Tampilkan postingan dengan label pleci. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pleci. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 September 2015

MENGANTI.......pantai indah yg tersembunyi

Akhirnya capek itu ilang, walau belum semua.......gara gara "jajah deso milang kori" kmrn sabtu nie.....

Ya, sabtu pagi kami sekeluarga memutuskan utk bertualang ke daerah Kebumen. Jauh sih dari Semarang, tp kalo dah niat enteng aja kok. Mulai kita susun target, pertama ya pasti kulineran. Sepanjang Semarang Kebumen melewati bbrp kulineran yg asik punya, kita susun di Purworejo kita coba santap bebek Haji Dargo yg legendaris, di Kutoarjo kita nikmati dawet hitam yg segar di sepanjang jalan Kutoarjo-Kebumen. Trus di jalur Ambal-Petanahan ada satu kulineran yg khas berselera yaitu sate ambal, bagi yg belum tau sate ambal adalah sate ayam yg penyajiannya hampir sama dengan sate blora, kuah dipisah. Namun yg khas dari sate ambal ini adalah bumbu kuah kacang bercampur gula jawa dan jahe, hangatnya jahe sangat terasa, hmmm......yummy


Ah mari kita tinggalkan target kuliner, target kedua jelas tempat yg akan kita kunjungi, ya targetnya pantai. Mulai deh kita searching di mbah google ttg wisata pantai di Kebumen. Wow.....ternyata sekarang banyak lho pantai di Kebumen, waktu saya kecil cuman kenal pantai ayah dan pantai karangbolong, sekarang ada pantai suwuk, pantai pasir putih dan pantai menganti, sebuah pengembangan daerah yg okey. 

Akhirnya kita putusin, pantai menganti. Langsung mobil pagi itu melaju ke daerah Kebumen, sepanjang perjalanan afa dan rista (istri saya tercinta) search ttg pantai menganti, mulai dari akses jalan, arah, letak geografis, naek ato turun, retribusi dan keistimewaannya. Setelah dapat semua info mulai susun strategi, dan hubungi teman teman pleci di daerah sana tuk silaturahmi. 

Jalan menuju ke pantai menganti lebih enak lewat jalur deandels, jadi ambil jalur selatan setelah lewat Kutoarjo sebelum Kebumen, ambil jalur alternatif ke Cilacap. Jalannya lumayan bagus namun sempit dan gelap jika malam datang, karna kurangnya penerangan di jalan. Ikuti jalur itu terus, kita akan melewati kecamatan Ambal, Petanahan dan di sebelah kiri kita akan lihat pantai suwuk.

Ups sampai sini jalan datar datar aja dan sedikit longgar, kita teruskan jalan dan sekitar perjalanan 10 menit kita akan melewati pertigaan pantai Karangbolong, lanjut aja. Mulai dari sini jalan mulai menanjak, tanjakan lumayan ketika kita sampai ke daerah karangduwur, wuish tanjakan sampai 40 derajat dikombinasi dengan tikungan tajam dan jalan sempit, lumayan juga adrenalinnya supir nie. 

Perjalanan 45 menit dari pantai suwuk kita akan masuk ke gerbang pantai menganti, saya kira jalan turun setelah itu, ternyata jalan belum bersahabat. Tanjakan hampir 50 derajat kita lewati dengan kanan kiri jurang, tapi pemandangannya.......subhanallah.


Ya, perbukitan dengan terasiring yg indah dengan horizon pantai yg alami, wah terbayar nie dengan suasana ini. Retribusi per orang 10rb dengan areal parkir yg luas dan gratis. Kulinerannya juga gak kalah asiknya, ada TPI (tempat pelelangan ikan) nya, asik juga bakar ikan segar disana. Pantai mya adalah pantai pasir putih dengan hiasan mercusuar di ujung bukit terluar, suatu pemandangan yg asik sekali. 


Ngobrol dengan teman teman pleci di daerah tersebut ttg koloni, konservasi dan kelestarian burung ditempat tersebut menjadi sedikit lega. Pantai ini masuk areal milik Perhutani yg diberdayakan dengan masyarakat, sehingga hutan lindung yg saya lewati menuju pantai ini jelas jelas dilindungi oleh undang undang, dan Zosterops flavus ciri khasnya. Menganti yg berarti menunggu diambil oleh penduduk sekitar karna mereka selalu menunggu suami, anak dan saudara dari pergi berlayar mencari ikan, sambil menanti mereka menikmati pemandangan yg tidak kalah indahnya. Gak rugi jejak kan kaki di pantai ini, dan inilah tips menuju pantai menganti : 
1. Usahakan isi full tangki bahan bakar, sebab begitu masuk jalur deandels tidak ditemukan adanya SPBU, 
2. Persiapkan logistik camilan dan minum selama perjalanan, sebab selepas Petanahan tidak ditemukan adanya warung, 
3. Uaahakan mobil dalam kondisi fit, cek rem, persneling dan ban yg utama, 
4. Siapkan gadget dan powerbank karna bilamana tersesat bisa gunakan map, waze atau track yg lain, dan 
5. Selalu berdoa dan jangan lupa sholat

Ayo nikmati indahnya Indonesia......

Selasa, 08 September 2015

.....pertanyaan berujung silaturahmi

Pagi ini buka FB banyak banget yang nanya, "om gimana rawatan pleci biar gacor", ato "om, gimana agar pleci gak birahi" ato "om, apa arti dikoloni", walah banyak banget pertanyaan seputar hobby pleci ini. Dan lebih parahnya lagi itu pertanyaan terus berulang dengan pertanyaan yg sama tapi beda orang sejak tahun 2010, bayangin aja dah lima tahun dapat pertanyaan gitu terus. 

Dijawab ?


Ya haruslah, karna memang diawal tahun 2010 saya diajak oleh seorang teman di jogja tuk bersama populerkan burung pleci ini, Macarius Sukotjo. Ya, dirintis dari nol, bahkan dari ejekan dan hinaan tentang burung kecil berwarna kuning bergenus Zosterops ini. Mulai dari bagaimana memeliharanya, apa pakannya, kandang yg sesuai seperti apa, apa buahnya, apa minuman energi nya hingga bentuk lombanya seperti apa. Yang lebih mengejutkan lagi, bagaimana meng konservasi nie burung, hebat ya lembaga yang bernama PCMI ini. 

Tapi ayuk kita bahas yg sering nanya itu, kok ya pada gak mau buka bbrp literatur atau tanya mbah google aja ya. Ah kalo itu semua orang bisa, tp coba kita liat kepada sumber ilmunya, banyak lho senior atau lebih tepatnya sesepuh, orang yg pelihara pleci duluan, pada posisi itu harusnya tetap dengan sabar memberikan ilmunya. 

Jadi ingat ketika Rosulullah ditegur oleh Allah dalam surat 'Abasa, surat ke 80. Ketika Ibnu Ummu Maktum, sahabat yg buta ingin belajar kepada Rosul ttg Islam dan pembaharuannya, tp Rosul malah sibuk dengan orang orang Quraish yg belum masuk Islam. Satu hal sepele, kalo bole saya bilang, hanya seorang buta, Allah menegur Rosul nya dengan satu surat 'Abasa yg berarti bermuka masam, karna ketika sahabat Ibnu bertanya kepada Rosul, Rosul memalingkan wajah dan bermuka masam. 

Subhanallah.....

Nah kalo tau seperti itu maka sudah merupakan kewajiban kita, yg tau lebih dahulu ttg sebuah ilmu untuk menyampaikan kepada siapapun tanpa pandang bulu, tanpa pandang seberapa sering pertanyaan itu diajukan. Ini kewajiban, bukan sunnah lho, harus dijawab. Bayangkan kalo kita bertanya sesuatu yg kita benar benar gak tau tp oleh orang yg kita tanyai malah tidak dijawab sama sekali, sakit hati kita, dongkol mungkin.

Tapi kalo kita jawab kemungkinan akan berkembang menjadi diskusi yg akan mendatangkan ilmu baru bagi si sumber ilmu dan perasaan bangga, dekat dan silaturahmi bagi yg bertanya. Di ujung pertanyaan itu ada sebuah rumah silaturahmi yg nyaman, indah dan tenang.

Kamis, 12 April 2012

T E T U K O (seri satu)

Sebetulnya saya mau langsung nulis tentang apa itu pleci, tapi ijinkan saya untuk mengulas tetap dari pandangan hidup saya, kejawen. Pleci adalah sejenis burung, dalam kejawen burung dikenal dengan nama tetuko. Bahkan dalam sosiokultural masyarakat jawa burung menempati derajat yang sangat tinggi, hal ini dapat dilihat di tiap kota, selain adanya pasar gede, yang menjual kebutuhan hidup sehari hari, juga ditemukan adanya pasar manuk (burung). Bahkan beberapa kota yang tidak memungkinkan adanya tempat untuk pasar burung maka burung akan diperjualbelikan pada hari hari tertentu, semisal pahing atau wage. Ini membuktikan dalam sosiokultural masyarakat jawa dikenal adanya tetuko, ingon-ingon, yang menempati derajat yang tidak rendah.

Sementara itu dalam kosmologi kejawen, seorang pria jawa akan dikatakan sempurna bila telah memiliki wismo, tahto, wanito, turonggo, lan tetuko. Kalo wismo sudah jelas lah itu adalah rumah, tahto lan wanito jelas sekali dia memiliki jabatan dalam kemasyarakatan dan istri yang mendampinginya, sementara itu turonggo sudah jelas dalam menunjang kewibawaannya maka seorang priyayi jawa haruslah menunggang kuda, yah kalo boleh saat ini saya qias kan kepada mobil atau motor. Nah pertanyaan menyeruak kenapa ada tetuko disitu, burung. Apakah burung disini merupakan sanepo atau perumpamaan, saya coba untuk mencari ke beberpaa orang sepuh tentang sanepo dalam hal ini. Jawabannya adalah bukan pada saneponya, tapi kondisi real dari apa itu tetuko, ya seorang priyayi jawa harus memiliki burung peliharaan.

Pasti semuanya merujuk ke perkutut atau kutut, entah itu kutut putih, kutut kol buntet, kutut udan mas ataupun kutut buntel mayit.

Bukan, tetuko yang saya telusuri disini bukan hanya perkutut, karna memang ada beberapa kosmologi dalam tetuko yang menutupi beberapa kepemilikan dari seorang priyayi. Suatu saat saya datang ke tempat seorang bangsawan solo, didepan rumahnya ada dua sangkar, satu sangakr di sisi kiri berisi perkutut kol buntet sementara di sisi kanan berisi jalak suren. Saat saya tanya kepada guru saya, kenapa ada jalak suren disitu, sang guru langsung menjawab, sang bangsawan memiliki tombak dengan kalacakra atau rajah. Kala lain saya mengantar guru saya datang di daerah Prawirotaman Jogjakarta, disana lagi2 didepan rumah sang pejabat terdapat dua sangkar, satu sangkar berisi prenjak sementara sangkar yang lain berisi pentet, ketika saya tanyakan kepada sang guru tentang kedua tetuko tersebut maka sang guru langsung menjawab si pejabat memiliki pusaka dengan pamor udan mas dan pamengkang jagad.

Lha kok bisa........

Setelah saya telusuri maka ternyata ada keterkaitan tentang jodoh. Jodoh antara pusaka dengan tetuko, dan kenapa harus tetuko, kenapa bukan ulo atau yang lainnya. Hal ini lebih dikarenakan burung merupakan suatu manifestasi kebebasan dari hewan itu tuk pergi kemana saja berada. Manifestasi inilah yang memicu adanya pengendalian. Jalak suren untuk keris berdapur jalak sangu tumpeng, pleci untuk tombak berpamor tempel dan lain sebagainya. Pada sisi inilah dikenal adanya burung tutup pusaka, sehingga kita akan mengenal pusaka apa yang dimiliki dari tetuko apa yang dia pelihara.

Pada dataran jiwa, seseorang yang memelihara burung akan merasa dirinya dapat mengendalikan si burung dalam sangkar tersebut, apapun itu, mulai dari pakan, minum, pakan tambahan bahkan tempat berjemur dan mandi si burung tersebut. Inilah yang disebut oleh beberapa penganut kejawen bahwa beninging ati pindah neng beninging tetuko. Artinya seseorang yang memiliki hati bersih maka si burung peliharaannya akan menampilkan performa yang sangat bagus, begitu pula sebaliknya. Sehingga banyak kita jumpai bahwa si burung A dengan jenis yang sama di tempat saya tidak berbunyi bagus akan tetapi di tempat teman saya akan berkicau dengan merdunya. Inilah bukti bahwa beningnya jiwa akan berpindah kepada beningnya burung, walaupun beberapa aliran kejawen mengedepankan tayuhan untuk tetuko ini, layaknya pada wisma, wanita, tahta, dan turanggo.

Sekarang dimanakah posisi kita untuk tetuko ini, menyenangi, mengagumi, atau bahkan antipati.