harus kita pegang.

Trus apa sih untungnya dengan laku prihatin ini, beliau menajawab, dengan laku prihatin maka orang tersebut akan senantiasa pedih hatinya. Layaknya tangan kita terluka kena pisau, maka luka itu akan sangat pedih bila ditetesi air garam (: padahal tangan yang sehat tidak akan pedih dengan air garam), layaknya kaki yang kena knalpot akan nyeri kalau dipegang dengan kuat (: padahal kaki yang tidak luka, tidak akan perih bila dicubit sekalipun). Begitu juga dengan hati kita, kita akan lebih bisa mengolah bowo roso dengan membuat 'luka' dihati ini, hati kita akan lebih peka terhadap perubahan disekitar kita......kunci kedua yang harus saya pegang.

itu tujuannya kah, beliau jawab itu bukan final destinationnya.

Trus apa final destination dari prihatin ini, laku prihatin ini hanyalah syarat untuk naik ke sebuah kendaraan, kendaraan ini mensyaratkan orang yang menumpang kendaraan itu harus memiliki kesensitifan hati yang tinggi, olah bowo roso yang tinggi, untuk apa, untuk membaca apa yang diinginkan oleh pengemudi dari kendaran itu. Sebab, dengan kita tahu apa keinginan pengemudi, batasan dan anjurannya, maka kita akan diperbolehkan terus ada di dalam kendaraan ini sampai tujuan akhir nanti. Saya bertanya, siapakah pengemudi kendaraan ini, beliau menjawab GUSTI ALLAH.

Sambil beliau menyodorkan teh dengan gula batu saya teruskan diskusi saya.......

Saya trus bertanya, apakah dengan prihatin ini kita akan menjadi lemah, beliau tidak menjawab tapi beliau mengambil bola pingpong. Dengan papan kayu, beliau pantulkan bola pingpong itu ke lantai dan dipukul sekali. Awalannya beliau berdiri diatas kursi, jarak lantai dengan papan kayu sekitar 2 meter. Saya lihat bola pingpong memantul dengan pelan, sebab saya tahu Gusti Paino hanya menahan laju bola pingpong itu dengan papan kayu, tidak memukulnya lagi......sehingga lama-lama,sebetulnya, bola pingpong itu sudah tidak meyentuh papan kayu lagi, akan tetapi tetap bergerak turun walau tidak menyentuh papan kayu.

Sesaat kemudian Gusti Paino turun dari kursinya dan papan kayu tersebut juga turun secara lurus vertikal, pertama-tama papan kayu mulai mengenai bola pingpong yang memantul lantai - papan kayu (: ya sekarang bola pingpong mengenai papan kayu lagi). Setelah itu papan kayu diturunkan lagi oleh Gusti Paino, kira-kira 1 meter dari lantai, saya lihat pantulan bola pingpong itu makin keras. Gusti Paino menurunkan lagi papan kayu itu, kira-kira 25 cm dari lantai, saya hampir tidak bisa melihat bola pingpong itu memantul sedemikian cepatnya antara lantai dengan papan kayu.

Setelah itu beliau bilang, hati kita itu seperti papan kayu sementara roso (perasaan) kita seperti bola pingpong yang memantul, bila hati (:papan kayu), dimana rasa diolah, kita biarkan dengan kemewahan dan diujo (: tetap dibiarkan melayang diatas dengan kemewahan duniawi), maka lama kelamaan seperti bola pingpong itu, yang melemah dan tidak mau menyentuh papan kayu (: hati kita) itu. Hati kita tidak akan bisa merasakan lagi, orang jawa bilang ndableg......

Tapi kalau kita coba kekang sedikit demi sedikit nafsu atau keinginan kita, maka seperti papan kayu yang diturunkan secara vertikal tadi, pertama-tama hati ini akan bisa merasakan kembali walau sangat lemah, seperti papan itu tersentuh kembali oleh bola pingpong yang telah melemah pantulannya, bahkan pantulan bola pingpong itu bisa menguat kembali dengan kita menurunkan papan kayunya, begitu juga dengan perasaan kita, perasaan kita akan kembali menguat ketika kita mengekang segala hawa nafsu.........kunci ketiga yang saya genggam kencang.

Apakah olah roso ini membuat kita lemah, TIDAK, coba kita lihat, apa yang terjadi bila jarak papan kayu dengan lantai hanya 25 cm, pantulan bola pingpong cukup cepat antara lantai - papan kayu. Bila papan kayu dengan mendadak ditarik, menghindari bola pingpong, maka bola pingpong itu ternyata akan terpantul tinggi sekali, bahkan bisa melampaui 3 meter tingginya (: padahal dipukul pertama tadi hanya dari ketinggian 2 meter loh). Inilah kekuatan sesungguhnya dari oleh bowo roso yang berpusat di hati kita..........kunci keempat yang saya camkan.

Orang yang senantiasa mengolah hatinya sedikit demi sedikit turun seperti papan kayu itu akan senantiasa merasakan desakan yang kuat oleh bola pingpong yang memantul, dengan menurunkan papan kayu itu maka energi kinetik dari bola pingpong akan naik bahkan bisa mencapai delapan atau puluhan kali lipat dari posisi papan kayu yang pertama. Kekuatan inilah yang dimiliki oleh orang-orang yang dapat mengendalikan hawa nafsunya.

Nah, apakah ini melanggar aturan agama yang saya anut (: Islam), menurut saya kok TIDAK. Tujuan akhir dari laku prihatin adalah mendekatkan diri kepada pengemudi kendaraan (: Gusti ALLAH), sementara ibadah-ibadah di dalam agama saya juga bertujuan yang sama.

Trus kenapa kita memandang sebelah mata terhadap laku prihatin ini, tidak ada yang bertentangan kalau seperti yang dipaparkan Gusti Paino itu. Jangan-jangan hanya ego kita aja, agar kita tetap bisa merasakan enaknya keglamoran duniawi sehingga mengatakan laku prihatin itu syirik, tabiat orang-orang musyrik, jadul dan kuno..........

Sore telah merayap masuk ke sela-sela pasar ketika Gusti Paino mengajak saya keluar dari pasar, satu pelajaran saya peroleh di dalam pasar hari itu, sungguh pelajaran yang tidak diajarkan di bangku-bangku sekolah, telah lahir dari seorang Paino.

Minggu, 20 Juni 2010

siapa itu SARIDIN.......

Saat era Walisongo, di suatu daerah di pesisir utara pulau Jawa, tepatnya di daerah Pati, tersebutlah seorang pemuda desa yang lugu dan bersahaja, bernama Saridin.

Nama Saridin mungkin tidak begitu tenar secara nasional, tapi sudah melegenda secara regional. Region itu adalah wilayah Demak Kudus Pati Juwono Rembang, atau yang sering dilafadzkan sebagai Anak Wedus Mati Ketiban Pedang.

Saridin seorang sakti, namun lugunya tidak ketulungan, sehingga (seakan) tidak menyadari kesaktiannya.

Dia pernah membunuh kakak iparnya, yang bernama Branjung, karena sang kakak sering mencuri durian miliknya. Saat itu kakaknya menyamar menggunakan pakaian harimau, sehingga Saridin tidak mengenali. Dengan sekali tombak, matilah sang kakak ipar.

Saat ditanya oleh petugas, Saridin mengaku tidak membunuh kakaknya, melainkan membunuh harimau yang mencuri duriannya. Meskipun jika pakaian harimau dibuka, Saridin tau bahwa itu kakak iparnya.

Kalo secara hukum, Saridin tidak bersalah, karena membela miliknya, dan tidak menyadari kalo harimau itu adalah kakaknya.

Namun demikian, Saridin tetap harus dipenjara.

Untuk memasukkan ke penjara bukan hal mudah, karena Saridin ngotot tidak bersalah. Akhirnya Adipati Jayakusuma, pemimpin pengadilan, menggunakan kalimat lain, bahwa Saridin tidak dipenjara, melainkan diberi hadiah sebuah rumah besar, diberi banyak penjaga, makan disediakan, mandi diantarkan. Akhirnya Saridin bersedia.

Sebelum dipenjara, Saridin bertanya apakah boleh pulang kalo kangen anak dan istrinya. Petugas menjawab: "boleh, asal bisa". Dan terbukti beberapa kali Saridin bisa pulang, keluar dari penjara di malam hari dan kembali lagi esok harinya.

Karena Adipati jengkel, Saridin dikenai hukuman gantung. Tapi saat digantung para petugas tidak mampu menarik talinya karena terlalu berat. Saridin menawarkan ikut membantu, dijawab oleh Adipati: "boleh, asal bisa". Dan karena ijin itu Saridin lepas dari talinya, lalu ikut menarik tali gantungan.

Adipati semakin murka, dan menyuruh membunuh Saridin saat itu juga. Sebuah tindakan putus asa seorang penguasa. Saridin melarikan diri sampai ke Kudus, yang lalu berguru pada Sunan Kudus. Di sini Saridin tidak berhenti menunjukkan kesaktiannya, malah semakin menonjol.

Saat disuruh bersyahadat oleh Sunan Kudus, para santri lain memandang remeh pada Saridin, apa mungkin Saridin bisa mengucapkannya dengan benar.

Tapi yang terjadi sungguh di luar dugaan semua orang. Saridin justru lari, memanjat pohon kelapa yang sangat tinggi, dan tanpa ragu terjun dari atasnya. Sampai di tanah, dia tidak apa-apa. Semua pada heran pada apa yang terjadi.

Sunan Kudus menjelaskan, bahwa Saridin bukan cuma mengucapkan syahadat, tapi seluruh dirinya bersyahadat, menyerahkan seluruh keselamatan dirinya pada kekuasaan tertinggi. Kalo sekedar mengucapkan kalimat syahadat, anak kecil juga bisa.

Namun Saridin masih tetap dilecehkan oleh para santri. Saat ada kegiatan mengisi bak air untuk wudlu, Saridin bukannya diberi ember, malah diberi keranjang. Tapi dengan keranjang itu pula Saridin bisa mengisi penuh bak air.

Saat Saridin mengatakan bahwa semua air ada ikannya, tidak ada yang percaya. Akhirnya dibuktikan, mulai dari comberan, air kendi sampai air kelapa, ketika semua ditunjukkan di depan Saridin, semua ada ikannya.

Karena kesombongannya itu akhirnya Saridin diusir keluar dari Kudus.

Sunan Kudus pun meminta Saridin meninggalkan perguruan Kudus dan tak boleh lagi menginjakkan kaki di bumi Kudus. Vonis itu membuat Saridin kembali berulah. Dia unjuk kebolehan.

Tak tanggung-tanggung, dia masuk ke lubang WC dan berdiam diri di atas tumpukan ninja. Pagi-pagi ketika ada seorang wanita di lingkungan perguruan buang hajat, Saridin berulah. Dia memainkan bunga kantil, yang dia bawa masuk ke lubang WC, ke bagian paling pribadi wanita itu.

Karena terkejut, perempuan itu menjerit. Jeritan itu hingga menggegerkan perguruan. Setelah sumber permasalahan dicari, ternyata itu ulah Saridin. Begitu keluar dari lubang WC, dia dikeroyok para santri yang tak menyukainya. Dia berupaya menyelamatkan diri. Namun para santri menguber ke mana pun dia bersembunyi.

Singkat cerita (susunannya agak lupa), Saridin yang ternyata murid dari Sunan Kalijaga ini bertemu lagi dengan gurunya. Saridin diperintahkan untuk bertapa di lautan, dengan hanya dibekali 2 buah kelapa sebagai pelampung. Tidak boleh makan kalo tidak ada makanan yang datang, dan tidak boleh minum kalo tidak ada air yang turun.

Pada akhirnya, Saridin dikenal sebagai Syeh Jangkung, yang tinggal di desa Landoh, Kajen Pati.

Ada yang pernah dengar tentang "Lulang Kebo Landoh"......dari sini cerita itu muncul.

Juga mengenai kerbau milik Saridin, yang semula sudah mati, tapi karena (konon) Saridin memberikan sebagian umurnya pada kerbau itu, jadinya kerbau itu hidup lagi. Hingga usia Saridin uzur, kerbau itu masih tetap kuat untuk membajak di sawah. Ketika Syeh Jangkung dipanggil menghadap Yang Kuasa, kerbau tersebut harus disembelih. Yang aneh, meski sudah dapat dirobohkan dan pisau tajam digunakan menggorok lehernya, ternyata tidak mempan.

Bahkan, kerbau itu bisa kembali berdiri. Kejadian aneh itu membuat Momok memberikan senjata peninggalan Branjung. Dengan senjata itu, leher kerbau itu bisa dipotong, kemudian dagingnya diberikan kepada para pelayat.

Lulang (kulit) kerbau tersebut diyakini memiliki kekuatan magis. Barang siapa membawanya, maka tidak akan mempan senjata. Sampai saat ini para kolektor benda antik masih banyak yang memburu kulit ini, yang bernama Lulang Kebo Landoh.

Terlepas dari kisah mistis yang terjadi, satu hal yang dapat aku tarik dari kisah Saridin, keluguan justru menghasilkan pandangan yang tulus dan murni. Tidak seperti Adipati Jayakusuma dan Sunan Kudus, yang setiap keputusannya dibarengi dengan banyak kepentingan.

Kamis, 17 Juni 2010

apakah sabda raja itu masih berlaku.......???

Nama beliau sebelum naik tahta adalah Bendara Raden Mas Musteyo lahir pada tanggal 4 Februari 1839

Hamengkubuwono VII (4 Februari 1839 - 1921) adalah nama salah seorang raja di Kesultanan Yogyakarta. Pada masa kepemimpinan Hamengkubuwono VII, banyak didirikan pabrik gula di Yogyakarta, seluruhnya berjumlah 17 pabrik. Setiap pendirian pabrik memberikan peluang pada Sultan untuk menerima dana sebesar Rp.200.000,00. Hal ini mengakibatkan Sultan sangat kaya sehingga sering dijuluki Sultan Sugih.

Masa kepemimpinannya juga merupakan masa transisi menuju modernisasi di Yogyakarta. Banyak sekolah modern didirikan dan karenanya putra-putranya diharuskan mengenyam pendidikan modern, bahkan hingga ke negeri Belanda.

Tahun 1920 dalam usia 80 tahun, Sultan turun tahta dan mengangkat putra mahkotanya sebagai penggantinya.

Konon turun tahtanya Hamengkubuwono VII masih dipertanyakan keabsahannya karena putera mahkota yang seharusnya menggantikan Hamengkubuwono VII secara tiba-tiba meninggal dunia dan sampai saat ini belum jelas sebab akibat kematiannya . Dicurigai adanya keterlibatan pihak belanda yang tidak setuju dengan pengangkatan putera Mahkota pengganti ayahanda Hamengkubuwono VII yang notabene selalu melawan aturan-aturan yang dibuat oleh Belanda.

Biasanya dalam pergantian tahta raja kepada putera mahkota menunggu sampai sang raja atau ayahanda meninggal dunia tetapi dalam sejarah ini berbeda karena pergantian Hamengkubuwono VII ke Hamengkubuwono VIII sang ayah masih hidup, bahkan menurut cerita masa lalu sang ayah di asingkan oleh anaknya pengganti putera mahkota yang wafat ke Keraton diluar keraton Jogyakarta.

Dengan besar hati Hamengkubuwono VII mengikuti kemauan sang anak (mikul dhuwur mendem djero) yang secara politis telah menguasai kondisi didalam pemerintahan kerajaan, Didalam pengasingannya sang Raja pernah bersabda " Tidak pernah ada Raja yang mati di keraton setelah saya" kita tidak tau maksud dari perkataan raja tetapi yang jelas raja Hamengkubuwono VIII meninggal dunia di tengah perjalanan di luar kota dan Hamengkubuwono IX meninggal di Amerika Serikat.Karena kepercayaan masyarakat Jawa tempo dulu suatu kebanggan kalo mereka meninggal di rumah sendiri .

Rabu, 16 Juni 2010

dari SITUS ini pesawat terlihat dibawah kita.....

Menyusuri jalan menuju bagian selatan kompleks Istana Ratu Boko adalah sebuah perjalanan yang mengasyikkan, terutama bagi penikmat wisata budaya. Bagaimana tidak, bangunan candi di sana bertebaran bak cendawan di musim hujan. Satu diantaranya yang belum banyak menjadi perbincangan adalah Candi Ijo, sebuah candi yang letaknya paling tinggi di antara candi-candi lain di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Candi Ijo dibangun sekitar abad ke-9, di sebuah bukit yang dikenal dengan Bukit Hijau atau Gumuk Ijo yang ketinggiannya sekitar 410 m di atas permukaan laut. Karena ketinggiannya, maka bukan saja bangunan candi yang bisa dinikmati tetapi juga pemandangan alam di bawahnya berupa teras-teras seperti di daerah pertanian dengan kemiringan yang curam. Meski bukan daerah yang subur, pemandangan alam di sekitar candi sangat indah untuk dinikmati.

Kompleks candi terdiri dari 17 struktur bangunan yang terbagi dalam 11 teras berundak. Teras pertama sekaligus halaman menuju pintu masuk merupakan teras berundak yang membujur dari barat ke timur. Bangunan pada teras ke-11 berupa pagar keliling, delapan buah lingga patok, empat bangunan yaitu candi utama, dan tiga candi perwara. Peletakan bangunan pada tiap teras didasarkan atas kesakralannya. Bangunan pada teras tertinggi adalah yang paling sakral.

Ragam bentuk seni rupa dijumpai sejak pintu masuk bangunan yang tergolong candi Hindu ini. Tepat di atas pintu masuk terdapat kala makara dengan motif kepala ganda dan beberapa atributnya. Motif kepala ganda dan atributnya yang juga bisa dijumpai pada candi Buddha menunjukkan bahwa candi itu adalah bentuk akulturasi kebudayaan Hindu dan Buddha. Beberapa candi yang memiliki motif kala makara serupa antara lain Ngawen, Plaosan dan Sari.

Ada pula arca yang menggambarkan sosok perempuan dan laki-laki yang melayang dan mengarah pada sisi tertentu. Sosok tersebut dapat mempunyai beberapa makna. Pertama, sebagai suwuk untuk mngusir roh jahat dan kedua sebagai lambang persatuan Dewa Siwa dan Dewi Uma. Persatuan tersebut dimaknai sebagai awal terciptanya alam semesta. Berbeda dengan arca di Candi Prambanan, corak naturalis pada arca di Candi Ijo tidak mengarah pada erotisme.

Menuju bangunan candi perwara di teras ke-11, terdapat sebuah tempat seperti bak tempat api pengorbanan (homa). Tepat di bagian atas tembok belakang bak tersebut terdapat lubang-lubang udara atau ventilasi berbentuk jajaran genjang dan segitiga. Adanya tempat api pengorbanan merupakan cermin masyarakat Hindu yang memuja Brahma. Tiga candi perwara menunjukkan penghormatan masyarakat pada Hindu Trimurti, yaitu Brahma, Siwa, dan Whisnu.

Salah satu karya yang menyimpan misteri adalah dua buah prasasti yang terletak di bangunan candi pada teras ke-9. Salah satu prasasti yang diberi kode F bertuliskan Guywan atau Bluyutan berarti pertapaan. Prasasti lain yang terbuat dari batu berukuran tinggi 14 cm dan tebal 9 cm memuat mantra-mantra yang diperkirakan berupa kutukan. Mantra tersebut ditulis sebanyak 16 kali dan diantaranya yang terbaca adalah "Om Sarwwawinasa, Sarwwawinasa." Bisa jadi, kedua prasasti tersebut erat dengan terjadinya peristiwa tertentu di Jawa saat itu. Apakah peristiwanya? Hingga kini belum terkuak.

Mengunjungi candi ini, anda bisa menjumpai pemandangan indah yang tak akan bisa dijumpai di candi lain. Bila menghadap ke arah barat dan memandang ke bawah, anda bisa melihat pesawat take off dan landing di Bandara Adisutjipto. Pemandangan itu bisa dijumpai karena Pegunungan Seribu tempat berdiri candi ini menjadi batas bagian timur bandara. Karena keberadaan candi di pegunungan itu pula, landasan Bandara Adisutjipto tak bisa diperpanjang ke arah timur.

Setiap detail candi menyuguhkan sesuatu yang bermakna dan mengajak penikmatnya untuk berefleksi sehingga perjalanan wisata tak sekedar ajang bersenang-senang. Adanya banyak karya seni rupa hebat tanpa disertai nama pembuatnya menunjukkan pandangan masyarakat Jawa saat itu yang lebih menitikberatkan pada pesan moral yang dibawa oleh suatu karya seni, bukan si pembuat atau kemegahan karya seninya.

Minggu, 30 Mei 2010

bisakah kita seperti ini.......

Berkata Abdullah bin Mubarak Rahimahullahu Ta'ala :
Saya berangkat menunaikan Haji ke Baitullah Al-Haram, lalu berziarah ke makam Rasulullah sallAllahu 'alayhi wasallam. Ketika saya berada disuatu padang pasir yang sangat panas dan sunyi, tiba-tiba saya melihat sesosok tubuh berpakaian yang dibuat dari bulu berjalan sendirian. Ternyata ia adalah seorang ibu yang sudah tua. Saya berhenti sejenak seraya mengucapkan salam untuknya. Terjadilah dialog dengannya beberapa saat.
Dalam dialog tersebut wanita tua itu , setiap kali menjawab pertanyaan Abdulah bin Mubarak, dijawab dengan menggunakan ayat-ayat Al-Qur'an.
Abdullah : "Assalamu'alaikum warahma wabarakaatuh."
Wanita tua : "Salaamun qoulan min robbi rohiim." (QS. Yaasin : 58) (artinya : "Salam sebagai ucapan dari Tuhan Maha Kasih")
Abdullah : "Semoga Allah merahmati anda, mengapa anda berada di tempat ini?"
Wanita tua : "Wa man yudhlilillahu fa la hadiyalahu." (QS : Al-A'raf : 186 ) ("Barang siapa disesatkan Allah, maka tiada petunjuk baginya")
Dengan jawaban ini, maka tahulah saya, bahwa ia tersesat jalan.
Abdullah : "Kemana anda hendak pergi?"
Wanita tua : "Subhanalladzi asra bi 'abdihi lailan minal masjidil haraami ilal masjidil aqsa." (QS. Al-Isra' : 1) ("Maha suci Allah yang telah menjalankan hambanya di waktu malam dari masjid haram ke masjid aqsa")
Dengan jawaban ini saya jadi mengerti bahwa ia sedang mengerjakan haji dan hendak menuju ke masjidil Aqsa.
Abdullah : "Sudah berapa lama anda berada di sini?"
Wanita tua : "Tsalatsa layaalin sawiyya" (QS. Maryam : 10) ("Selama tiga malam dalam keadaan sehat")
Abdullah : "Apa yang anda makan selama dalam perjalanan?"
Wanita tua : "Huwa yut'imuni wa yasqiin." (QS. As-syu'ara' : 79) ("Dialah pemberi aku makan dan minum")
Abdullah : "Dengan apa anda melakukan wudhu?"
Wanita tua : "Fa in lam tajidu maa-an fatayammamu sha'idan thoyyiban" (QS. Al-Maidah : 6) ("Bila tidak ada air bertayamum dengan tanah yang bersih")
Abdulah : "Saya mempunyai sedikit makanan, apakah anda mau menikmatinya?"
Wanita tua : "Tsumma atimmus shiyaama ilallaiil." (QS. Al-Baqarah : 187) ("Kemudian sempurnakanlah puasamu sampai malam")
Abdullah : "Sekarang bukan bulan Ramadhan, mengapa anda berpuasa?"
Wanita tua : "Wa man tathawwa'a khairon fa innallaaha syaakirun 'aliim." (QS. Al-Baqarah : 158) ("Barang siapa melakukan sunnah lebih baik")
Abdullah : "Bukankah diperbolehkan berbuka ketika musafir?"
Wanita tua : "Wa an tashuumuu khoirun lakum in kuntum ta'lamuun." (QS. Al-Baqarah : 184) ("Dan jika kamu puasa itu lebih utama, jika kamu mengetahui")
Abdullah : "Mengapa anda tidak menjawab sesuai dengan pertanyaan saya?"
Wanita tua : "Maa yalfidhu min qoulin illa ladaihi roqiibun 'atiid." (QS. Qaf : 18) ("Tiada satu ucapan yang diucapkan, kecuali padanya ada Raqib Atid")
Abdullah : "Anda termasuk jenis manusia yang manakah, hingga bersikap seperti itu?"
Wanita tua : "Wa la taqfu ma laisa bihi ilmun. Inna sam'a wal bashoro wal fuaada, kullu ulaaika kaana 'anhu mas'ula." (QS. Al-Isra' : 36) ("Jangan kamu ikuti apa yang tidak kamu ketahui, karena pendengaran, penglihatan dan hati, semua akan dipertanggung jawabkan")
Abdullah : "Saya telah berbuat salah, maafkan saya."
Wanita tua : "Laa tastriiba 'alaikumul yauum, yaghfirullahu lakum." (QS.Yusuf : 92) ("Pada hari ini tidak ada cercaan untuk kamu, Allah telah mengampuni kamu")
Abdullah : "Bolehkah saya mengangkatmu untuk naik ke atas untaku ini untuk melanjutkan perjalanan, karena anda akan menjumpai kafilah yang di depan."
Wanita tua : "Wa maa taf'alu min khoirin ya'lamhullah." (QS Al-Baqoroh : 197) ("Barang siapa mengerjakan suatu kebaikan, Allah mengetahuinya")
Lalu wanita tua ini berpaling dari untaku, sambil berkata :
Wanita tua : "Qul lil mu'miniina yaghdudhu min abshoorihim." (QS. An-Nur : 30) ("Katakanlah pada orang-orang mukminin tundukkan pandangan mereka")
Maka saya pun memejamkan pandangan saya, sambil mempersilahkan ia mengendarai untaku. Tetapi tiba-tiba terdengar sobekan pakaiannya, karena unta itu terlalu tinggi baginya. Wanita itu berucap lagi.
Wanita tua : "Wa maa ashobakum min mushibatin fa bimaa kasabat aidiikum." (QS. Asy-Syura' 30) ("Apa saja yang menimpa kamu disebabkan perbuatanmu sendiri")
Abdullah : "Sabarlah sebentar, saya akan mengikatnya terlebih dahulu."
Wanita tua : "Fa fahhamnaaha sulaiman." (QS. Anbiya' 79) ("Maka kami telah memberi pemahaman pada nabi Sulaiman")
Selesai mengikat unta itu sayapun mempersilahkan wanita tua itu naik.
Abdullah : "Silahkan naik sekarang."
Wanita tua : "Subhaanalladzi sakhkhoro lana hadza wa ma kunna lahu muqriniin, wa inna ila robbinaa munqolibuun." (QS. Az-Zukhruf : 13-14) ("Maha suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini pada kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Sesungguhnya kami akan kembali pada tuhan kami")
Sayapun segera memegang tali unta itu dan melarikannya dengan sangat kencang. Wanita tua itu berkata lagi.
Wanita tua : "Waqshid fi masyika waghdud min shoutik" (QS. Lukman : 19) ("Sederhanakan jalanmu dan lunakkanlah suaramu")
Lalu jalannya unta itu saya perlambat, sambil mendendangkan beberapa syair, Wanita tua itu berucap.
Wanita tua : "Faqraa-u maa tayassara minal qur'aan" (QS. Al- Muzammil : 20) ("Bacalah apa-apa yang mudah dari Al-Qur'an")
Abdullah : "Sungguh anda telah diberi kebaikan yang banyak."
Wanita tua : "Wa maa yadzdzakkaru illa uulul albaab." (QS Al-Baqoroh : 269) ("Dan tidaklah mengingat Allah itu kecuali orang yang berilmu")
Dalam perjalanan itu saya bertanya kepadanya.
Abdullah : "Apakah anda mempunyai suami?"
Wanita tua : "Laa tas-alu 'an asy ya-a in tubda lakum tasu'kum" (QS. Al-Maidah : 101) ("Jangan kamu menanyakan sesuatu, jika itu akan menyusahkanmu")
Ketika berjumpa dengan kafilah di depan kami, saya bertanya kepadanya.
Abdullah : "Adakah orang anda berada dalam kafilah itu?"
Wanita tua : "Al-maalu wal banuuna zinatul hayatid dunya." (QS. Al-Kahfi : 46) ("Adapun harta dan anak-anak adalah perhiasan hidup di dunia")
Baru saya mengerti bahwa ia juga mempunyai anak.
Abdullah : "Bagaimana keadaan mereka dalam perjalanan ini?"
Wanita tua : "Wa alaamatin wabin najmi hum yahtaduun" (QS. An-Nahl : 16) ("Dengan tanda bintang-bintang mereka mengetahui petunjuk")
Dari jawaban ini dapat saya fahami bahwa mereka datang mengerjakan ibadah haji mengikuti beberapa petunjuk. Kemudian bersama wanita tua ini saya menuju perkemahan.
Abdullah : "Adakah orang yang akan kenal atau keluarga dalam kemah ini?"
Wanita tua : "Wattakhodzallahu ibrohima khalilan" (QS. An-Nisa' : 125) ("Kami jadikan Ibrahim itu sebagai yang dikasihi") "Wakallamahu musa takliima" (QS. An-Nisa' : 146) ("Dan Allah berkata-kata kepada Musa") "Ya yahya khudil kitaaba biquwwah" (QS. Maryam : 12) ("Wahai Yahya pelajarilah alkitab itu sungguh-sungguh")
Lalu saya memanggil nama-nama, ya Ibrahim, ya Musa, ya Yahya, maka keluarlah anak-anak muda yang bernama tersebut. Wajah mereka tampan dan ceria, seperti bulan yang baru muncul. Setelah tiga anak ini datang dan duduk dengan tenang maka berkatalah wanita itu.
Wanita tua : "Fab'atsu ahadaku bi warikikum hadzihi ilal madiinati falyandzur ayyuha azkaa tho'aaman fal ya'tikum bi rizkin minhu." (QS. Al-Kahfi : 19) ("Maka suruhlah salah seorang dari kamu pergi ke kota dengan membawa uang perak ini, dan carilah makanan yang lebih baik agar ia membawa makanan itu untukmu")
Maka salah seorang dari tiga anak ini pergi untuk membeli makanan, lalu menghidangkan di hadapanku, lalu perempuan tua itu berkata :
Wanita tua : "Kuluu wasyrobuu hanii'an bima aslaftum fil ayyamil kholiyah" (QS. Al-Haqqah : 24) ("Makan dan minumlah kamu dengan sedap, sebab amal-amal yang telah kamu kerjakan di hari-hari yang telah lalu")
Abdullah : "Makanlah kalian semuanya makanan ini. Aku belum akan memakannya sebelum kalian mengatakan padaku siapakah perempuan ini sebenarnya."
Ketiga anak muda ini secara serempak berkata :
"Beliau adalah ibu kami. Selama empat puluh tahun beliau hanya berbicara mempergunakan ayat-ayat Al-Qur'an, hanya karena khawatir salah bicara."
Maha suci zat yang maha kuasa terhadap sesuatu yang dikehendakinya. Akhirnya saya pun berucap :
"Fadhluhu yu'tihi man yasyaa' Wallaahu dzul fadhlil adhiim." (QS. Al-Hadid : 21) ("Karunia Allah yang diberikan kepada orang yang dikehendakinya, Allah adalah pemberi karunia yang besar")

Rabu, 19 Mei 2010

Kyai Sukmo Cinarito

Namanya cukup simpel Kyai Sukmo Cinarito. Keris ini memang terpegang pertama oleh saya, sehingga tidak ada imbuhan Kanjeng, sebelum kata Kyai. Makna Kanjeng, itu berarti bahwa keris atau sejenis tosan aji tersebut adalah pemberian dari seseorang, baik itu ayah, ibu, sodara, dukun, atau seorang yang memiliki harkat dan martabat diatas kita. Sukmo Cinarito, keinginan dari nama itu adalah bagaimana sebuah sukma dapat bercerita tentang isi dan keinginan yang terpendam.

Dari beberapa senior perkerisan, keris ini memiliki dapur Carito Kasapto (tujuh tahapan masuk surga/nirwana). Tujuh tahapan tersebut adalah roh, masa di dalam kandungan, masa anak-anak, masa remaja, masa dewasa, masa tua, dan mati. Begitulah dapur ini menerangkan bagaimana susunan seseorang untuk mencapai derajat kesempurnaan di nirwana.

Keris ini berpamor karawelang. Karawelang adalah sejenis ular yang memiliki pattern seperti ulang belang (Bungarus fasciatus). Layaknya ular tersebut, dia lentur dan tidak kaku dalam menghadapi segala rintangan yang akan di laluinya, fleksibilitas dalam SWOT analisis. Dia menyimpan senjata (bisa) untuk kondisi yang amat sangat mendesak, karena dia sadar bisa yang ada di kantung bisa nya hanyalah sedikit sekali, suatu persiapan yang sempurna. Dan liatlah ulang belang itu, bila amat sangat terdesak maka dia akan mengeluarkan pheromon untuk menarik ular yang lain datang, tanpa pandang jenis dari ular apa dia, suatu network yang bagus. Itulah sebabnya kenapa leluhur kita membuat pattern/pamor pada keris salah satunya adalah karawelang, keluwesan-kekuatan-kewibawaan-network, itu yang mau tanamankan.

Pendok model bunton. Pendok dengan model ini digunakan untuk beberapa keris yang peruntukannya adalah untuk keseharian, peperangan dan pengabdian, bukan untuk seremonial dan pisowanan, walaupun ada beberapa yang menggunakan untuk pisowanan. Pendok bunton ini diukir dengan kembang asem. Kembang asem di jawa disebut sinom, dan sesuai perwatakan jawa, pengulangan suku kata terakhir adalah candrasengkala, nom-noman. Dengan maksud, keris ini haruslah dipegang oleh seseorang yang memiliki jiwa dan semangat layaknya pemuda yang selalu berkobar-kobar, pantang menyerah menghadapi segala rintangan yang ada.

Pada atas ukiran terdapat markah 'abu afa', dengan huruf arab, berarti keris ini pertama kali dipegang oleh ayah dari si-afa (anak saya). Dan pada sisi belakang dari pendok ini ada kinatah ayat al-qur'an surat al-hadiid ayat 25 '....dan AKU ciptakan besi ini agar bermanfaat bagi manusia......'. Semoga sesuai dengan ayat tersebut, keris ini mampu mendatangkan manfaat yang besar bagi pemegangnya.

Deder keris ini memilih model puteri kinurung. Harapan pemegang/penggenggam deder ini nantinya selalu dilindungi ALLAH SWT seperti layaknya seorang puteri yang dikurung oleh seorang raja, yang tidak lain dan tidak bukan dengan maksud melindunginya. Pola buto di punggung deder, dalamnya patra ageng, patra gandul melambangkan dalamnya niatan tuk menjalani tahapan-tahapan dalam menuju nirwana.

Warangka dengan model gayaman adalah warangka yang dikhususkan untuk harian, sebuah do'a yang dipanjatkan tiap hari untuk sang Khaliq. Kayu yang dipakai untuk warangka adalah kayu cendana, dengan harapan dalam menjalani ketujuh tahapan tersebut insyaALLAH selalu dalam harumnya surga dan nafas ilahi.......

Amien.

Rabu, 21 April 2010

ini untuk adik asuh......

Ada permintaan dari adik asuh saya untuk mengupas apa sebetulnya "Asta brata" yang pernah diajarkan oleh Sunan Kalijaga yang tergabung dalam ajaran tentang "Cupu Manik Astagina".

Permintaan penerangan ini sebetulnya diminta untuk seseorang yang benar-benar ingin untuk menjadi pimpinan dan inginkan kemajuan diri baik pada tataran syari'at maupun ma'rifat. Kedua hal ini diajarkan pada asta-brata yang seringkali dilupakan ketika seorang memimpin sesuatu, dan bahkan seorang bayi pun adalah pemimpin untuk jiwa dan raganya (itu minimal).

Kedelapan nya digambarkan sebagai berikut :

1. Wanita: wanita,
2. Garwa; jodoh
3. Wisma : rumah
4. Turangga : kuda tunggangan
5. Curiga : keris, atau senjata
6. Kukila : burung berkutut
7. Waranggana : ronggeng- penari wanita
8. Pradangga : gamelan-bebunyian berirama

Orang atau pemimpin yang utama harus memiliki (mengalami) delapan hal tersebut diatas.Banyak orang yang salah paham, berusaha mempunyai delapan rupa tersebut dalam wujud sebenarnya. Hal demikian ini takkan terwujud. Sesungguhnya delapan hal tersebut sekadar kiasan, dan bukan berarti setiap orang harus memiliki barangnya, tetapi memiliki atau mengalami arti dan wangsitnya.

Wanita, artinya seorang perempuan, yang elok dan cantik, siapapun yang melihat pasti ingin memilikinya. Maka yang dimaksud dengan wanita ini adalah suatu keindahan, sebuah cita-cita yang tinggi. Agar cita-cita itu dapat tercapai, maka orang perlu berusaha sekuat tenaga, belajar, tirakat dan sebagainnya, sebagaimana seorang pemuda yang ingin menggaet dan memiliki gadis cantik.

Garwa, artinya jodoh, suami istri, yang sehati. Garwo sering diartikan sigaraning nyawa, belahan jiwa, jiwa satu dibelah dua atau dua badan satu nyawa. Jadi garwa mengandung arti bahwa setiap orang harus dapat menyesuaikan diri, bisa bergaul dengan siapapun, semua orang dianggap sebagai kawan, hidup rukun dan damai, mencintai sesama, tidak membeda-bedakan orang. Semuanya dianggap sebagai garwa, teman sehidup semati.

Wisma, artinya rumah. Rumah adalah tempat berlindung memiliki ruangan yang luas berpetak-petak untuk menyimpan aneka macam barang. Semuannya dapat dimasukkan kedalam rumah. Demikianlah, setiap orang hendaknya bersifat rumah, yakni dapat menerima siapapun dan membutuhkan perlindungan, sanggup menyimpan dan mengatur segala sesuatu, pun dapat mengeluarkan pikiran dan bertindak bijaksana dan teratur menurut tempat, waktu dan kedaannya.

Turangga, berarti kuda tunggangan, yang kuat dan bagus. Kuda tunggangan bisa berlari cepat, bisa berlari pelan, bisa berjalan sambil menari-nari. Sebaliknya kuda tunggangan juga bisa berlari cepat dengan arah yang tak menentu, bisa terguling kedalam jurang, tergantung orang yang memegang tali kekang. Demikian halnya diri: badan jasmaniah, panca indra dan nafsu kita merupakan kuda tunggangan. Sedangkan jiwa adalah pengendaranya. Bila jiwa dapat menguasai, mengatur dan mengekang diri, maka pergaulan hidup kita akan teratur dengan baik. Sebaliknya, bila jiwa tak dapat menguasai diri, maka hidup kita akan seperti kuda tunggangan yang liar, berlari kesana kemari dan akhirnya tergelincir.

Curiga, artinya keris, senjata tajam yang dipuja-puja. Maka perlulah tiap orang terutama para pemimpin memiliki persenjataan hidup yang lengkap, kepandaian, keuletan, ketangkasan dan lain-lain. Begitu pula pikiran harus tajam, mampu menebak dengan dengan tepat, agar dapat bertindak tepat pula untuk kebahagiaan masyarakat.

Kukila, artinya burung, burung berkutut yang dipelihara di Jawa, untuk didengarkan suaranya, yang merdu, enak didengar, menentramkan sanubari. Demikianlah, setiap kata yang keluar dari mulut hendaknya enak didengar, lemah lembut, menentramkan orang yang mendengarkannya. Setiap kata yang keluar harus tegas dan bersifat memperbaiki dan membangun, agar siapapun yang mendengar bisa terpikat dan mengindahkannya.

Waranggana, artinya tandak atau ronggen, untuk pandangan waktu menari. Pada zaman dewa-dewa, ini disebut Lenggot-bawa. Peraturannya seperti ini : seorang warangga menari di tengah kerumunan orang, bersama seorang lelaki yang ikut menari. Diempat penjuru ada penari laki-laki yang menari, seakan-akan ikut menggoda si waranggana agar memalingkan mukanya dari yang lelaki yang tengah menari. Makna gambaran di atas adalah: dalam usaha meraih cita-cita yang muliah ( waranggana), pasti akan banyak kita jumpai godaan yang mencoba menghalang-halangi pencapaian cita-cita tersebut.

Semoga bermanfa'at, jika masih belum jelas, bisa ketemu di Rebo Kliwonan nanti.....he3x.

Minggu, 21 Maret 2010

KK Pancer Rogo lan KK Pathok Rogo

Beberapa saat yang lalu, sebelum saya menyelesaikan studi S-2 tentang Bioteknologi terapannya pada bidang forensik, saya dipanggil salah seorang sesepuh dari salah satu masjid pathok negoro. Saya kenal beliau di salah satu kegiatan kelompok kejawen di daerah Imogiri, Bantul Jogja.....

Saat ditimbali tersebut, saya disuruh duduk didalam langgarnya, memang saya datang sekitar pukul 14, beliau masih wiridan di dalam langgar. Ketika waktu ashar tiba, saya diminta untuk mengimami beliau (padahal beliau sebetulnya lebih pantas sebagai imam daripada saya), setelah sholat ashar selesai beliau baru mengutarakan maksudnya memanggil saya ke kediaman beliau.

Beliau memberikan tongkat kepada saya, setelah saya amati tongkat itu berupa tombak, beliau bilang, inilah Kanjeng Kyai Pathok Rogo. Tingginya tidak lebih dari sekitar 120 cm saja. Memang saya lihat beliau beberapa kali kemana-mana membawa tombak ini. Karena saya memang hobi tosan aji, wah lumayan pikir saya.

Tombak dengan dapur dong pring ini berpamor wos wutah wengkon, irasnya tidak methuk (gabung dengan wilah tombak) dengan pamor buntel mayit. Masih pada irasnya ada ornamentasi kembang cempoko berjumlah empat yang tiga diantaranya seresah emas (bukan kinatah emas, jadi ini dikuaskan, bukan ditatah emasnya).

Setelah itu beliau memberikan wejangan, bahwa bukan tombak ini yang memberikan ilmu dengan penuh filosofi, akan tetapi setelah tombak ini saya pegang nantinya, saya akan mendapatkan tombak lagi yang penuh dengan ajaran ketaqwaan yang harus saya jalani, itulah yang beliau sebut dengan Kanjeng Kyai Pancer Rogo. Saya malah bingung, tapi benar setelah sepasar saya memegang tombak itu, entah ini kebetulan atau apa, dipinggir jalan jogja-semarang di daerah bedono ambarawa, saya menemukan sebilah tombak, tanpa landeyan (tongkatnya).

Tombak itu berdapur dong pring (tapi lebih gagah), dengan pamor wos wutah wengkon juga, akan tetapi tombak ini memiliki pamor tambal. Pamor tambal itu tiga buah dan masing-masing pamor pada tambalannya adalah buntel mayit. Irasnya masih dengan pamor buntel mayit yang nyata, bukan pitrang lagi........

Trus, paginya saya sowan kepada sesepuh tersebut, saya tanyakan apa makna dari tiga pamor tambal itu, dan kenapa harus dengan pamor buntel mayit di dalam tambalannya. Beliau bilang ada tiga titik dalam tubuh kita yang harus ditambal, dikendalikan bahkan ditutup sampai kita dibuntel seperti mayit. Ketiga nya adalah otak, hati dan kelamin......dan ini jabaran beliau (materinya sama seperti yang saya dapatkan dari Prof Damarjati, tapi ini lebih mengupas tentang 'buku' yang ada di dalam tombak saya ini).

Kang ana sajroning sirah iku dimak, yaiku utek, kang ana antaraning utek iku manik, sajroning manik iku budi, sajroning budi iku napsu, sajroning napsu iku suksma, sajroning suksma iku rahsa, sajroning rahsa iku INGSUN......baitul makmur.

Kang ana sajroning dhadha iku ati, kang ana antaraning ati iku jantung, sajroning jantung iku budi, sajroning budi iku jinem , yaiku angen-angen, sajroning angen-angen iku suksma, sajroning suksma iku rahsa, sajroning rahsa iku INGSUN......baitul mukarrom

Kang ana sajroning konthol iku prinsilan, kang ana ing antaraning pringsilan ikku nutpah, yaiku mani, sajroning mani iku madi, sajroning madi iku wadi, sajroning wadi iku manikem, sajroning manikem iku rahsa, sajroning rahsa iku INGSUN......baitul muqodas

Sepasar setelah saya sowan itu, beliau meninggal dunia........

Saya tidak ingin mengedepankan bagaimana caranya saya mendapatkan dua bilah tombak ini, tapi saya ingin mengajak bahwa tombak ini memberikan kepada saya sebuah pengajaran yang berharga dan masih layak untuk diteladani bagi kita semua.

Selasa, 02 Maret 2010

Putri Cempa ibunda Raden Patah......

Tidak banyak yang mengenal apalagi mengetahui sejarah hidup Darwati
(Dharawati), seorang Putro Jeumpa yang secara tidak langsung bertanggungjawab atas penaklukkan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit. Sejarah agung kehidupannya dapat dikenal dengan mengungkap misteri keberadaan seorang putri yang di tanah Jawa di kenal dengan ”Putri Champa”.

Putri Champa” biasanya dihubungkan dengan istri Prabu Brawijaya V yang dalam Babad Tanah Jawi, disebutkan bernama Anarawati atau Dwarawati (Darawati) yang beragama Islam.
Putri inilah yang melahirkan Raden Fatah, yang kemudian menyerahkan pendididikan putranya kepada salah seorang keponakannya yang lahir di Pasai yang dikenal dengan Sunan Ampel (Raden Rahmat) di Ampeldenta Surabaya.

Sejarah mencatat, Raden Fatah menjadi Sultan pertama dari Kerajaan Islam Demak, Kerajaan Islam pertama di tanah Jawa yang mengakhiri sejarah kegemilangan Kerajaan Jawa- Hindu Majapahit.

Menurut Gubernur Jendral Hindia Belanda dari Kerajaan Inggris yang juga seorang peneliti sosial, Sir T.S. Raffles dalam bukunya The History of Java menyebutkan bahwa Champa bukan terletak di Kambodia, tapi Champa adalah nama daerah di sebuah wilayah di Aceh, yang terkenal dengan nama ”Jeumpa”.

Champa adalah ucapan atau logat Jeumpa dengan dialek ”Jawa”, karena penyebutannya inilah banyak ahli yang keliru dan mengasosiasikannya dengan Kerajaan Champa di wilayah Kambodia dan Vietnam sekarang.
Jeumpa yang dinyatakan Raffles sekarang berada di sekitar daerah Kabupaten Bireuen, Aceh.

Keadaan Jeumpa di sebelah barat pada masa kegemilangan Kerajaan Pasai menjadi jalur laluan dan peristirahatan menuju kota besar seperti Barus, Fansur dan Lamuri dari Pasai ataupun Perlak. Kerajaan Pasai adalah pusat pengembangan dan dakwah Islam yang memiliki banyak ulama dan maulana dari seluruh penjuru dunia.
Sementara para sultan adalah diantara yang sangat gemar berbahas tentang masalah-masalah agama. Di istananya berkumpul sejumlah ulama besar dari Persia, India, Arab dan lain-lain, sementara mereka mendapat penghormatan mulia dan tinggi.
Dan Sejarah Melayu menyebutkan bahwa ”segala orang Samudra (Pasai) pada zaman itu semuanya tahu bahasa Arab.

Jeumpa terkenal dengan putri putrinya yang cerdas dan cantik jelita, buah persilangan antara Arab-Parsi-India dan Melayu, yang di Aceh sendiri sampai saat ini terkenal dengan Buengong Jeumpa, gadiscantik putih kemerah-merahan.

Sampai saat ini Jeumpa masih menyisakan kecantikan putri-putrinya yang sekarang berada di sekitar Kabupaten Bireuen. Pada masa kegemilangan Pasai, istilah putri Jeumpa (Champa) sangat populer, mengingat sebelumnya ada beberapa Putri Jeumpa yang sudah terkenal kecantikan dan kecerdasannya.

Putri Manyang Seuludong, Permaisuri Raja Muslim pertama Jeumpa asal Persia, Shahrianshah Salman al-Parisi, yang juga ibunda kepada Syahri Nuwi pendiri Kota Perlak.
Putri Jeumpa lainnya, Putri Makhdum Tansyuri (anak Pengeran Salman-Manyang Seuludong/Adik Syahri Nuwi) yang menikah dengan kepala rombongan Nakhoda Khalifah, Maulana Ali bin Muhammad bin Ja’far Shadik, yang melahirkan Maulana Abdul Aziz Syah, Raja pertama Kerajaan Islam Perlak.
Mereka seterusnya menurunkan Raja dan bangsawan Perlak, Pasai sampai Aceh Darussalam. Demikian pula keturunan Syahri Nuwi dari Sultan Perlak bergelar Makhdum juga disebut sebagai Putri Jeumpa, karena beliau lahir di Jeumpa.
Kecantikan dan kecerdasan putri-putri Jeumpa sudah menjadi legenda di antara pembesar-pembesar istana Perlak, Pasai, Malaka, bahkan sampai ke Jawa. Itulah sebabnya kenapa Maharaja Majapahit, Barawijaya V sangat mengidam-idamkan seorang permaisuri dari Jeumpa.

Bahkan dalam Babat Tanah Jawi, disebutkan bagaimana mabok kepayangnya sang Prabu ketika bertemu dengan Putri Jeumpa yang datang bersama dengan rombongan Maulana Malik Ibrahim dan para petinggi Pasai yang datang untuk berdakwah ke pusat Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit.

Pada masa hidup Putro Darwati dari Jeumpa, Kerajaan tempatnya tinggal di Pasai sudah menjadi pusat Islamisasi Nusantara dan sangat berkepentingan untuk menaklukkan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit karena ia adalah satu-satunya penghalang utama untuk pengislaman tanah Jawa secara menyeluruh.

Maka para sultan dan para ulama serta cerdik pandai Kerajaan Pasai telah menyusun strategi terus menerus dengan segala jaringannya untuk menaklukkan Kerajaan Jawa-Hindu ini.
Bahkan, Kekaisaran Cina pun yang telah dikuasai muslim ikut andil dalam Islamisasi ini, terbukti dengan mengirimkan Penglima Besar dan kepercayaan Kaisar yang bernama Laksamana Cheng Ho.
Jalan peperangan tidak mungkin ditempuh, mengingat jauhnya jarak antara Pasai dengan Jawa Timur sebagai pusat Kerajaan Majapahit.
Maka ditempuhlah jalan diplomasi dan dakwah para duta dari Kerajaan Pasai.
Grand Master Wali Sembilan (Aulia Sikurueng), Maulana Malik Ibrahim sebagai utusan senior para pendakwah yang berpusat di Kerajaan Pasai, menemukan sebuah cara yang dianggap bijak, yaitu melalui jalur perkimpoian. Maka dikimpoikanlah iparnya yang bernama Dwarawati atau Putri Jeumpa yang cantik jelita dan cerdas tentunya, dengan Prabu Brawijaya V, yang konon masih memeluk Hindu.

Kenapa Sang Bapak Para Wali Songo ini berani mengambil kebijakan itu. Tentu hanya Allah dan beliau yang tahu. Dan akhirnya sejarah kemudian mencatat, anak perkimpoian Putri Jeumpa Dwarawati dengan Prabu Brawijaya V, bernama Raden Fatah adalah Sultan Kerajaan Islam Demak pertama yang telah mengakhiri dominasi Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit dan Kerajaan-Kerajaan Hindu lainnya.

Mungkin pertimbangan Maulana Malik Ibrahim menikahkan iparnya Putri Jeumpa berdasarkan ijtihad beliau setelah mengadakan penelitian panjang terhadap tradisi dan budaya orang Jawa yang sangat menghormati dan patuh bongkokan kepada Raja atau Pangeran yang selama ini dianggap sebagai titisan para Dewata, sebagaimana cerita-cerita pewayangan di Jawa.
Jika ada seorang Raja atau Pangeran yang masuk Islam, maka akan mudah bagi perkembangan Islam. Karena Jawa adalah salah satu daerah yang sangat sulit diislamkan sampai saat itu, mengingat kuatnya dominasi Kerajaan Hindu Majapahit.

Itulah sebabnya, ketika Putri Jeumpa telah hamil, dia ditarik dari istana Majapahit, dihijrahkan ke wilayah Islam lainnya, kabarnya ke Kerajaan Melayu Palembang. Setelah lahir anaknya, Raden Fatah, Putri Jeumpa kembali ke Jawa Timur, tapi bukan ke istana Majapahit, tapi ke Ampeldenta Surabaya, ke tempat anak saudaranya Raden Rahmat (Sunan Ampel) untuk mendidik Raden Fatah agar menjadi pemimpin Islam.
Setelah dewasa, karena masih Raden Pangeran Majapahit, maka Raden Fatah berhak mendapat jabatan, dan beliau diangkat sebagai seorang Bupati di sekitar Demak. Saat itulah para Wali Sembilan yang sudah mapan mendeklarasikan sebuah Kerajaan Islam Demak, di Bintaro Demak, sebagai Kerajaan Islam pertama di Jawa.
Karena Raden Fatah adalah titisan Raja Majapahit, maka orang orang Jawapun dengan cepat mengikuti agamanya dan membela perjuangannya sebagaimana dicatat sejarah dalam buku Babat Tanah Jawi.

”Darwati Putro Jeumpa Penakluk Majapahit” ini adalah wanita luar biasa. Dia adalah seorang ibu yang tabah, besar hati, penyayang namun mewarisi semangat perjuangan yang tidak kalah hebat dengan wanita- wanita agung Aceh seperti Laksamana Malahayati, Tjut Nya’ Dhien, Tjut Mutia dan lainnya.
Bagaimana tidak, dia harus berpisah jauh dari lingkungannya ke tanah Jawa yang asing baginya, tiada handai tolan, hidup dilingkungan masyarakat Jawa-Hindu yang berbeda budaya dan tradisi dengan negeri asalnya, bahkan ada yang menyatakan suaminyapun masih beragama Hindu dalam tradisi Kerajaan Majapahit yang feodalis.
Namun karena para ulama-pejuang sekelas Maulana Malik Ibrahim atas dukungan para Sultan Muslim menugaskannya berdakwah dengan caranya, wanita agung inipun ikhlas melakoni peran perjuangannya.

Demi kelanjutan agamanya, dia rela meninggalkan kegemerlapan istana Majapahit sebagai permaisuri agung untuk memastikan putranya dapat pendidikan terbaik agar menjadi seorang pemimpin Islam di Jawa.

Raden Fatah kecil mendapat kasih sayang serta bimbingan ibundanya bersama para Wali yang dipimpin sepupunya Raden Rahmat (Sunan Ampel) yang juga dilahirkan di Kerajaan asal ibunya.

Putro Darwati dari Jeumpa telah sukses gemilang menjalankan tugas agamanya, dia seorang ibu pendidik agung (madrasat al-kubra), pejuang suci (mujahidah fi sabilillah), pendakwah Islam (da’i) sekaligus sebagai penyebab (asbab) keruntuhan sebuah dinasti Hindu terbesar yang menjadi lambang keagungan dan kebesaran Jawa.

Minggu, 11 Oktober 2009

empat tahapan meraih keinginan

Cara Yang Bisa Bowo Pakai Untuk Menetapkan
Tujuan Hidup:

1. Apa sebenarnya keinginan Bowo?

Tanyakan pada hati nurani, apa sebenarnya
keinginan Bowo untuk beberapa tahun ke depan?

Tidak ada salahnya Bowo bermimpi. Bowo
tidak perlu malu mengakuinya, lagipula, tokh tidak
ada biaya yang harus Bowo keluarkan untuk
sekedar bermimpi. ;-)

2. Kumpulkan informasi.

Dengan mengumpulkan informasi, Bowo
bisa lebih mudah mencapai tujuan yang diinginkan.

Jika ada orang lain yang sudah berhasil melakukan
yang Bowo inginkan, belajarlah dari mereka.
Lakukan apa yang mereka kerjakan!

3. Jangan diam.

Lakukan sesuatu dan secara terus menerus yang akan
membawa Bowo pada impian hidup yang diinginkan!

4. Tingkatkan kemampuan

Jika ada cara yang Bowo lakukan terbukti efektif
dan mendekatkan pada tujuan yang ingin dicapai,
maka alangkah baiknya jika Bowo berusaha untuk
meningkatkan kemampuan dan menambah kecepatan
kinerja agar tujuan hidup Bowo lebih cepat tercapai.

Jika keempat hal di atas Bowo lakukan secara terus
menerus tanpa lelah dan bosan, Insya-Allah Bowo
akan mendapatkan tujuan hidup yang diinginkan.

Bowo ibaratnya adalah seorang 'pemahat' atas
gambaran kehidupan Bowo sendiri. Dan seorang
pemahat yang baik akan selalu memiliki 'planning'
terlebih dahulu untuk mendapatkan hasil yang
terbaik.

Dalam hal ini, Bowo pun hanya bisa sebesar dan
sebahagia sebagaimana tujuan yang telah Bowo
tentukan. Oleh sebab itu, pahatlah diri Bowo
sebaik-baiknya!


Jumat, 11 September 2009

SIKAP KEUTAMAAN

Seperti apakah sikap-sikap keutamaan itu
Dan bagaimanakah uraian penjelasannya?
Dalam menjawab perlulah diingat
Bahwa yang ada hanyalah dugaan
Karena bukanlah kata-kata yang penting
Tetapi perilaku dalam hidupmu.

Maka sikap-sikap keutamaan itu demikian:
Sebagai pandita sikapnya bijaksana dan waskita
Saleh dan taat pada agama, mendalami sastra budaya,
Sebagai satria benar perwira dan bertata-krama
Gagah berani menjaga keselamatan masyarakat,
Sebagai pedagang semangatnya bekerja keras
Mengadakan barang dan memberi pekerjaan,
Sebagai petani sikapnya jujur, rendah-hati, dan bersahaja
Dipuji karena giat memelihara sawah dan ternak.

Satukanlah sikap kelimanya itu
Dalam hidup dan dalam pekerjaanmu, karena
Sebagai pendeta belaka, dapat melalaikan sesamanya
Sebagai satria semata, sering lupa sebab-akibat derita manusia
Sebagai pedagang saja, kerap mencari untung tanpa memberi
Sebagai petani saja, sempit cakrawalanya dan mudah ditipu.

Kuasailah dan kendalikan dirimu
Serapkan pula segala pengetahuan dan kebijaksanaan
Maka engkau akan turut mengatur dunia.

Minggu, 26 Juli 2009

perhitungan jawa....(seri penuh)

Sejak dahulu orang Jawa telah mempunyai “perhitungan“( petung Jawa ) tentang pasaran, hari, bulan dan lain sebagainya. Perhitungan itu meliputi baik buruknya pasaran, hari, bulan dan lain sebagainya. Khusus tentang hari dan pasaran terdapat di dalam mitologi sebagai berikut :

1.Batara Surya ( Dewa Matahari ) turun ke bumi menjelma menjadi Brahmana Raddhi di gunung tasik. Ia menggubah hitungan yang disebut Pancawara ( lima bilangan ) yang sekarang disebut Pasaran yakni : Legi, Paing, Pon, Wage dan Kliwon nama kunonya : Manis, Pethak ( an ) Abrit ( an ) Jene ( an ) Cemeng ( an ), kasih. ( Ranggowarsito R.NG.I : 228 )

2.Kemudian Brahmana Raddhi diboyong dijadikan penasehat Prabu Selacala di Gilingwesi sang Brahmana membuat sesaji, yakni sajian untuk dewa-dewa selama 7 hari berturut-turut dan tiap kali habis sesaji, hari itu diberinya nama sebagai berikut

a. Sesaji Emas, yang dipuja Matahari. Hari itu diberinya nama Radite, nama sekarang : Ahad.

b. Sesaji Perak, yang dipuja bulan. Hari itu diberinya nama : Soma, nama sekarang : Senen.

c. Sesaji Gangsa ( bahan membuat gamelan, perunggu ) yang dipuja api, hari itu diberinya nama : Anggara, nama sekarang Selasa.

d. Sesaji Besi, yang dipuja bumi, hari itu diberinya nama : buda, nama sekarang : Rebo.

e. Sesaji Perunggu, yang dipuja petir. Hari itu diberinya nama : Respati, nama sekarang : Kemis.

f. Sesaji Tembaga, yang dipuja Air. Hari itu diberinya nama : Sukra, nama sekarang : Jumat

g. Sesaji Timah, yang dipuja Angin. Hari itu diberinya nama : Saniscara disebut pula : Tumpak, nama sekarang : Sabtu.

Nama sekarang hari-hari tersebut adalah nama hari-hari dalam Kalender Sultan Agung, yang berasal dari kata-kata Arab ( Akhad, Isnain, Tslasa, Arba’a, Khamis, Jum’at, Sabt ) nama-nama sekarang itu dipakai sejak pergantian Kalender Jawa – Asli yang disebut Saka menjadi kalender Jawa / Sultan Agung yang nama ilmiahnya Anno Javanico ( AJ ). Pergantian kalender itu mulai 1 sura tahun Alip 1555 yang jatuh pada 1 Muharam 1042 = Kalender masehi 8 Juli 1633. Itu hasil perpaduan agama Islam dan kebudayaan Jawa.

Angka tahun AJ itu meneruskan angka tahun saka yang waktu itu sampai tahun 1554, sejak itu tahun saka tidak dipakai lagi di Jawa, tetapi hingga kini masih digunakan di Bali. Rangkaian kalender saka seperti : Nawawara ( hitungan 9 atau pedewaan ) Paringkelan ( kelemahan makhluk ) Wuku ( 30 macam a’7 hati, satu siklus 210 hari ) dll.

Dipadukan dengan kalender Sultan Agung ( AJ ) tersebut, keseluruhan merupakan petungan ( perhitungan ) Jawa yang dicatat dalam Primbon. Dikalangan suku Jawa, sekalipun di lingkungan kaum terpelajar, tidak sedikit yang hingga kini masih menggunakannya ( baca : mempercayai ) primbon.

Sadulur Papat Kalima Pancer

Hitungan Pasaran yang berjumlah lima itu menurut kepercayaan Jawa adalah sejalan dengan ajaran “ Sedulur papat, kalima pancer “ empat saudara sekelahiran, kelimanya pusat.

Ajaran ini mengandung pengertian bahwa badan manusia yang berupa raga, wadag, atau jasad lahir bersama empat unsur atau roh yang berasal dari, tanah, air, api dan udara. Empat unsur itu masing-masing mempunyai tempat di kiblat empat. Faktor yang kelima bertempat di pusat, yakni di tengah.

Lima tempat itu adalah juga tempat lima pasaran, maka persamaan tempat pasaran dan empat unsur dan kelimanya pusat itu adalah sebagai berikut :

1. Pasaran Legi bertempat di timur, satu tempat dengan unsur udara, memancarkan sinar ( aura ) putih.

2. Pasaran Paing bertempat di selatan, salah satu tempat dengan unsur Api, memancarkan sinar merah.

3. Pasaran Pon bertempat di barat, satu temapt dengan unsur air, memancarakan sinar kuning.

4. Pasaran Wage bertempat di utara, satu tempat dengan unsur tanah, memancarkan sinar hitam

5. Kelima di pusat atau di tengah, adalah tempat Sukma atau Jiwa, memancarkan sinar manca warna ( bermacam-macam )

Dari ajaran sadulur papat, kalima pancer dapat diketahui betapa pentingnya Pasaran Kliwon yang tempatnya ditengah atau pusat ( sentrum ) tengah atau pusat itu tempat jiwa atau sukma yang memancarkan daya – perbawa atau pengaruh kepada “ Sadulu Papat atau Empat Saudara ( unsur ) sekelahiran.

Satu peredaran “ Keblat papat kalima pancer “ itu dimulai dari timur berjalan sesuai dengan perputaran jam dan berakhir di tengah ( pusat ) Peta dari jalannya dapat digambarkan sebagai berikut :

menep ing rahsa sateleng kalbu

amatek cipta ambasuh sukma

sumunaring raga ambudidaya

Nora iguhing palena pikir

imaningsun anuju dhat luhur

Nembah asaling muasal

oncat hawa lereming asepi

Budaya Djawa

Mari kita mengutip satu tembang Jawa

Tak uwisi gunem iki saya akhiri pembicaraan ini

Niyatku mung aweh wikan saya hanya ingin memberi tahu

Kabatinan akeh lire kabatinan banyak macamnya

Lan gawat ka liwat-liwat dan artinya sangat gawat

Mulo dipun prayitno maka itu berhati-hatilah

Ojo keliru pamilihmu Jangan kamu salah pilih

Lamun mardi kebatinan kalau belajar kebatinan

Tembang ini menggambarkan nasihat seorang tua (pinisepuh) kepada mereka yang ingin mempelajari kabatinan cara kejawen. Kiranya perlu dipahami bahwa tujuan hakiki dari kejawen adalah berusaha mendapatkan ilmu sejati untuk mencapai hidup sejati, dan berada dalam keadaan harmonis hubungan antara kawula (manusia) dan Gusti(Pencipta) ( jumbuhing kawula Gusti )/pendekatan kepada Yang Maha Kuasa secara total.

Keadaan spiritual ini bisa dicapai oleh setiap orang yang percaya kepada Tuhan, yang mempunyai moral yang baik, bersih dan jujur. beberapa laku harus dipraktekkan dengan kesadaran dan ketetapan hati yang mantap.Pencari dan penghayat ilmu sejati diwajibkan untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi semua orang serta melalui kebersihan hati dan tindakannya. Cipta, rasa, karsa dan karya harus baik, benar, suci dan ditujukan untuk mamayu hayuning bawono. Ati suci jumbuhing Kawulo Gusti – hati suci itu adalah hubungan yang serasi antara Kawulo dan Gusti, kejawen merupakan aset dari orang Jawa tradisional yang berusaha memahami dan mencari makna dan hakekat hidup yang mengandung nilai-nilai.

Dalam budaya jawa dikenal adanya simbolisme, yaitu suatu faham yang menggunakan lambang atau simbol untuk membimbing pemikiran manusia kearah pemahaman terhadap suatu hal secara lebih dalam.Manusia mempergunakan simbol sebagai media penghantar komunikasi antar sesama dan segala sesuatu yang dilakukan manusia merupakan perlambang dari tindakan atau bahkan karakter dari manusia itu selanjutnya. Ilmu pengetahuan adalah simbol-simbol dari Tuhan, yang diturunkan kepada manusia, dan oleh manusia simbol-simbol itu ditelaah dibuktikan dan kemudian diubah menjadi simbol-simbol yang lebih mudah difahami agar bisa diterima oleh manusia lain yang memiliki daya tangkap yang berberda-beda.
Biasanya sebutan orang Jawa adalah orang yang hidup di wilayah sebelah timur sungai Citanduy dan Cilosari. Bukan berarti wilayah di sebelah barat-nya bukan wilayah pulau Jawa. Masyarakat Jawa adalah masyarakat yang menjunjung tinggi rasa kekeluargaan dan suka bergotong royong dengan semboyannya “saiyeg saekoproyo “ yang berarti sekata satu tujuan.

Kisah suku Jawa diawali dengan kedatangan seorang satriya pinandita yang bernama Aji Saka, sampai kemudian satriya itu menulis sebuah sajak yang kemudian sajak tersebut diakui menjadi huruf jawa dan digunakan sebagai tanda dimulainya penanggalan tarikh Caka.

Kejawen adalah faham orang jawa atau aliran kepercayaan yang muncul dari masuknya berbagai macam agama ke jawa. Kejawen mengakui adanya Tuhan Gusti Allah tetapi juga mengakui mistik yang berkebang dari ajaran tasawuf agama-agama yang ada.

Tindakan tersebut dibagi tiga bagian yaitu tindakan simbolis dalam religi, tindakan simbolis dalam tradisi dan tindakan simbolis dalam seni. Tindakan simbolis dalam religi, adalah contoh kebiasaan orang Jawa yang percaya bahwa Tuhan adalah zat

yang tidak mampu dijangkau oleh pikiran manusia, karenanya harus di simbolkan agar dapat di akui keberadaannya misalnya dengan menyebut Tuhan dengan Gusti Ingkang Murbheng Dumadi, Gusti Ingkang Maha Kuaos, dan sebagainya. Tindakan simbolis dalam tradisi dimisalkan dengan adanya tradisi upacara kematian yaitu medoakan orang yang meninggal pada tiga hari, tujuh hari, empatpuluh hari, seratus hari, satu tahun, dua tahun ,tiga tahun, dan seribu harinya setelah seseorang meninggal ( tahlhilan ). Dan tindakan simbolis dalam seni dicontohkan dengan berbagai macam warna yang terlukis pada wajah wayang kulit; warna ini menggambarkan karakter dari masing-masing tokoh dalam wayang.

Perkembangan budaya jawa yang mulai tergilas oleh perkembangan teknologi yang mempengaruhi pola pikir dan tindakan orang jawa dalam kehidupan. Maka orang mulai berfikir bagaimana bisa membuktikan hal gaib secara empiris tersebut dengan menggunakan berbagai macam metode tanpa mengindahkan unsur kesakralan. Bahkan terkadang kepercayaan itu kehilangan unsur kesakralannya karena dijadikan sebagai obyek exploitasi dan penelitian.
Kebiasaan orang Jawa yang percaya bahwa segala sesuatu adalah simbol dari hakikat kehidupan, seperti syarat sebuah rumah harus memiliki empat buah soko guru (tiang penyangga) yang melambangkan empat unsur alam yaitu tanah, air, api, dan udara, yang ke empatnya dipercaya akan memperkuat rumah baik secara fisik dan mental penghuni rumah tersebut. Namun dengan adanya teknologi konstruksi yang semakin maju, keberadaan soko guru itu tidak lagi menjadi syarat pembangunan rumah.Dengan analisa tersebut dapat diperkirakan bagaimana nantinya faham simbolisme akan bergeser dari budaya jawa. Tapi bahwa simbolisme tidak akan terpengaruh oleh kehidupan manusia tapi kehidupan manusialah yang tergantung pada simbolisme. Dan sampai kapanpun simbolisme akan terus berkembang mengikuti berputarnya sangkakala.