Tampilkan postingan dengan label gosip hangat.... Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gosip hangat.... Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Agustus 2009

MBAH (s)URIP

Kaget itu yang pertama terasa, padahal kemarin sore baru liat bareng ma bapak mertua dan mengomentari kalau ternyata mbah surip tuh 'ngunduh mburi'.

Itulah istilah yang digunakan oleh orang ketika seseorang itu bersusah payah untuk mendapatkan sesuatu yang dicita-citakan, tapi saya cenderung tidak memperhatikan kata-kata bapak mertua tentang '....mburi'. Sebetulnya itulah suatu pertanda bahwa hari-hari inilah sudah memasuki definisi 'mburi' buat mbah surip, memang usia mbah surip saat ini telah memasuki 70 tahun akan tetapi saya tidak memikirkan kalau kemarin sore adalah senja terakhir buat mbah surip, dan sore kemarin adalah 'lemah mburi' yang mbah surip ambil.

Kehidupan adalah 'KADYO CAKRA MANGGILINGAN' yang berarti roda itu terus berputar, dan inilah yang dialami oleh mbah surip dalam kehidupan ini, sang kuasa telah memberinya suatu kesempatan untuk mengecap keberhasilan ya walaupun hanya dalam 1-2 bulan saja, tapi itu telah cukup untuk seorang surip.

Sebab gusti ingkang murbeng dumadi telah menetapkan kehidupan mbah surip setelah ini adalah 'BAWONO LANGGENG' dimana kekayaan dan ujian dia dalam hidup ini akan dibayarkan di alam setelah mati ini dan itu diunduh semua yang telah ditanam dalam hidupnya. Selain itu ALLAH telah berbaik hati dengan mengambil mbah surip karena cobaan yang tersulit adalah kemapanan, kenyamanan dan kekayaan.

Hingga tadi pagi 08.20 mbah surip koleps dan dibawa kerumah sakit Pusdikkes Jakarta Timur, hingga 10.30 mbah surip meninggal dunia bertepatan dengan bertabrakannya KRL jurusan Bogor.......selamat jalan mbah surip.

Rabu, 03 Juni 2009

Martabat Manohara DIPERTANYAKAN

Awalnya memang cukup meyakinkan karena saat itu yang terhempas adalah dari sang ibu, ketika sang anak disiksa jelas sekali dia memiliki hak untuk 'bernyanyi' tentang penderitaan anak...itu hak beliau. Itulah yang dilakukan (ibu) kepada anaknya Manohara Odelia Pinot, itu sah sah saja dilakukan karena memang dialah yang membesarkan sang anak. Dia yang mendidik dan memeliharanya sejak dari ayunan hingga pernikahan itu dilakukan, tapi kondisi berbeda ketika Manohara menginjakkan kakinya di tanah air.

Ketika kaki yang jenjang itu menginjakkan kakinya di tanah air, pikiran saya langsung tidak bersimpati kepada kasus ini lagi. Ada dua hal yang dia lakukan tanpa memandang status dia saat ini, dan lihatlah apa yang dia lakukan selama ditanah air ini (minimal setelah saya posting wacana ini), ada dua hal yang mesti kita bahas disini yang mana membuat saya tidak lagi bersimpati dengan kasus ini, bahkan bilapun saya membenci Malaysia saya tidak akan menempatkan kasus ini seperti layaknya saya membenci negara turunan kita tersebut.

Dua hal yang langsung dilakukan Mohara sesampaikan cukup membuat saya bertanya-tanya, apakah benar yang dilakukan sang putera mahkota. PERTAMA, ketika sampai di tanah air sampai posting saya ini Manohara hanya melakukan tour ke berbagai stasiun televisi, ya memang perang media adalah perang yang ditakuti oleh keluarga istana dari Malaysia tersebut, memang itu adalah kartu As buat pihak Manohara. Tapi coba kita lihat sisi lainnya, ketika kasus kekerasan dalam rumah tangga tersebut terjadi maka yang tersisa dari kasus tersebut adalah sebuah bukti dan bukti itu tentunya akan digunakan untuk melawan sang putera mahkota. Bukti inilah yang mungkin akan semakin hilang dengan termakannya waktu, dan bila itu terjadi maka kita akan beramai ramai mengatakan bahwa Manohara berbohong dalam kasus ini. Visum et repertum, adalah bukti kuat terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, hal ini harusnya sesegera mungkin diambil dan dilakukan oleh pihak pihak yang memiliki kompetensi besar, kalau perlu dilakukan tidak hanya satu tempat layaknya dia melakukan perang media dengan pihak kerajaan Kelantan Malaysia. Namun sayang, hal ini tidak dilakukan oleh pihak Manohara saat ini. Perang media ini juga melupakan dia untuk membuat laporan resmi kepada pihak yang berwajib sehingga permintaan akan penyelesaian kasusnya tidak dapat dilakukan secepat mungkin.

KEDUA, status dia saat ini adalah istri sang putera mahkota, bukan mantan istrinya. Dalam dua keyakinan saya, baik itu islam maupun jawa, keduanya melarang seorang istri menjelek jelekkan sang suami apalagi di media yang bisa dikonsumsi oleh orang umum. Islam mengajarkan, haram hukumnya untuk seorang istri meninggalkan rumah tanpa ijin sang suami. Kejelekan suami itu harus ditutup serapat mungkin karena ridho sang suami adalah kunci menuju surga ALLAH yang kekal. Di jawa, malah lebih ketat lagi membatasi gerak seorang istri. Istri bagi orang jawa hanyalah 'manak-masak-macak' (beranak, memasak dan berias), tidak lebih. Sehingga kalaupun terjadi kekerasan dalam rumah tangga itu tidak akan terjadi bila sang suami dan istri memahami benar apa peran dan fungsinya masing-masing. Seburuk buruknya sang suami maka sang istri harus mikul duwur mendem jero (mengangkat tinggi atau menguburnya dalam dalam). Kalimat ini bila dipahami maka tidak akan satu katapun terlontar karena kejelekan sang suami itu yang akan terjadi. Maka saya heran ketika Manohara mengekspos hal tersebut di berbagai media, tentu saja media akan menganggap hal ini adalah makanan buat media, karena media mendapatkan materi 'gratisan' diatas kesalahan seorang Manohara.

Kalau benar telah tejadi penyiksaan sebaiknya lakukan pelaporan tanpa harus berbanyak banyak mengekspos di media sehingga tidak akan melakukan kesalahan ketika masih menjadi istri dari sang putera mahkota. Bila itu tidak dilakukan bisa jadi Manoharalah yang tidak berharga lagi baik sebagai istri ataupun wanita yang bermartabat. Inilah pelajaran yang baik bagi kita semua, sebagai suami jangan lakukan kekerasan kepada istri karena mau tidak mau, suka tidak suka dialah yang akan menjadi ibu bagi anak anak kita dan seorang ibu harus kita hormati. Buat istri, konsepsi mikul duwur menden jero haruslah dilakukan, apabila telah terjadi suatu tindak kekerasan layaknya dilaporkan hanya kepada pihak yang berwenang saja, jangan 'bernyanyi' di mana-mana......KARENA ITU HANYA AKAN MEMALUKAN DIRINYA SENDIRI

Selasa, 02 Juni 2009

mega 'bukan' orang jawa

Awalannya adalah cukup sederhana, bagaimana mereka bersalaman. Tapi coba lihat, berapa pasang mata yang menantikan hal tersebut, hampir separo lebih masyarakat Indonesia menantikan mereka bersalaman.


Telah lupa dari ingatan kita, kapan mereka berseteru, sebab memang masih banyak masalah dinegeri ini yang membutuhkan perhatian kita. Tapi benar apa yang disebut sebagai politisi memang susah sekali kita tebak, kadang teman kadang musuh, kadang saudara kadang lawan, tapi tidak dengan mereka. Semenjak lima tahun lalu keduanya memang telah menempatkan dirinya sebagai lawan dan rival, minimal tidak saling tegur dan sapa semenjak itu, ya lima tahun yang lalu.


Perseteruan ini berlanjut ketika Susilo Bambang Yudhoyono menjadi presiden menyingkirkan beliau, Megawati Sukarnoputri. Tapi kemarin sabtu pagi, dua tangan dingin tersebut saling bersalaman,ya hanya beberapa detik saja. Tanpa kita bermaksud menyudutkan seseorang maka kita coba lihat secara keseluruhan apa yang diatur dalam benak orang Jawa.


Di jawa dikenal istilah ‘ngalah’(:baca mengalah) sebetulnya penulisan yang benar adalah ‘ngaALLAH’ (:baca mengalah Jw). Tentu saja keduanya berbeda, ngalah dengan komposisi pertama yaitu orang yang benar-benar kalah dalam suatu pertarungan. Hal ini berbeda dengan ngalah pada konsepsi kedua, ngalah pada konsepsi ini adalah mengikuti jalannya dimana jalan yang mengajarkan kita bertindak dan tanduk seperti layaknya DIA yang ada disana dan maha benar.


Tidak ada kemenangan yang hakiki selain darinya dan tidak ada kekalahan yang hakiki selain karenaNYA. Dalam konsepsi kedua diajarkan pula bahwa siapapun tidak pantas untuk bejalan dimuka bumi ini dengan kesombongan sehingga tidak ada kekalahan yang hakiki hanya dikarenakan seorang/sebuah ciptaanNYA, tapi malah sebaliknya. Kekalahan ini malah diartikan suatu kerendahan hati sebuah makhluk kepada makhluk lainnya, itu yang utama.


SBY yang mendekat kepada Megawati pada saat di KPU merupakan suatu pertanda pemahaman tentang siapa sebenarnya yang memahami adat dan tradisi Jawa seceara penuh. Bahkan ini dilakukan oleh seorang presiden sekalipun, dia dating dan menyalami Megawati adalah suatu pelajaran besar yang seringkali dicontohkan oleh beberapa orang besar di Jawa seperti layaknya Panembahan Senopati yang sedang merantau. Dibutuhkan suatu kebesaran jiwa yang mantap ketika seorang pemimpin bangsa yang ‘dibenci’ oleh orang umum dan dia yang mendatangi lebih dahulu, sebuah pemahan yang besar.


Walau banyak pengamat politik yang mengatakan Megawati pada posisi yang baik pada saat itu, tapi kejawen mengatakan nol besar untuk Megawati yang menyandang nama besar sang ayah Soekarno. Soekarno muda selalu menjalani apa itu yang disebut kejawen hingga akhirnya dia menghentikan laku kejawennya ketika seorang Suharto muda menjalani laku yang sama, sehingga dia rela diasingkan di wisma Yaso saat itu. Meskipun dia memiliki kekuatan untuk lakukan sesuatu kepada anak sekecil Suharto saat itu, tapi tidak dia lakukan hanya karena pertimbahangan kematangan hati sang proklamator, bahwa waktunya telah habis dan Suhartolah sang pengganti.


Suatu pemahaman yang hebat dari seorang Soekarno saat itu, hal yang sama dilakukan oleh SBY sabtu pagi itu.