Tampilkan postingan dengan label info budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label info budaya. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 November 2010

Detik-detik Evakuasi Merapi: Ketika Bernard Berhenti Tertawa

(dapat tulisan ini dari teman di FB yang terlibat dalam tim relawan di Gn. Merapi)

Hujan abu masih turun tipis di luar jendela ketika saya menulis ini. Limabelas jam yang lalu, jam 19.30, 4 November 2010, sedikit heran ketika ambulan jemputan tiba di rumah on time, saya dan rekan dari Puskesmas berangkat tugas jaga pos kesehatan Hargobinangun. Cuaca mendung, nyaman menyeka kering abu yang membedaki Beran (ibukota administratif Sleman), perlahan kami berangkat melintasi desa-desa menuju Hargobinangun, 17 km dari puncak Merapi. Harapan yang cerah, jaga malam santai, cuaca dingin yang nyaman, plus minum susu dan obrolan hangat di pos kesehatan menanti kami. Setidaknya itu bertahan sampai 1/4 perjalanan, ketika memasuki wilayah Ngaglik, 25 km dari puncak Merapi, kabut menyergap kami. Aneh, kabut di jarak sejauh ini dari gunung. Kabut yang aneh pula, tidak dingin dan sejuk, tapi pucat, kering, pengap, tak bergerak, dan terasa sangat berat untuk ditembus. Kabut serupa yang saya jumpai mengawali hujan pasir erupsi besar Merapi Sabtu dini hari lalu. Pikiran saya melayang jauh ke pos tujuan kami, amankah?. Di benak saya, jangan-jangan Hargobinangun dan 5000 penghuninya sudah tenggelam dalam pasir seperti kota Pompeii. Dan kami telusuri lembah-lembah gelap desa terakhir dengan pikiran kelam.

Hingga kilometer terdekat dengan barak pengungsian Hargobinangun kabut diam itu masih sangat pekat. Di tepian jalan kaliurang, satu kilometer di bawah barak, tampak stasiun TV swasta sedang live di tepi jalan, agaknya menyadari juga fenomena aneh setelah hujan seharian itu. Semoga mereka tidak membuat berita menyesatkan seperti kemarin. Cukup melegakan. Lebih melegakan lagi ketika beberapa ratus meter kemudian kabut itu menipis, teriring ramai cahaya balai desa Hargobinangun, barak pengungsian terbesar dan terkokoh dari barak lain. Pukul delapan malam namun barak sudah sepi. Dipeluk kabut yang berubah menjadi hujan abu ringan, nampaknya semua pengungsi terbaring nyaman beristirahat di 3 komplek bangunan permanen yang tersedia (balai desa, gedung SD dan SMP, dan bangunan khusus barak raksasa hasil cicilan masyarakat Pakem). Dan pos kesehatan, markas besar kami, masih tampak serupa, penuh tumpukan obat yang terlalu lengkap karena banyak sponsor, catatan resep tak jelas, register setumpuk, dan kardus-kardus masker, dan anggota-anggota Tagana yang bercengkerama.

Menyenangkan jaga malam di pos kesehatan Hargobinangun akhir-akhir ini, tenang, tidak begitu berjubel pasien. Beruntung kami dengan adanya beberapa pos kesehatan LSM yang didirikan di sudut-sudut lain barak, beban berkurang, hanya cukup sedikit koordinasi, obat mereka yang lebih lengkap dan coverage pasien maksimal. Hingga untuk ukuran Puskesmas yang dipindah ke barak, kami bisa bersantai, jalan-jalan, dan tidur tentu saja. Dan anggota-anggota Tagana (Taruna Siaga Bencana) yang memiliki bench tepat di depan bench kami itulah pelampiasan keisengan. Kebetulan topik malam itu ketawa ala Bernard Bear, dan ternyata mereka fasih menirukan gaya si beruang gendut tersebut, sepertinya semalaman kami akan berhaha hihi.

Getaran dan gemuruh merapi tak pernah henti terdengan sejak saya tiba. Akhirnya terbiasa, baik pengungsi maupun saya, dengan bunyi seperti dentum, deru dan guntur bersambungan yang membuat kaca berderak, hingga menggetarkan badan yang diam. Jam menunjukkan pukul 23.30 ketika beruang-beruang di pos kesehatan menggelar kasur dan membaca doa pengantar tidur, berharap semua tenang. Semua terlelap, kecuali saya yang memang tak mudah tidur di kondisi tersebut. Saya mencoba mengabaikan, tapi menjelang pukul 00.00 saya rasakan bunyi gemuruh itu semakin keras, semakin dekat, semakin mengguncang. Agaknya beberapa rekan dan pengungsi juga merasakannya. Mereka berjalan dan berkumpul di halaman luar balai desa. Saya bangkit, memakai sepatu dan menatap mereka dari selasar pos kesehatan. Tampak kepala desa dan koordinator barak sibuk mengontak HT, sesaat kemudian tiba-tiba mereka berlari menuju beberapa barak, diikuti anggota-anggota TNI. Saya masih berdiri di depan pos kesehatan, terheran dengan gemuruh yang makin mengeras, dan mulai curiga ketika kabut aneh serupa ketika saya tiba muncul kembali dan memekat. Tiba-tiba terdengar keributan, pengungsi di barak terdekat berhamburan keluar menuju jalan, semakin banyak yang menghambur keluar. Satu yang melintas saya hentikan, dan pertanyakan kenapa, jawaban menghambur dalam kepanikan "dok, semua pengungsi diminta segera turun ke stadion Maguwoharjo!"

Maguwoharjo? sungguh tak masuk akal menurut saya, bukankah itu di tepian kota? 25 kilometer lebih evakuasi masif ribuan orang dalam hitungan menit!??

Kepanikan menyeruak, barak Hargobinangun yang semula lelap sontak bangun dalam histeria ancaman bencana. Pengungsi berlarian ke jalan, menaiki angkutan apapun yang kebetulan berada. Puluhan TNI yang tegar tak kuasa menahan 5000an orang yang berhamburan, dalam teriak dan tangis, berebut kendaraan.Truk, bus, mobil, pikap, pengangkut pasir sekejap penuh sesak dengan manusia, berdesakan, berebutan, saling himpit. Carut marut suasana panik, tangis bercampur dengan teriakan memanggil dan mencari sanak keluarga. Sepasang manula berpakaian lusuh seadanya, berusaha berlari menuju jalan masing-masing tangan penuh memegang kardus, tikar dan bungkusan; hebatnya mereka masih berusaha berpegang tangan. Seorang lelaki renta, lupa tak menenteng apa-apa, berdiri kebingungan melihat perebutan sudut ruang angkutan yang tersedia, mematung tanpa bisa berkata; hingga beberapa anggota TNI mengangkatnya ke atas truk bak terbuka. Anak-anak menangis, tak tahu apa yang diperbuat orang tuanya, menyeret mereka dari tidur lelapnya. Semua teriak menenangkan tenggelam dalam badai kepanikan, hingga serak suara dan kami tertunduk putus asa. Bayangkan, dalam 20 menit 5000 orang telah bergerak dalam muatan penuh sesak yang penuh tangis..

Dua orang jompo yang tak dapat berjalan menjadi jatah evakuasi kami, ambulan yang penuh sesak beranjak pelan menjadi angkutan pengungsi terakhir. Tatap mata nanar sang kakek menatap balai pengungsian yang sekian hari telah dihuninya, ruang-ruang yang semula riuh tampak senyap, pintu-pintunya ditutup dan dikunci oleh TNI dan Tagana terakhir yang pemberani. Barang-barang pengungsi tampak berceceran, di dalam maupun di halaman, terserak pula dalam kenangan. banyak diantara mereka yang hanya membawa baju yang mereka pakai. Dalam senyap, ambulan kami melaju, dan hujan turun perlahan...setidaknya bila memang itu dapat disebut hujan.

Semula memang tetes air yang menyentuh lengan, namun beberapa saat kemudian tetes itu menghitam dan berubah menjadi bulatan-bulatan besar tepat saat kami memasuki ambulan, 15 menit setelah rombongan utama berangkat. Kemudian bukan lagi air yang jatuh dari langit, namun lumpur bercampur kerikil. Ambulan yang bergerak pelan, berjalan semakin pelan karena penyeka kaca depan tak mampu menepis hujan lumpur. Sesekali kami berhenti, menyiramkan air mineral kemasan ke kaca depan, sekalipun sekian detik kemudian kaca itu sudah terpekati pasir kembali. Menit demi menit kami merangkak turun, ke selatan, menjauh dari sumber petaka. Memasuki distrik Pakem, 3 km di bawah Hargobinangun, kami baru menyadari bahwa wilayah itu sudah seperti kota mati, listrik padam, hanya pengendara sepeda motor berjajar di emper toko karena tak kuat menembus hujan lumpur. Kemacetan terjadi di ketika melewati kampus UII 4 km kemudian, agaknya para mahasiswa panik dan berebut mengungsi ketika mengetahui rombongan utama pengungsi Hargobinangun melintas. Jalan utama penuh, benturan antar kendaraan tak ayal terjadi. Terjebak dalam kecepatan nol, kami pasrah. Saya hanya menatap kaca mobil yang tak mampu meneruskan pandang. Gurat-gurat lumpur di balik kaca mengalir, sebagaimana air mata ribuan pengungsi di kendaraan bak terbuka, menembus siraman lumpur pasir dan kerikil, meniti kilo demi kilo yang berlalu begitu pelan. Dan benar bahwa waktu terasa bertahun untuk hal yang tak kita sukai..

Duapuluhribu pengungsi bergerak sekaligus menembus malam badai. Entah berapa ratus pengungsi yang tercerai dari keluarganya dan berapa lagi yang mengalami kecelakaan di perjalanan mengerikan sekaligus menakjubkan ini..

Lebih dari satu jam perjalanan kami memasuki pinggiran kota, melintas ringroad menuju Stadion Maguwoharjo. Hujan tak turun sejak kami mendekati kota, tapi debu vulkanik pekat menghambat pandang. Saya belum pernah datang ke stadion itu, hanya mengamati foto, stadion baru yang agak tersendat pembangunannya, landskap absurd di tengah pemukiman penduduk suburban, yang belum disetting sebagai barak pengungsian. Namun bayangan kelam saya sontak hilang ketika cahaya kemilau itu muncul di depan kami. Layaknya bahtera di lautan kelabu, bangunan besar itu terapung bercahaya, begitu cerah, begitu hangat. Perlahan kami mendekat. Tiga lantai, penuh manusia, dan masih juga dikitari manusia dan kendaraan. Puluhan petugas menyambut dan mengarahkan kami. Perjalanan hitam berakhir, entah kenapa badan kami yang diberati pasir dan debu, seolah terlepas dan menjadi ringan, sangat ringan..

Entah kenapa, dalam kondisi seperti itu rasa lelah sama sekali tak terasa. Selepas dropping pasien bawaan di ruang observasi, saya masih meneruskan pemeriksaan dan pengobatan umum hingga siang menjelang. Pepatah kuno bilang, manusia lebih cepat letih bila sedang aktivitas bersenang-senang.. benarkah?

HT berteriak, mengabarkan banyak korban tewas di Argomulyo, Cangkringan.. Ya, mengungsi adalah dilema. Mudah bagi mereka berkata "sudah disuruh mengungsi tetap bandel".. mungkin sang pemberi komentar tersebut sekali waktu perlu mengalami menjadi dan merasakan hidup sebagai pengungsi Merapi.

Dan benar, masalah utama mobilisasi mendadak masif tentu saja terpecahnya keluarga. Semenjak pagi, pengeras suara lebih banyak meyerukan nama orang-orang yang mencari anggota keluarganya. Stadion Maguwo yang tak pernah memiliki perlengkapan barak pengungsian disulap menjadi barak seadanya. Pengungsi tak berharta benda duduk juga seadanya di lantai tanpa alas, setidaknya mereka lega sudah jauh dari bahaya dan keluarga lengkap disisi mereka. Tenaga kesehatan pontang-panting menyusun pos Triase dan klinik darurat, dengan obat dan SDM tercecer entah kemana, beruntung ratusan relawan kesehatan maupun non-kesehatan tetap setia bersama kami, keikhlasan mereka takkan pernah terbeli. Entah sampai kapan amukan Merapi menjadi, entah sampai kapan ribuan pengungsi terdampar di sini, tanpa bekal, jauh dari rumah dan ternak yang mereka sayangi.

Minggu, 22 Agustus 2010

pelajaran dari dalam pasar.....jilid 1

Beberapa saat yang lalu sowan kepada sesepuh di Imogiri Bantul Jogjakarta, saya pingin tahu tentang apa sih sebetulnya laku prihatin menurut Jawa. Dengan segenggam dasar tentang llaku prihatin (: baca ibadah) menurut Islam telah saya pegang kuat-kuat, dengan harapan, bila saya nantinya mendapatkan ilmu baru, saya akan bisa dengan mudah membedakan apakah ini bid'ah, ataukah sudah masuk ke dalam ranah syirik (insyaALLAH tidak).

Tapi satu yang membuat saya heran, beliau tidak mau memberikan pelajaran itu pada saya (: padahal hari-hari sebelumnya saya diberikan langsung beberapa ilmu tentang kejawen dari beliau), tapi beliau malah memberikan nama dimana saya bisa belajar sama dia........aneh nya lagi saya harus menemuinya di pasar beringharjo, tidak boleh dirumahnya.

Gusti Paino namanya, seorang pedagang di pasar beringharjo yang memiliki tinggi orang ini sekitar 168 cm dengan tubuh gempal dan kumis yang ringan menempel diatas bibirnya, orangnya cukup sederhana dan tidak terkesan dia memiliki ilmu yang saya cari itu, konsepsi tentang apa itu laku prihatin, sebab orang ini termasuk gemuk menurut ukuran saya. Dengan beralaskan koran yang mungkin sudah sobek sobek karena panasnya pantat, dia membuka pertanyaan, "pingin tau apa mas.........". Saya malah bingung, tapi saya beranikan bertanya tentang konsepsi dasar tentang laku prihatin.

Dan inilah penjabaran beliau.......

Prihatin, kata beliau adalah suatu niatan kita untuk membuat pedih hati kita (Perih ing Batin), dengan apa kita buat pedih hati kita, kita coba membuat batasan-batasan dan mengurangi sesuatu yang kita sukai, baik itu makanan, minuman, bahkan hobi kita. Jadi, sebelum kita memulai laku prihatin, kita harus tahu apa yang sebetulnya yang menjadi kesukaan kita, jadi gak mesti puasa aja, bisa yang lainnya, contohnya saya suka sekali sate kambing, maka saya ingin mengendalikan itu dengan tidak makan sate kambing selama 3 bulan lamanya......itu kunci pertama yang harus kita pegang.

Trus apa sih untungnya dengan laku prihatin ini, beliau menajawab, dengan laku prihatin maka orang tersebut akan senantiasa pedih hatinya. Layaknya tangan kita terluka kena pisau, maka luka itu akan sangat pedih bila ditetesi air garam (: padahal tangan yang sehat tidak akan pedih dengan air garam), layaknya kaki yang kena knalpot akan nyeri kalau dipegang dengan kuat (: padahal kaki yang tidak luka, tidak akan perih bila dicubit sekalipun). Begitu juga dengan hati kita, kita akan lebih bisa mengolah bowo roso dengan membuat 'luka' dihati ini, hati kita akan lebih peka terhadap perubahan disekitar kita......kunci kedua yang harus saya pegang.

itu tujuannya kah, beliau jawab itu bukan final destinationnya.

Trus apa final destination dari prihatin ini, laku prihatin ini hanyalah syarat untuk naik ke sebuah kendaraan, kendaraan ini mensyaratkan orang yang menumpang kendaraan itu harus memiliki kesensitifan hati yang tinggi, olah bowo roso yang tinggi, untuk apa, untuk membaca apa yang diinginkan oleh pengemudi dari kendaran itu. Sebab, dengan kita tahu apa keinginan pengemudi, batasan dan anjurannya, maka kita akan diperbolehkan terus ada di dalam kendaraan ini sampai tujuan akhir nanti. Saya bertanya, siapakah pengemudi kendaraan ini, beliau menjawab GUSTI ALLAH.

Sambil beliau menyodorkan teh dengan gula batu saya teruskan diskusi saya.......

Saya trus bertanya, apakah dengan prihatin ini kita akan menjadi lemah, beliau tidak menjawab tapi beliau mengambil bola pingpong. Dengan papan kayu, beliau pantulkan bola pingpong itu ke lantai dan dipukul sekali. Awalannya beliau berdiri diatas kursi, jarak lantai dengan papan kayu sekitar 2 meter. Saya lihat bola pingpong memantul dengan pelan, sebab saya tahu Gusti Paino hanya menahan laju bola pingpong itu dengan papan kayu, tidak memukulnya lagi......sehingga lama-lama,sebetulnya, bola pingpong itu sudah tidak meyentuh papan kayu lagi, akan tetapi tetap bergerak turun walau tidak menyentuh papan kayu.

Sesaat kemudian Gusti Paino turun dari kursinya dan papan kayu tersebut juga turun secara lurus vertikal, pertama-tama papan kayu mulai mengenai bola pingpong yang memantul lantai - papan kayu (: ya sekarang bola pingpong mengenai papan kayu lagi). Setelah itu papan kayu diturunkan lagi oleh Gusti Paino, kira-kira 1 meter dari lantai, saya lihat pantulan bola pingpong itu makin keras. Gusti Paino menurunkan lagi papan kayu itu, kira-kira 25 cm dari lantai, saya hampir tidak bisa melihat bola pingpong itu memantul sedemikian cepatnya antara lantai dengan papan kayu.

Setelah itu beliau bilang, hati kita itu seperti papan kayu sementara roso (perasaan) kita seperti bola pingpong yang memantul, bila hati (:papan kayu), dimana rasa diolah, kita biarkan dengan kemewahan dan diujo (: tetap dibiarkan melayang diatas dengan kemewahan duniawi), maka lama kelamaan seperti bola pingpong itu, yang melemah dan tidak mau menyentuh papan kayu (: hati kita) itu. Hati kita tidak akan bisa merasakan lagi, orang jawa bilang ndableg......

Tapi kalau kita coba kekang sedikit demi sedikit nafsu atau keinginan kita, maka seperti papan kayu yang diturunkan secara vertikal tadi, pertama-tama hati ini akan bisa merasakan kembali walau sangat lemah, seperti papan itu tersentuh kembali oleh bola pingpong yang telah melemah pantulannya, bahkan pantulan bola pingpong itu bisa menguat kembali dengan kita menurunkan papan kayunya, begitu juga dengan perasaan kita, perasaan kita akan kembali menguat ketika kita mengekang segala hawa nafsu.........kunci ketiga yang saya genggam kencang.

Apakah olah roso ini membuat kita lemah, TIDAK, coba kita lihat, apa yang terjadi bila jarak papan kayu dengan lantai hanya 25 cm, pantulan bola pingpong cukup cepat antara lantai - papan kayu. Bila papan kayu dengan mendadak ditarik, menghindari bola pingpong, maka bola pingpong itu ternyata akan terpantul tinggi sekali, bahkan bisa melampaui 3 meter tingginya (: padahal dipukul pertama tadi hanya dari ketinggian 2 meter loh). Inilah kekuatan sesungguhnya dari oleh bowo roso yang berpusat di hati kita..........kunci keempat yang saya camkan.

Orang yang senantiasa mengolah hatinya sedikit demi sedikit turun seperti papan kayu itu akan senantiasa merasakan desakan yang kuat oleh bola pingpong yang memantul, dengan menurunkan papan kayu itu maka energi kinetik dari bola pingpong akan naik bahkan bisa mencapai delapan atau puluhan kali lipat dari posisi papan kayu yang pertama. Kekuatan inilah yang dimiliki oleh orang-orang yang dapat mengendalikan hawa nafsunya.

Nah, apakah ini melanggar aturan agama yang saya anut (: Islam), menurut saya kok TIDAK. Tujuan akhir dari laku prihatin adalah mendekatkan diri kepada pengemudi kendaraan (: Gusti ALLAH), sementara ibadah-ibadah di dalam agama saya juga bertujuan yang sama.

Trus kenapa kita memandang sebelah mata terhadap laku prihatin ini, tidak ada yang bertentangan kalau seperti yang dipaparkan Gusti Paino itu. Jangan-jangan hanya ego kita aja, agar kita tetap bisa merasakan enaknya keglamoran duniawi sehingga mengatakan laku prihatin itu syirik, tabiat orang-orang musyrik, jadul dan kuno..........

Sore telah merayap masuk ke sela-sela pasar ketika Gusti Paino mengajak saya keluar dari pasar, satu pelajaran saya peroleh di dalam pasar hari itu, sungguh pelajaran yang tidak diajarkan di bangku-bangku sekolah, telah lahir dari seorang Paino.

Selasa, 29 Juni 2010

sekilas tentang batik

BATIK TIDAK HANYA MENAMPILKAN KEINDAHAN UJUD SECARA KASAT MATA. MELAINKAN JUGA MENYIMPAN KEDALAMAN SPIRITUAL YANG DIPANCARKAN MELALUI MOTIF-MOTIFNYA YANG “SAKRAL”. TAK MENGHERANKAN JIKA JENIS KAIN KEMUDIAN RAJIN MENYERTAI DAUR KEHIDUPAN MASYARAKAT JAWA. SEJAK LAHIR HINGGA AJAL TIBA.

Hal serupa pernah disampaikan oleh Sri Sultan HB X saat meresmikan Museum Batik di Kraton Yogyakarta 2005 silam. “Sejak lahir, menjalani hidup di dunia hingga meninggal, dibungkus dengan kain batik. Batik sangat dekat dengan kehidupan. Khususnya dalam lingkungan keluarga.”

Kedekatan batik dengan kehidupan masyarakat Jawa telah menjadikannya bagian hidup yang tak terpisahkan. Melalui selembar kain dengan goresan warna lembut terlukis di atasnya, bisa terlihat gambaran hidup masyarakat Jawa secara keseluruhan. Itulah yang membuat batik menjadi karya seni sangat istimewa. Baik dalam proses pembuatan, filosofi yang terkandung, hingga etika dan tata cara pemakaiannya.

Sebagai pusaka warisan leluhur, proses pembuatan kain batik dilakukan dengan melibatkan seluruh indera perasa. Merunut jauh ke belakang, kain yang bersumber dari dalam kraton dan menjadi ageman dalem ingkang sinuwun ini, tak jarang dibuat melalui serangkaian ritual tertentu. Apalagi dahulu, batik dikerjakan sendiri oleh putri-putri kraton.

“Dulu, mereka sering nglakoni yang terwujud dalam puasa dengan mengurangi diri dari makan, minum, tidur, dan kesenangan duniawi yang lain, serta bersemedi. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan ilham dalam menciptakan motif batik,” ungkap Ir Toetti T Soerjanto.

Menurut wanita yang mengaku sangat mencintai batik ini, pada zaman dulu membatik merupakan kegiatan yang penuh nilai rohani. Selain memerlukan pemusatan pikiran dan kesabaran, juga dilakukan dengan kebersihan jiwa untuk memohon petunjuk dari Gusti Yang Murbeng Dumadi agar mendapatkan ilham dalam menciptakan motif batik. Dari sinilah kemudian motif batik diyakini mengandung filosofi sesuai motifnya.

Hal senada diungkapkan oleh Mari S Condronegoro. Menurut wanita keturunan Sri Sultan Hamengku Buwono VII ini, ritual yang mengiringi proses pembuatan batik biasanya adalah laku puasa. Dengan berpuasa, kata Mari, diharapkan akan muncul ketenangan diri hingga bisa mendapatkan ilham untuk menciptakan motif yang baru. Biasanya, semakin penting batik yang dibuat, semakin lama pula puasa dilakukan.

Selain puasa, dilakukan pula pembacaan doa-doa. Mengikuti dhawuh dalem dulu di mana Sultan merupakan seorang Panatagama, maka doa-doa yang dibaca adalah doa-doa muslim yang merupakan agama yang dianut oleh Sultan. Dengan ritual tersebut, diharapkan proses pembuatan batik akan berlangsung lancar. Syukur bisa menghasilkan batik bernilai tinggi yang bisa memancarkan aura bagi pemakainya atau “pecah pamore”. Terlebih bila batik yang dibuat itu ditujukan atau akan dipakai oleh sinuwun atau keluarga kraton yang lain.

Meski tidak terpaparkan secara gamblang, laku ritual yang mengiringi proses membatik juga terungkap dari beberapa sumber dari njeron beteng yang turun-temurun mendapat cerita dari eyang buyut dan leluhurnya. Disebutkan, ritual dilakukan secara bertahap sebelum proses pembuatan batik dimulai. Khususnya, jika batik tersebut akan diagem oleh raja, bupati, atau lurah.

Pertama, mengadakan selamatan yang dilanjutkan dengan puasa. Kedua, menyiapkan uba rampe berbentuk kembang setaman dan jajan pasar yang diletakkan di dekat tempat yang akan digunakan untuk membatik. Waktu untuk memulai proses pembuatan batik juga dihitung berdasarkan neton atau hari lahir dan pasaran orang yang nantinya akan mengenakannya.

“Selain itu, mori atau kain yang akan dibatik harus direndam dulu selama 40 hari 40 malam. Jadi, membuat batik itu tidak asal jadi karena ada serangkaian ritual yang harus dilakukan agar auranya keluar,” ujarnya.

Terlepas dari percaya atau tidak, ada satu pengalaman tersendiri yang dialami oleh Larasati Soeliantoro Soeleman saat akan membuat kampuh untuk pernikahan salah satu putrinya dulu. Saat itu, wanita yang mengkoleksi batik-batik Jawa klasik ini meminta tolong perajin batik di Imogiri untuk membuatkan kain tersebut.

Ketika proses berlangsung, ternyata lilin batik tidak bisa keluar dari lubang canting meski berulang kali dibersihkan. Perajin batik yang mengerjakan akhirnya mengusulkan untuk mengadakan selamatan beserta pembacaan doa-doa dulu sebelum proses batik dilanjutkan. “Believe it or not, setelah ritual tersebut akhirnya pekerjaan itu berlangsung lancar,” ujar wanita yang selalu mengenakan batik ini.

Kendati begitu, diakuinya sekarang ini jarang sekali menjumpai ritual-ritual yang mengiringi proses pembuatan batik. Barangkali, selain karena motif yang dibuat kebanyakan tinggal menjimplak, juga karena batik sekarang telah diproduksi secara massal.

Filosofi pola batik

Selain proses pembuatannya yang rumit dan selalu disertai dengan serangkaian ritual khusus, batik juga mengandung filosofi tinggi yang terungkap dari motifnya. Hal ini terkait dengan sejarah penciptaan motif batik sendiri yang biasanya diciptakan oleh sinuwun, permaisuri atau putri-putri kraton yang semuanya mengandung falsafah hidup tersendiri bagi pemakainya.

Motif Parang Rusak misalnya. Motif ini diciptakan oleh Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram. Setelah memindahkan pusat kerajaan dari Demak ke Mataram, Senopati sering bertapa di sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa yang dipenuhi oleh jajaran pegunungan seribu yang tampak seperti pereng (tebing) berbaris. Akhirnya, ia menamai tempat bertapanya dengan pereng yang kemudian berubah menjadi parang. Di salah satu tempat tersebut ada bagian yang terdiri dari tebing-tebing atau pereng yang rusak karena deburan ombak laut selatan sehingga lahirlah ilham untuk menciptakan motif batik yang kemudian diberi nama Parang Rusak.

Pola Parang Rusak Barong, diciptakan Sultan Agung Hanyakrakusuma yang ingin mengekspresikan pengalaman jiwanya sebagai raja dengan segala tugas kewajibannya, dan kesadaran sebagai seorang manusia yang kecil di hadapan Sang Maha Pencipta. Kata “barong” berarti sesuatu yang besar dan hal ini tercermin pada besarnya ukuran motif tersebut pada kain. Merupakan induk dari semua pola parang, pola barong dulu hanya boleh dikenakan oleh seorang raja. Mempunyai makna agar seorang raja selalu hati-hati dan dapat mengendalikan diri.

Motif parang sendiri mengalami perkembangan dan memunculkan motif-motif lain seperti Parang Rusak Barong, Parang Kusuma, Parang Pamo, Parang Klithik, dan Lereng Sobrah. Karena penciptanya pendiri Kerajaan Mataram, maka oleh kerajaan, motif-motif parang tersebut hanya diperkenankan dipakai oleh raja dan keturunannya dan tidak boleh dipakai oleh rakyat biasa. Jenis batik itu kemudian dimasukkan sebagai kelompok “batik larangan”.

Bila dilihat secara mendalam, garis-garis lengkung pada motif parang sering diartikan sebagai ombak lautan yang menjadi pusat tenaga alam, dalam hal ini yang dimaksudkan adalah raja. Komposisi miring pada parang juga melambangkan kekuasaan, kewibawaan, kebesaran, dan gerak cepat sehingga pemakainya diharapkan dapat bergerak cepat.

Menurut penuturan Mari S Condronegoro, pada zaman Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, motif parang menjadi pedoman utama untuk menentukan derajat kebangsawanan seseorang dan menjadi ketentuan yang termuat dalam Pranatan Dalem Jenenge Panganggo Keprabon Ing Karaton Nagari Ngajogjakarta tahun 1927. “Selain motif Parang Rusak Barong, motif Batik Larangan pada zaman itu adalah, motif Semen, Udan Liris, Sawat dan Cemungkiran,” jelasnya.

Motif batik Semen yang mengutamakan bentuk tumbuhan dengan akar sulurnya ini bermakna semi atau tumbuh sebagai lambang kesuburan, kemakmuran, dan alam semesta. Sedangkan motif Udan Liris termasuk dalam pola geometris yang tergolong motif lereng disusun secara garis miring diartikan sebagai hujan gerimis yang menyuburkan tumbuhan dan ternak.

Secara keseluruhan, motif yang juga tersusun dari motif Lidah Api, Setengah Kawung, Banji, Sawut, Mlinjon, Tritis, ada-ada dan Untu Walang yang diatur diagonal memanjang ini bermakna pengharapan agar pemakainya dapat selamat sejahtera, tabah dan berprakarsa dalam menunaikan kewajiban bagi kepentingan nusa dan bangsa.

Motif lain Sawat bermakna ketabahan hati. Sedangkan motif Cemungkiran yang berbentuk seperti lidah api dan sinar merupakan unsur kehidupan yang melambangkan keberanian, kesaktian, ambisi, kehebatan, dan keagungan yang diibaratkan seperti Dewa Syiwa yang dalam masyaraka Jawa dipercaya menjelma dalam diri seorang raja sehingga hanya berhak dipakai oleh raja dan putra mahkota.

Seiring dengan perkembangan zaman, Batik Larangan sudah tidak sekuat dulu lagi dalam penerapannya. Bahkan, motif-motif tersebut sekarang sudah banyak dikenakan masyarakat di luar tembok kraton. Kendati begitu, Mari S Condronegoro dan GBRAy Hj Murdhokusumo mengimbau masyarakat umum yang bukan kerabat kraton untuk tidak mengenakan motif tersebut, terutama Parang Rusak Barong saat berada di dalam tembok kraton, untuk menjaga wibawa Sultan.

Lebih lanjut, Gusti Murdhokusumo mengatakan bahwa batik akan selalu menandai setiap peristiwa penting dalam kehidupan manusia Jawa sejak lahir hingga ajal tiba. Menurutnya, ada beberapa motif batik yang sebaiknya dikenakan pada peristiwa-peristiwa penting yang dialami masyarakat Jawa. Peristiwa kelahiran, misalnya, sebaiknya jabang bayi dialasi dengan kain batik tua milik neneknya atau kopohan yang berarti basah. Ini mengandung harapan agar si bayi berumur panjang seperti sang nenek.

Untuk pernikahan, disarankan mempelai mengenakan kain batik dengan motif yang berawalan dengan “sida”, seperti Sidamulya, Sidaluhur, Sida Asih, dan Sidomukti. Atau kalau tidak, bisa mengenakan motif Truntum, Wahyu Tumurun, Semen Gurdha, Semen Rama dan Semen Jlekithet. Masing-masing mengandung maksud agar kedua mempelai mendapat kebahagiaan, kemakmuran dan menjadi orang terpandang.

“Yang pasti, pengantin jangan mengenakan motif Parang Rusak agar rumah tangganya terhindar dari kerusakan dan malapetaka,” ungkapnya. Sebaliknya, ketika akan melayat ke tempat keluarga yang sedang kesripahan (meninggal dunia) maka sebaiknya mengenakan kain batik yang berwarna dasar hitam dan menghindari batik dengan warna dominan putih seperti motif parang. Jenis batik yang cocok untuk melayat, misalnya motif Semen Gurda atau motif lain yang warna dasar senada.

Etika mengenakan batik

Memahami makna filosofis dari setiap motif batik yang ada, ternyata belum bisa menjadi jaminan untuk bisa mengenakan busana batik secara benar. Sebab, masih ada serangkaian etika berikut tata cara pemakaiannya. Setiap motif, kata GBRAy Hj Murdhokusumo, membutuhkan cara pemakaian yang berbeda-beda. Baik dari penempatan waktu dan tempatnya maupun dari sisi pemakainya.

Untuk batik dengan motif Lereng, misalnya, ketika dikenakan kaum wanita harus dimulai dari kiri ke kanan. Maksudnya, kain mulai diikatkan dari sebelah kiri sehingga ujung kain akan berakhir di sebelah kanan. Sebaliknya untuk laki-laki dimulai dari sisi kanan dan ujungnya berakhir di sebelah kiri. Selain itu, garis lereng atau parang-nya harus mengadap ke bawah.

Mengenakan kain batik tak bisa dipisahkan dengan urusan wiru. Untuk melipat wiru, dimulai dengan warna putih berada di arah luar dan “wiron” harus jatuh di atas paha kanan untuk putri. Sedangkan untuk laki-laki, wiru berada di tengah dan menghadap ke arah kiri. Biasanya, wiron untuk laki-laki lipatannya lebih besar dibanding wiron untuk kain yang dikenakan perempuan.

Di lingkungan kraton, bagi generasi cucu laki-laki ke bawah dan abdi dalem, sebaiknya mengenakan wiru engkol. Sedang untuk putri, tergantung dhawuh dalem. Harus pakai wiron atau seredhan (kain yang tidak diwiru), Hal yang terlihat sepele tapi penting adalah jika mengenakan motif Gurdha, motif binatang atau kembang, maka ceploknya harus menghadap ke atas.

Saat mengenakan kain batik, tutur Mari Condronegoro, bagian mata kaki harus tertutup. Begitupun untuk bagian atas, terutama bagi perempuan, sebaiknya dibuat agak longgar sehingga tidak memperlihatkan lekuk tubuh pemakainya. Sepintas, potongan seperti ini terkesan tidak rapi, tetapi memang seperti inilah etika yang harus dipatuhi.

Begitulah, dari ribuan motif atau pola tradisional yang ada, dalam kesempatan ini hanya beberapa yang diuraikan karena keterbatasan ruang. Apalagi untuk menganalisa makna filosofis dari simbol-simbol yang terkadang bersifat ganda dan menyejarah, diperlukan interpretasi dan reinterpretasi makna yang cerdas, jujur dan dengan kesungguhan agar makna-makna yang disampaikan dapat diterima oleh masyarakat Dan, dengan begitu akan bisa menambah pemahaman dan kecintaan kita terhadap batik. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan nguri-uri warisan budaya adiluhung itu?

Minggu, 27 Juni 2010

Kotagede Mosque, the Oldest Mosque in Yogyakarta

Wandering through Kotagede will be complete only if you have visited the Kotagede Mosque, the oldest building for Moslems to say their prayer in Yogyakarta. This building is often skipped by tourists who are going to the cemetery complex of Mataram Kings, whereas in fact the building is not less enchanting. In fact, there are stories of the instruments in the mosque that was built in 1640s.

Before entering the complex of the mosque - in the parking area - you will see a banyan tree that has been there for hundreds years so that people name it "Waringin Sepuh" that means an old banyan tree. This tree will bring luck to anyone who is praying under it when he or she gets two leaves with one facing up and the other facing down.

Approaching the mosque complex, you will find a gateway. Right in front of the gate, there is wall in the shape of L letter. Some pictures symbolizing the kingdom are carved on it. Such buildings represent Sultan Agung's tolerance to local inhabitants who embraced Hinduism and Buddhism and took part in building the mosque.

Entering the mosque yard, you will see green inscription as high as 3 meters signifying mosque renovation done by Paku Buwono. The base of the inscription is of square form and on top of it is the crown as the symbol of Surakarta Kingdom. A clock functioning as time reference for praying is attached to the southern side of the inscription.

We learn from the inscription that Kotagede mosque was built in two stages. The first work done during Sultan Agung reign was small mosque that was called langgar because of the size. The second building was done by Paku Buwono X, the King of Surakarta Kingdom. The difference of those two building lies on the poles; the one built by Sultan Agung was with wooden poles while the other done by Paku Buwono X was with iron poles.

The main part of the mosque is of Javanese style namely limasan that is characterized by pyramid-form of the roof and two different rooms functioning as main room and verandah respectively.

You will see ditch encircling the mosque before you enter the main building of the mosque. It functions as drainage for the water flowing from a place where people take water from the north part of the mosque to clean them before praying. Now, the ditch functions as fishpond after being renovated with porcelains being fitted to the base of it. In order to ease people to enter the building, small bridge is constructed of woods arranged side by side.

Outside of the main building of the mosque, there is an old drum placed beside a kentongan (traditional Javanese wooden drum that is struck to sound alarm). The drum that is as old as the mosque was a present from Nyai Pringgit from Dondong village of Kulon Progo Regency. Thanks to her presence, her descendents were rewarded privilege to stay in the area around the mosque that later was named Dondongan. The drum is in use this time as time signal for praying.

There is a speaker platform made of finely carved wood inside the mosque, beside the place where imam leads the prayer. The platform was given by Sultan Agung who got it when he visited a Regent in Palembang on his return from Mecca. It is now rarely used in order to keep it from being damaged. For daily uses, people replace it with small platform.

Walking around the mosque, you will see different encircling walls. The left wall was constructed of bigger bricks in size with brighter color and marble-looking stone on the surface with Javanese writings on it. The other wall on the other part is of less bright bricks with smaller size and no decoration on it. The left wall was built during Sultan Agung reign while the other wall was the result of the renovation done by Paku Buwono X. The wall constructed during Sultan Agung reign was cemented by using the juice of sugar palm for stronger bound.

This old mosque still looks vivid to the present time. People make use of it form religious activities. When praying time comes, many people will come to it. After praying, many of them stay there to communicate to each other, to learn Koran or even to take a nap.

Minggu, 20 Juni 2010

siapa itu SARIDIN.......

Saat era Walisongo, di suatu daerah di pesisir utara pulau Jawa, tepatnya di daerah Pati, tersebutlah seorang pemuda desa yang lugu dan bersahaja, bernama Saridin.

Nama Saridin mungkin tidak begitu tenar secara nasional, tapi sudah melegenda secara regional. Region itu adalah wilayah Demak Kudus Pati Juwono Rembang, atau yang sering dilafadzkan sebagai Anak Wedus Mati Ketiban Pedang.

Saridin seorang sakti, namun lugunya tidak ketulungan, sehingga (seakan) tidak menyadari kesaktiannya.

Dia pernah membunuh kakak iparnya, yang bernama Branjung, karena sang kakak sering mencuri durian miliknya. Saat itu kakaknya menyamar menggunakan pakaian harimau, sehingga Saridin tidak mengenali. Dengan sekali tombak, matilah sang kakak ipar.

Saat ditanya oleh petugas, Saridin mengaku tidak membunuh kakaknya, melainkan membunuh harimau yang mencuri duriannya. Meskipun jika pakaian harimau dibuka, Saridin tau bahwa itu kakak iparnya.

Kalo secara hukum, Saridin tidak bersalah, karena membela miliknya, dan tidak menyadari kalo harimau itu adalah kakaknya.

Namun demikian, Saridin tetap harus dipenjara.

Untuk memasukkan ke penjara bukan hal mudah, karena Saridin ngotot tidak bersalah. Akhirnya Adipati Jayakusuma, pemimpin pengadilan, menggunakan kalimat lain, bahwa Saridin tidak dipenjara, melainkan diberi hadiah sebuah rumah besar, diberi banyak penjaga, makan disediakan, mandi diantarkan. Akhirnya Saridin bersedia.

Sebelum dipenjara, Saridin bertanya apakah boleh pulang kalo kangen anak dan istrinya. Petugas menjawab: "boleh, asal bisa". Dan terbukti beberapa kali Saridin bisa pulang, keluar dari penjara di malam hari dan kembali lagi esok harinya.

Karena Adipati jengkel, Saridin dikenai hukuman gantung. Tapi saat digantung para petugas tidak mampu menarik talinya karena terlalu berat. Saridin menawarkan ikut membantu, dijawab oleh Adipati: "boleh, asal bisa". Dan karena ijin itu Saridin lepas dari talinya, lalu ikut menarik tali gantungan.

Adipati semakin murka, dan menyuruh membunuh Saridin saat itu juga. Sebuah tindakan putus asa seorang penguasa. Saridin melarikan diri sampai ke Kudus, yang lalu berguru pada Sunan Kudus. Di sini Saridin tidak berhenti menunjukkan kesaktiannya, malah semakin menonjol.

Saat disuruh bersyahadat oleh Sunan Kudus, para santri lain memandang remeh pada Saridin, apa mungkin Saridin bisa mengucapkannya dengan benar.

Tapi yang terjadi sungguh di luar dugaan semua orang. Saridin justru lari, memanjat pohon kelapa yang sangat tinggi, dan tanpa ragu terjun dari atasnya. Sampai di tanah, dia tidak apa-apa. Semua pada heran pada apa yang terjadi.

Sunan Kudus menjelaskan, bahwa Saridin bukan cuma mengucapkan syahadat, tapi seluruh dirinya bersyahadat, menyerahkan seluruh keselamatan dirinya pada kekuasaan tertinggi. Kalo sekedar mengucapkan kalimat syahadat, anak kecil juga bisa.

Namun Saridin masih tetap dilecehkan oleh para santri. Saat ada kegiatan mengisi bak air untuk wudlu, Saridin bukannya diberi ember, malah diberi keranjang. Tapi dengan keranjang itu pula Saridin bisa mengisi penuh bak air.

Saat Saridin mengatakan bahwa semua air ada ikannya, tidak ada yang percaya. Akhirnya dibuktikan, mulai dari comberan, air kendi sampai air kelapa, ketika semua ditunjukkan di depan Saridin, semua ada ikannya.

Karena kesombongannya itu akhirnya Saridin diusir keluar dari Kudus.

Sunan Kudus pun meminta Saridin meninggalkan perguruan Kudus dan tak boleh lagi menginjakkan kaki di bumi Kudus. Vonis itu membuat Saridin kembali berulah. Dia unjuk kebolehan.

Tak tanggung-tanggung, dia masuk ke lubang WC dan berdiam diri di atas tumpukan ninja. Pagi-pagi ketika ada seorang wanita di lingkungan perguruan buang hajat, Saridin berulah. Dia memainkan bunga kantil, yang dia bawa masuk ke lubang WC, ke bagian paling pribadi wanita itu.

Karena terkejut, perempuan itu menjerit. Jeritan itu hingga menggegerkan perguruan. Setelah sumber permasalahan dicari, ternyata itu ulah Saridin. Begitu keluar dari lubang WC, dia dikeroyok para santri yang tak menyukainya. Dia berupaya menyelamatkan diri. Namun para santri menguber ke mana pun dia bersembunyi.

Singkat cerita (susunannya agak lupa), Saridin yang ternyata murid dari Sunan Kalijaga ini bertemu lagi dengan gurunya. Saridin diperintahkan untuk bertapa di lautan, dengan hanya dibekali 2 buah kelapa sebagai pelampung. Tidak boleh makan kalo tidak ada makanan yang datang, dan tidak boleh minum kalo tidak ada air yang turun.

Pada akhirnya, Saridin dikenal sebagai Syeh Jangkung, yang tinggal di desa Landoh, Kajen Pati.

Ada yang pernah dengar tentang "Lulang Kebo Landoh"......dari sini cerita itu muncul.

Juga mengenai kerbau milik Saridin, yang semula sudah mati, tapi karena (konon) Saridin memberikan sebagian umurnya pada kerbau itu, jadinya kerbau itu hidup lagi. Hingga usia Saridin uzur, kerbau itu masih tetap kuat untuk membajak di sawah. Ketika Syeh Jangkung dipanggil menghadap Yang Kuasa, kerbau tersebut harus disembelih. Yang aneh, meski sudah dapat dirobohkan dan pisau tajam digunakan menggorok lehernya, ternyata tidak mempan.

Bahkan, kerbau itu bisa kembali berdiri. Kejadian aneh itu membuat Momok memberikan senjata peninggalan Branjung. Dengan senjata itu, leher kerbau itu bisa dipotong, kemudian dagingnya diberikan kepada para pelayat.

Lulang (kulit) kerbau tersebut diyakini memiliki kekuatan magis. Barang siapa membawanya, maka tidak akan mempan senjata. Sampai saat ini para kolektor benda antik masih banyak yang memburu kulit ini, yang bernama Lulang Kebo Landoh.

Terlepas dari kisah mistis yang terjadi, satu hal yang dapat aku tarik dari kisah Saridin, keluguan justru menghasilkan pandangan yang tulus dan murni. Tidak seperti Adipati Jayakusuma dan Sunan Kudus, yang setiap keputusannya dibarengi dengan banyak kepentingan.

Kamis, 17 Juni 2010

apakah sabda raja itu masih berlaku.......???

Nama beliau sebelum naik tahta adalah Bendara Raden Mas Musteyo lahir pada tanggal 4 Februari 1839

Hamengkubuwono VII (4 Februari 1839 - 1921) adalah nama salah seorang raja di Kesultanan Yogyakarta. Pada masa kepemimpinan Hamengkubuwono VII, banyak didirikan pabrik gula di Yogyakarta, seluruhnya berjumlah 17 pabrik. Setiap pendirian pabrik memberikan peluang pada Sultan untuk menerima dana sebesar Rp.200.000,00. Hal ini mengakibatkan Sultan sangat kaya sehingga sering dijuluki Sultan Sugih.

Masa kepemimpinannya juga merupakan masa transisi menuju modernisasi di Yogyakarta. Banyak sekolah modern didirikan dan karenanya putra-putranya diharuskan mengenyam pendidikan modern, bahkan hingga ke negeri Belanda.

Tahun 1920 dalam usia 80 tahun, Sultan turun tahta dan mengangkat putra mahkotanya sebagai penggantinya.

Konon turun tahtanya Hamengkubuwono VII masih dipertanyakan keabsahannya karena putera mahkota yang seharusnya menggantikan Hamengkubuwono VII secara tiba-tiba meninggal dunia dan sampai saat ini belum jelas sebab akibat kematiannya . Dicurigai adanya keterlibatan pihak belanda yang tidak setuju dengan pengangkatan putera Mahkota pengganti ayahanda Hamengkubuwono VII yang notabene selalu melawan aturan-aturan yang dibuat oleh Belanda.

Biasanya dalam pergantian tahta raja kepada putera mahkota menunggu sampai sang raja atau ayahanda meninggal dunia tetapi dalam sejarah ini berbeda karena pergantian Hamengkubuwono VII ke Hamengkubuwono VIII sang ayah masih hidup, bahkan menurut cerita masa lalu sang ayah di asingkan oleh anaknya pengganti putera mahkota yang wafat ke Keraton diluar keraton Jogyakarta.

Dengan besar hati Hamengkubuwono VII mengikuti kemauan sang anak (mikul dhuwur mendem djero) yang secara politis telah menguasai kondisi didalam pemerintahan kerajaan, Didalam pengasingannya sang Raja pernah bersabda " Tidak pernah ada Raja yang mati di keraton setelah saya" kita tidak tau maksud dari perkataan raja tetapi yang jelas raja Hamengkubuwono VIII meninggal dunia di tengah perjalanan di luar kota dan Hamengkubuwono IX meninggal di Amerika Serikat.Karena kepercayaan masyarakat Jawa tempo dulu suatu kebanggan kalo mereka meninggal di rumah sendiri .

Rabu, 16 Juni 2010

dari SITUS ini pesawat terlihat dibawah kita.....

Menyusuri jalan menuju bagian selatan kompleks Istana Ratu Boko adalah sebuah perjalanan yang mengasyikkan, terutama bagi penikmat wisata budaya. Bagaimana tidak, bangunan candi di sana bertebaran bak cendawan di musim hujan. Satu diantaranya yang belum banyak menjadi perbincangan adalah Candi Ijo, sebuah candi yang letaknya paling tinggi di antara candi-candi lain di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Candi Ijo dibangun sekitar abad ke-9, di sebuah bukit yang dikenal dengan Bukit Hijau atau Gumuk Ijo yang ketinggiannya sekitar 410 m di atas permukaan laut. Karena ketinggiannya, maka bukan saja bangunan candi yang bisa dinikmati tetapi juga pemandangan alam di bawahnya berupa teras-teras seperti di daerah pertanian dengan kemiringan yang curam. Meski bukan daerah yang subur, pemandangan alam di sekitar candi sangat indah untuk dinikmati.

Kompleks candi terdiri dari 17 struktur bangunan yang terbagi dalam 11 teras berundak. Teras pertama sekaligus halaman menuju pintu masuk merupakan teras berundak yang membujur dari barat ke timur. Bangunan pada teras ke-11 berupa pagar keliling, delapan buah lingga patok, empat bangunan yaitu candi utama, dan tiga candi perwara. Peletakan bangunan pada tiap teras didasarkan atas kesakralannya. Bangunan pada teras tertinggi adalah yang paling sakral.

Ragam bentuk seni rupa dijumpai sejak pintu masuk bangunan yang tergolong candi Hindu ini. Tepat di atas pintu masuk terdapat kala makara dengan motif kepala ganda dan beberapa atributnya. Motif kepala ganda dan atributnya yang juga bisa dijumpai pada candi Buddha menunjukkan bahwa candi itu adalah bentuk akulturasi kebudayaan Hindu dan Buddha. Beberapa candi yang memiliki motif kala makara serupa antara lain Ngawen, Plaosan dan Sari.

Ada pula arca yang menggambarkan sosok perempuan dan laki-laki yang melayang dan mengarah pada sisi tertentu. Sosok tersebut dapat mempunyai beberapa makna. Pertama, sebagai suwuk untuk mngusir roh jahat dan kedua sebagai lambang persatuan Dewa Siwa dan Dewi Uma. Persatuan tersebut dimaknai sebagai awal terciptanya alam semesta. Berbeda dengan arca di Candi Prambanan, corak naturalis pada arca di Candi Ijo tidak mengarah pada erotisme.

Menuju bangunan candi perwara di teras ke-11, terdapat sebuah tempat seperti bak tempat api pengorbanan (homa). Tepat di bagian atas tembok belakang bak tersebut terdapat lubang-lubang udara atau ventilasi berbentuk jajaran genjang dan segitiga. Adanya tempat api pengorbanan merupakan cermin masyarakat Hindu yang memuja Brahma. Tiga candi perwara menunjukkan penghormatan masyarakat pada Hindu Trimurti, yaitu Brahma, Siwa, dan Whisnu.

Salah satu karya yang menyimpan misteri adalah dua buah prasasti yang terletak di bangunan candi pada teras ke-9. Salah satu prasasti yang diberi kode F bertuliskan Guywan atau Bluyutan berarti pertapaan. Prasasti lain yang terbuat dari batu berukuran tinggi 14 cm dan tebal 9 cm memuat mantra-mantra yang diperkirakan berupa kutukan. Mantra tersebut ditulis sebanyak 16 kali dan diantaranya yang terbaca adalah "Om Sarwwawinasa, Sarwwawinasa." Bisa jadi, kedua prasasti tersebut erat dengan terjadinya peristiwa tertentu di Jawa saat itu. Apakah peristiwanya? Hingga kini belum terkuak.

Mengunjungi candi ini, anda bisa menjumpai pemandangan indah yang tak akan bisa dijumpai di candi lain. Bila menghadap ke arah barat dan memandang ke bawah, anda bisa melihat pesawat take off dan landing di Bandara Adisutjipto. Pemandangan itu bisa dijumpai karena Pegunungan Seribu tempat berdiri candi ini menjadi batas bagian timur bandara. Karena keberadaan candi di pegunungan itu pula, landasan Bandara Adisutjipto tak bisa diperpanjang ke arah timur.

Setiap detail candi menyuguhkan sesuatu yang bermakna dan mengajak penikmatnya untuk berefleksi sehingga perjalanan wisata tak sekedar ajang bersenang-senang. Adanya banyak karya seni rupa hebat tanpa disertai nama pembuatnya menunjukkan pandangan masyarakat Jawa saat itu yang lebih menitikberatkan pada pesan moral yang dibawa oleh suatu karya seni, bukan si pembuat atau kemegahan karya seninya.

Jumat, 21 Mei 2010

Makam Wotgaleh......

Makam itu terletak di Dusun Karangmoncol, Kelurahan Sendangtirto, Kecamatan Berbah, Sleman (tepatnya diselatan bandara Adisutjipto, bahkan katanya pembuatan bandarapun bergeser ke utara gara-gara makam ini) dikenal sebagai Makam Wotgaleh, dimana di dalam makam tersebut terdapat makam Panembahan Purubaya.

Siapa Panembahan Purubaya ?

Nama aslinya adalah Jaka Umbaran. Ia merupakan putra dari Panembahan Senopati yang lahir dari istri putri Ki Ageng Giring.

Babad Tanaha Jawi mengisahkan, Ki Ageng Giring menemukan kelapa muda ajaib yang jika airnya diminum sampai habis dalam sekali teguk, akan menyebabkan si peminum dapat menurunkan raja-raja tanah Jawa. Tanpa sengaja air kelapa muda itu terminum habis oleh Ki Ageng Pemanahan yang bertamu ke Giring dalam keadaan haus.

Ki Ageng Pemanahan merasa bersalah setelah mengetahui khasiat air kelapa ajaib itu. Ia lalu menikahkan putranya, yaitu Sutawijaya dengan anak perempuan Ki Ageng Giring. Namun karena istrinya itu berwajah jelek, Sutawijaya pun pulang ke Mataram dan meninggalkannya dalam keadaan mengandung.

Putri Giring kemudian melahirkan Jaka Umbaran (diumbar dalam bahawa Jawa artinya “ditelantarkan”). Setelah dewasa Jaka Umbaran pergi ke Mataram untuk mendapat pengakuan dari ayahnya. Saat itu Sutawijaya sudah bergelar Panembahan Senopati. Melalui perjuangan yang berat, Jaka Umbaran akhirnya berhasil mendapat pengakuan sebagai putra Mataram dengan gelar Pangeran Purbaya.

Ketika Jaka Umbaran mencari ayahnya di istana Mataram. Jaka Umbaran diterima tapi diberi sebilah keris telanjang, kemudian diminta mencari sarungnya berujud kayu purwasari. Menurut cerita, kayu purwasari itu sebetulnya perintah simbolis dari Panembahan Senopati. Purwa berarti uwa (kakak dari ibu), sari maksudnya ibu dari Jaka Umbaran (Rara Lembayung). Uwa atau kakaknya Rara Lembayung (Puteri Ki Ageng Giring) tidak lain Ki Gede Wanakusuma (Putera Ki Ageng Giring).

Saat Panembahan Senopati bertahta, Ki Gede Wanakusuma ini yang berkuasa di Giring, tidak mau tunduk kepada Mataram.

Sama seperti dilakukan Ki Ageng Mangir Wanabaya. Karena itu, Panembahan Senopati membutuhkan kematian penguasa Giring. Caranya dengan memberi perintah simbolis kepada Jaka Umbaran. Diterima jika mau membunuh ibu sendiri dan kakak dari ibunya.

Akhirnya Rara Lembayung dan Ki Gede Wanakusuma tewas oleh keris dari Panembahan Senopati. Begitulah politik, dari dulu selalu membawa korban.

Setelah itu oleh Panembahan Senopati diberi bumi lungguh Wotgaleh yang kemudian untuk makam dirinya dan anak keturunannya. Disamping itu, Jaka Umbaran juga mendapat tempat tinggal di sebelah timur Alun-alun Keraton Mataram yang sekarang menjadi Desa Purbayan. Gelar Purbaya utawa Purubaya adalah pemberian dari Panembahan Senopati.

Kanjeng Panembahan Purubaya I meninggal dunia hari Minggu Wage sore 1676 Masehi dan dimakamkan di Wotgaleh. Makamnya juga disebut Makam Wotgaleh. Penjaga makam atau jurukunci Wotgaleh ada 12 orang. Empat di antaranya mendapat gelar Suraksa dari Kasultanan Ngayogyakarta. Ini pertanda orang tersebut diwisuda menjadi abdi Kasultanan Ngayogyakarta dengan tugas mengurusi makam. Di samping gelar Suraksa, 8 orang lainnya mendapat gelar Mohamad didepan namanya sebagai tanda abdi dalem yang mengurusi Mesjid Sultoni. Mesjid ini satu komplek dengan Makam Wotgaleh.

SELAIN terdapat nisan Panembahan Purubaya dan istri, di kompleks tersebut juga terdapat makam Kanjeng Ratu Giring, Kiai Wirasaba dan lain-lain. Kompleks dipagari tembok setinggi 2 meter dengan ketebalan 40 cm. Siapa sebenarnya yang disebut Banteng Mataram itu? Dari catatan Media Komunikasi Kebudayaan Tembi edisi Mei-Juni 2003, ada dua versi tentang panglima perang Mataram itu. Versi Ki Ageng Giring seperti yang terpasang di tembok ruang tamu makam, Banteng Mataram adalah Panembahan Purubaya II. Sedang Panembahan Purubaya I ayah dari Panembahan Purubaya II, ketika muda bernama Jaka Umbaran. Kakek dari Panembahan Purubaya II tidak lain Kanjeng Panembahan Senopati (1582-1601) yang dimakamkana di Kotagede.

Keris Kanjeng Kyai Gondo Ludiro

Malam ini entah kenapa, yang saya pegang adalah salah satu keris saya, yang saya beri nama Kanjeng Kyai Gondo Ludiro. Kalau menurut penamaan, maka dari Kanjeng Kyai, itu berarti keris ini adalah pemberian orang, bukan pesanan saya kepada seorang mpu kalau keris itu adalah pesanan saya sendiri kepada seorang mpu maka nama keris ini tanpa kata 'Kanjeng', dan memang benar keris ini diberi oleh seorang petinggi di Angkatan Darat. Gondo Ludiro, berarti berbau darah. Mengapa berbau darah ?, lebih dikarenakan makna filosofi dari dapur keris ini.

Keris ini berdapur Laler Mengeng (:Lalat hijau yang berterbangan), dalam makna filosofi bila ada laler atau lalat hijau yang berterbangan dan hanya ditempat itu terus maka diyakini ditempat tersebut adanya mayat. Pengertian inilah yang dianut oleh leluhur kita dalam pembuatan dapur ini, sehingga jaman dahulu kala, bila keris dengan dapur ini dihunus, maka sebelum disarungkan kembali keris ini harus mengambil salah satu nyawa (rojo pati). Keris dengan dapur ini sangat jarang sekali ditemukan, akan tetapi setiap raja akan memiliki keris dengan dapur (bentuk) yang seperti ini. Keris dengan dapur ini digunakan oleh raja untuk memberikan hukuman mati kepada beberapa pemberontak seperti kejadian pada Mataram kuno. Raja memberikan keris itu pada algojo untuk selanjutnya digunakan untuk memenggal kepala pemberontak dan setelah itu keris dikembalikan kepada raja untuk selanjutnya disimpan lagi di bangsal pusaka.

Dari sisi eksoterisnya, keris berdapur Laler Mengeng ini memiliki ciri khas berupa kembang kacang (juluran seperti lidah di bagian depan keris) yang terbalik, hal ini dimaksudkan agar gerakan keris ketika menggorok leher si pemberontak akan terhenti dengan terbaliknya kembang kacang tersebut. Selain itu, keris dengan dapur Laler Mengeng ini adalah keris lurus (sarpo topo), dengan wilah yang lurus tersebut memungkinkan pembunuhan dilakukan dengan cepat dan tepat.

Bismillah, setiap saya hunus keris ini, insyaALLAH tidak ada lagi rojo pati, akan tetapi mengajarkan kepada saya (yang sambil melihat ornamentasi dari dapur Laler Mengeng) bahwa kematian saya sesungguhnya telah ditetapkan oleh ALLAH, kapan dan dimana, seperti keris yang saya pegang sekarang ini, telah dibuat dan diberikan do'a oleh mpu untuk menjalankan tugas mulia tersebut.

Untuk itulah, saya beri nama keris ini Kanjeng Kyai Gondo Ludiro (sebab memang dari sana namanya itu), sebab setiap saya bersihkan dengan minyak, selalu keluar aroma anyir darah dari sepanjang wilahnya.......

Minggu, 25 April 2010

Rumekso ing Wengi (Dhandanggula)

Ana kidung rumeksa ing wengi
Teguh hayu luputa ing lara
Luputa bilahi kabeh
Jim setan datan purun
Peneluhan tan ana wani
Miwah penggawe ala
Gunaning wong luput
Geni atemahan tirta
Maling adoh tan ana ngarah ing mami
Guna duduk pan sirna

Sakehing lara pan samya bali
Sakeh ngama pan sami miruda
Welas asih pandulune
Sakehing braja luput
Kadi kapuh tibaning wesi
Sakehing wisa tawa
Sato galak tutut
Kayu aeng, lemah sangar
Songing langdhak gowoning
Wong lemah miring
Myang pakiponing marak

Pangupaning warak sakalir
Nadyan arca myang segara asat
Temahan rahayu kabeh
Apan sarira ayu
Ingideran kang widadari
Rineksa malaekat
Lan sagung pra rasul
Pinayungan ing Hyang Suksma
Ati Adam utekku baginda Esis
Pangucapku ya Musa

Napasku nabi Ngisa linuwih
Nabi Yakup pamiyarsaningwang
Daud suwaraku mangke
Nabi Brahim nyawaku
Nabi Sleman kasekten mami
Nabi Yusup rupeng wang
Edris ing rambutku
Baginda Ngali kuliting wang
Abubakar getih, daging Ngumar singgih
Balung baginda Ngusman

Sungsumingsun Patimah linuwih
Siti Aminah bayuning angga
Ayup ing ususku mangke
Nabi Nuh ing jejantung
Nabi Yunus ing otot mami
Netraku ya Muhammad
Pamuluku Rasul
Pinayungan Adam Kawa
Sampun pepak sakathahe para Nabi
Dadya sarira tunggal

Senin, 20 Juli 2009

srikandi.....sebuah legenda senapati wanita

Menurut kisah pewayangan Jawa, Srikandi lahir karena keinginan kedua orangtuanya, yaitu Prabu Drupada dan Dewi Gandawati, menginginkan kelahiran seorang anak dengan normal. Kedua kakaknya, Dewi Dropadi dan Drestadyumna, dilahirkan melalui puja semadi. Dropadi dilahirkan dari bara api pemujaan, sementara asap api itu menjelma menjadi Drestadyumna.

Dewi Srikandi sangat gemar dalam olah keprajuritan dan mahir dalam mempergunakan senjata panah. Kepandaiannya tersebut didapatnya ketika ia berguru pada Arjuna, yang kemudian menjadi suaminya. Dalam perkawinan tersebut ia tidak memperoleh seorang putera.

Dewi Srikandi menjadi suri tauladan prajurit wanita. Ia bertindak sebagai penanggung jawab keselamatan dan keamanan kesatrian Madukara dengan segala isinya. Dalam perang Bharatayuddha, Dewi Srikandi tampil sebagai senapati perang Pandawa menggantikan Resi Seta, kesatria Wirata yang telah gugur untuk menghadapi Bisma, senapati agung balatentara Korawa. Dengan panah Hrusangkali, Dewi Srikandi dapat menewaskan Bisma, sesuai kutukan Dewi Amba, puteri Prabu Darmahambara, raja negara Giyantipura, yang dendam kepada Bisma.

Dalam akhir riwayat Dewi Srikandi diceriterakan bahwa ia tewas dibunuh Aswatama yang menyelundup masuk ke keraton Hastinapura setelah berakhirnya perang Bharatayuddha. Sedangkan dalam kisah Mahabharata versi India, Srikandi dibunuh oleh Aswatama pada hari ke-18 Bharatayuddha.

Srikandi versi India:

Srikandi (Sanskerta: शिकण्ढी; Śikhaṇḍī) atau Sikandin adalah salah satu putera Raja Drupada dengan Dewi Gandawati dari Kerajaan Panchala yang muncul dalam kisah wiracarita dari India, yaitu Mahabharata. Ia merupakan penitisan Dewi Amba yang tewas karena panah Bisma. Dalam kitab Mahabharata ia diceritakan lahir sebagai seorang wanita, namun karena sabda dewata, ia diasuh sebagai seorang pria, atau kadangkala berjenis kelamin netral (waria). Dalam versi pewayangan Jawa terjadi hal yang hampir sama, namun dalam pewayangan Jawa ia dikisahkan menikahi Arjuna dan ini merupakan perbedaan yang sangat jauh jika dibandingkan dengan kisah Mahabharata versi India.

Dalam bahasa Sanskerta, Srikandi dieja Śikhaṇḍin, bentuk femininnya adalah Śikhaṇḍinī. Secara harfiah, kata Śikhandin atau Śikhandini berarti "memiliki rumbai-rumbai" atau "yang memiliki jambul".

Srikandi dalam Mahabharata

Di kehidupan sebelumnya, Srikandi terlahir sebagai wanita bernama Amba, yang ditolak oleh Bisma untuk menikah. Karena merasa terhina dan ingin membalas dendam, Amba berdoa dengan keinginan untuk menjadi penyebab kematian Bisma. Keinginannya terpenuhi sehingga akhirnya Amba bereinkarnasi menjadi Srikandi.

Pada saat lahir, suara dewata menyuruh ayahnya agar mengasuh Srikandi sebagai putera. Maka Srikandi hidup seperti pria, belajar ilmu perang dan kemudian menikah. Pada malam perkawinan, istrinya sendiri menghina dirinya setelah mengetahui hal yang sebenarnya. Setelah memikirkan usaha bunuh diri, ia kabur dari Panchala, namun diselamatkan oleh seorang Yaksa yang kemudian menukar jenis kelaminnya kepada Srikandi. Srikandi pulang sebagai pria dan hidup bahagia bersama istrinya dan memiliki anak pula. Setelah kematiannya, kejantanannya dikembalikan kembali kepada Yaksa.

Saat perang di Kurukshetra, Bisma sadar bahwa Srikandi adalah reinkarnasi Amba, dan karena ia tidak ingin menyerang "seorang wanita", ia menjatuhkan senjatanya. Tahu bahwa Bisma akan bersikap demikian terhadap Srikandi, Arjuna bersembunyi di belakang Srikandi dan menyerang Bisma dengan tembakan panah penghancur. Maka dari itu, hanya dengan bantuan Srikandi, Arjuna dapat memberikan pukulan mematikan kepada Bisma, yang sebenarnya tak terkalahkan sampai akhir. Akhirnya Srikandi dibunuh oleh Aswatama pada hari ke-18 Bharatayuddha.

Jumat, 10 Juli 2009

yang kalau ke jogja sering foto di TUGU perlu baca ini


Tugu merupakan salah satu titik lintasa garis imajiner dari Pantai Selatan, Krapyak, Kraton, dan Gunung Merapi. Menurut sejumlah sumber, Tugu didirikan Sri Sultan Hemengku Buwono I yang dimaksudkan sebagai tetenger (tanda) untuk memperingati perjuangan bersama rakyat melawan Belanda. Sehingga melahirkan Perjanjian Gianti, 13 Februari 1755. Perjanjian itu membagi wilayah Mataram menjadi dua yaitu Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayogyokarto Hadiningrat. Tugu pertama yang didirikan Sri Sultan Hamengku Buwono I disebut Tugu Golong Gilig setinggi 25 meter. Ini menggambarkan bahwa kebersamaan Pangeran Mangkubumi dan rakyat dalam melawan Belanda. Disebut Tugu Golong Gilig karena bentuk bangunannya berbentuk silinder (gilig) dan puncaknya berbetuk bulat (golong). Namun Tugu Golong Gilig ini ambruk akibat gempa bumi dahsyat yang terjadi pada Senin Wage, 4 Sapar atau 10 Juni 1867. Kemudian tahun 1889, Belanda membangunkan kembali dengan bentuk seperti yang terlihat saat ini. Namun tingginya hanya 15 meter dan tidak lagi berbentuk Golong Gilig. Mungkin ini sebagai taktik Belanda untuk menghapus agar rakyat tidak bersatu lagi. Tetapi taktik ini tidak berhasil dan rakyat tetap bersatu.
Tugu tersebut kemudian disebut De Witt Paal atau Pal Putih. Pada tiang tugu tersebut terdapat prasasti bertuliskan Pakarjianira Sinembahan Pepatih Dalem Kanjeng Raden Adipati Danurejo ingkang kaping V (hasil karya Patih Kanjeng Adipati Danurejo V). Di bagian bawah tertulis Kaundangake dening Tuan JEW van russel, opzichter Waterstaat (diundangkan oleh JEW van Brussel, pegawai Pekerjaan Umum).

Minggu, 28 Juni 2009

falsafah semar

Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya

Bebadra = Membangun sarana dari dasar

Naya = Nayaka = Utusan mangrasul

Artinya : Mengembani sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia

Filosofi, Biologis Semar

Javanologi : Semar = Haseming samar-samar (Fenomena harafiah makna kehidupan Sang Penuntun). Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : “Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tumggal”. Sedang tangan kirinya bermakna “berserah total dan mutlak serta selakigus simbul keilmuaan yang netral namun simpatik”.

Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel / (karang = gersang) dempel = keteguhan jiwa. Rambut semar “kuncung” (jarwadasa/pribahasa jawa kuno) maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan.

Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi. Semar barjalan menghadap keatas maknanya : “dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas (sang Khaliq ) yang maha pengasih serta penyayang umat”.

Kain semar Parangkusumorojo: perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun manusia) agar memayuhayuning bawono : mengadakan keadilan dan kebenaran di bumi.

Ciri sosok semar adalah :

Semar berkuncung seperti kanak kanak,namun juga berwajah sangat tua

Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan

Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa

Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok

Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi atas nasehatnya


Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Isalam di tanah Jawa.


Dikalangan spiritual Jawa ,Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual . Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.


Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas ,dimengerti dan dihayati sampai dimana wujud religi yang telah dilahirkan oleh kebudayaan Jawa .


Gambar tokoh Semar nampaknya merupakan simbol pengertian atau konsepsi dari aspek sifat Ilahi, yang kalau dibaca bunyinya katanya ber bunyi :

Semar (pralambang ngelmu gaib) – kasampurnaning pati.

Bojo sira arsa mardi kamardikan,

ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan Mardika

artinya “merdekanya jiwa dan sukma“,


maksudnya dalam keadaan tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian, agar dalam menuju kematian sempurna tak ternodai oleh dosa. Manusia jawa yang sejati dalam membersihkan jiwa (ora kebanda ing kadonyan, ora samar marang bisane sirna durka murkamu) artinya : “dalam menguji budi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju kesempurnaan hidup”.



Jumat, 26 Juni 2009

taukah kamu, plengkung jogja ada berapa.....

walau kamu orang jogja asli....aku sangsi kok kalau kamu semua tahu berapa jumlah plengkung (pintu keluar) dari keraton Yogyakarta. malah mungkin tidak ada yang tahu sama sekali, bahkan ketika saya coba kepada abdi dalem yang sudah sepuhpun beliau bingung, nah loe....mau gimana lagi coba.

ai satu persatu dari

Disebelah barat, walaupun plengkung ini telah tiada karena dirobohkan pada jaman Belanda, gerbang ini digunakan untuk beberapa pasukan keluar masuk, seperti pasukan wirobrojo, bugisan dan beberapa pasukan lainnya bila berperang. Gerbang ini secara mistik adalah gerbang aman dan dapat digunakan untuk keluar masuk semua masyarakat yang akan sowan menghadap sang raja, dengan kata lain gerbang ini tanpa rajah dari keraton.Kata plengkung berarti pintu gerbang kota. Sedang kata jagabaya berasal dari dua usnsur kata jaga 'menjaga' dan baya 'bahaya'. Secara keseluruhan kata jagabaya berarti menjaga marabahaya.Sehingga plengkung ini sebetulnya digunakan untuk memobilisasi pasukan kedalam maupun keluar istana.

2. Jagasura

Gerbang atau plengkung ini berada tepat diutara pasar ngasem atau tamansari, saat inipun plengkung ini telah sirna karena jaman.Plengkung ini digunakan untuk keluar masuk sentono (kerabat) kerajaan bilamana akan keluar dari istana.Kata jagasura berasal dari dua unsur kata yakni jaga 'menjaga' dan sura 'berani'. Dengan demikian,Plengkung Jagasura memiliki arti sebagai pintu gerbang (tempat keluar masuk) kompleks keraton yang melambangkan rasa keberanian.Rasa berani untuk membela rakyat kecil inilah yang diperlambangkan dengan Plengkung Jagasura ini, bahwa tiap dada seorang bangsawan Jogjakarta terpatri rasa berani membela yang benar dan membrantas yang salah.


Diantara kesemua plengkung, hanya plengkung inilah yang merupakan tempat terlarang bagi sultan Jogja melewatinya, karena memang didalamnya telah terpasang rajah untuk sultan yang masih hidup. Dengan kata lain, hanya sultan dalam kondisi mangkat (wafat) yang boleh melewati plengkung ini, karena sesuai dengan nama plengkung ini, maka perjalanan ke surga akan tanpa hambatan.

Bangunan ini terletak di sisi selatan dari kompleks benteng Keraton Yogyakarta. Kata nirbaya berasal dari dua unsur kata yakni nir 'hilang, tanpa' dan baya 'bahaya'. Dengan demikian, Plengkung Nirbaya mempunyai arti jalan keluar masuk ke keraton tanpa bahaya, maksudnya ialah jalan yang memberikan keselamatan. Hal yang terjadi ketika Sri Sultan HB IX mangkat maka semua putera ndalem tidak boleh melewati plengkung ini, mereka hanya melewati plengkung tarunasura kemudian bertemu dengan iring2an jenazah Sri Sultan HB IX di pojok beteng wetan.


Nama salah satu bangunan yang berfungsi sebagai pintu gerbang untuk keluar masuk kompleks Keraton Yogyakarta. Bangunan ini terletak di sisi timur kompleks benteng Keraton Yogyakarta. Kata tambakbaya berasal dari dua unsur kata yakni tambak

'segala sesuatu yang dijadikan penghalang air' dan baya 'bahaya'.

Nama Tambakbaya tersebut dimaksudkan sebagai penghalang marabahaya. Plengkung ini juga digunakan untuk memobilisasi pasukan ke dalam maupun keluar dari keraton, selain ini plengkung tambakbaya selayaknya jagabaya adalah aman digunakan untuk masyarakatumum memasuki areal istana, karena cenderungplengkung ini aman dari rajah.

5. Tarunasura

Nama salah satu bangunan yang berfungsi sebagai pintu gerbang untuk keluar masuk kompleks Keraton Yogyakarta. Bangunan ini terletak di sebelah utara pada sisi timur dari kompleks benteng Keraton Yogyakarta. Kata tarunasura berasal dari dua unsur kata, yakni taruna 'muda, pemuda' dan sura 'berani, pemberani'. Nama Tarunasura berarti pemuda yang berani.