Tampilkan postingan dengan label biotechnology. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label biotechnology. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Februari 2010

KECIL ukurannya tapi LEBIH besar manfaatnya.....

Telur puyuh tidak sepopuler telur ayam atau telur bebek, apalagi banyak orang menganggapnya sebagai sumber kolesterol. Padahal, nilai gizinya baik untuk janin hingga kaum lansia.

Puyuh adalah spesies atau subspesies dari genus Coturnix. Burung puyuh pada awalnya termasuk burung yang hidup liar di alam bebas, lalu dibudidayakan di Jepang sebagai burung hias. Penjinakan burung puyuh liar tersebut juga dilakukan di Korea, Cina, dan Taiwan.

Beberapa hasil penjinakan tersebut dibawa ke Jepang yang akhirnya menjadi varietas khusus, Coturnix coturnix japanica. Bibit ini sudah tersebar di beberapa negara di Amerika, Eropa, dan Asia (termasuk di Indonesia).

Burung puyuh semakin populer dan digemari karena telur dan dagingnya lezat dan bergizi tinggi.

Sumber protein

Puyuh merupakan jenis burung yang tidak dapat terbang tinggi, ukuran tubuhnya relatif kecil, berkaki pendek, dan dapat diadu. Dalam bahasa Jawa, puyuh disebut gemak, sedangkan dalam bahasa Inggris dikenal sebagai quail. Peternakan burung puyuh mulai dikenal di Indonesia tahun 1979.

Burung puyuh dikenal dengan telurnya yang berukuran kecil. Telur ini umumnya digemari anak-anak karena bentuknya unik dan menggemaskan. Biasanya telur ini disajikan dengan cara direbus atau sebagai bahan campuran sayuran (hotplate kangkung, kimlo, dan sup), sambal kentang, atau sebagai isi bakso, tahu, dan siomay.

Dilihat dari nilai gizinya, telur puyuh tidak kalah dari telur ayam ataupun telur bebek. Kandungan zat gizi telur puyuh dibandingkan dengan telur ayam dan telur bebek per 100 gramnya dapat dilihat pada tabel.

Kandungan gizi per 100 gram telur puyuh, telur ayam, dan telur bebek

Zat giziTelur puyuhTelur ayamTelur bebek
Energi (kkal) 158 143 185
Protein (g)
13,05 12,58 12,81
Total lemak (g) 11,09 9,94 13,77
Karbohidrat (g) 0,41 0,77 1,45
Kalsium/Ca (mg) 64 53 64
Bes/Fe (mg) 3,65 1,83 3,85
Magnesium/Mg (mg) 13 12 17
Fosfor/P (mg) 226 191 220
Kalium/K (mg) 132 134 222
Natrium/Na (mg) 141 140 146
Seng/Zn (mg) 1,47 1,11 1,41
Tembaga/Cu (mg) 0,062 0,102 0,062
Mangan/Mn (mg) 0,038 0,038 0,038
Selenium/Se (mkg) 32,0 31,7 36,4
Thiamin (mg) 0,069 0,069 0,156
Riboflavin (mg) 0,478 0,478 0,404
Niasin (mg) 0,070 0,070 0,200
Asam Panthothenat (mg) 1,438 1,438 1,862
Vitamin B6 (mg) 0,143 0,143 0,250
Kolin (mg) 263,4 251,1 263,4
Vitamin B12 (mkg) 1,58 1,29 5,40
Vitamin A (IU) 543 487 674
Vitamin E (mg) 1,08 0,97 1,34
Vitamin K (mkg) 0,3 0,3 0,4
Kolesterol (mg) 844 423 884
Lutein+zeaksantin (mkg) 369 331 459
Sumber: USDA (2007)

Telur puyuh merupakan sumber protein terbaik. Seratus gram telur puyuh mengandung 13,05 gram protein, sedikit lebih tinggi dari telur ayam maupun telur bebek.

Salah satu keunggulan protein telur dibandingkan dengan protein hewani lainnya adalah daya cernanya yang sangat tinggi. Artinya, setiap gram protein yang masuk akan dicerna di dalam tubuh secara sempurna.

Nutrisi otak

Selain protein, lemak, vitamin, dan mineral, telur puyuh juga kaya akan kolin. Kolin berperan penting di dalam tubuh, terutama bagi perkembangan fungsi otak. Hal tersebut berkaitan dengan peran kolin sebagai komponen asetilkolin yang berfungsi sebagai pengantar sinyal saraf.

Asupan kolin yang cukup akan membantu kerja sinyal saraf pada otak, sehingga dapat memperkuat daya ingat anak-anak dan menghindari kepikunan pada orang lanjut usia (lansia).

Seratus gram telur puyuh dan telur bebek mengandung 263,4 mg kolin, lebih tinggi daripada kolin yang terdapat pada telur ayam. Namun, kebutuhan kolin setiap orang berbeda-beda.

Ibu-ibu yang sedang dalam taraf prakehamilan hingga menyusui, sebaiknya mulai mengonsumsi makanan sumber kolin, seperti telur puyuh, dalam jumlah cukup banyak. Hal tersebut penting untuk mendukung perkembangan otak janin.

Selain itu, asupan kolin yang cukup pada saat kehamilan juga dapat mengurangi risiko kematian sel pada janin, yang berarti mengurangi kemungkinan bayi cacat dan keguguran. Sementara asupan kolin pada saat menyusui dimaksudkan untuk mendukung perkembangan otak bayi secara optimal.

Penelitian yang dilakukan oleh Meck dan William (1999) menunjukkan bahwa untuk perkembangan janin yang optimal, pemberian makanan kaya kolin sebaiknya dilakukan pada umur kandungan 20-25 minggu hingga saat melahirkan.

Penelitian yang dilakukan Ladd dkk (1993) menunjukkan, kolin tidak hanya baik dikonsumsi mereka yang sedang dalam tahap pertumbuhan, tetapi juga oleh kaum lanjut usia. Mereka yang berada pada usia produktif juga wajib mengonsumsi kolin untuk mempertahankan fungsi otak agar selalu bugar. Selain itu, kolin juga dapat memperbaiki memori otak yang rusak akibat proses penuaan.

Melindungi mata

Salah satu ciri khas yang sangat menarik dari telur, termasuk telur puyuh, adalah warna kuning telurnya. Warna kuning telur tersebut bukan sekadar warna yang menyegarkan mata, tetapi juga menunjukkan bahwa telur mengandung senyawa lutein dan zeaksantin.

Kedua senyawa itu merupakan pigmen yang memberikan warna kuning. Selain memberikan warna kuning, pigmen tersebut ternyata juga mempunyai khasiat kesehatan yang sangat luar biasa.

Kata Lutein berasal dari bahasa Latin luteus, yang berarti kuning emas. Demikian juga kata zeaksantin yang berasal dari kata zea yang merujuk pada genus jagung, dan xanthin yang juga berasal dari bahasa Latin yang berarti kuning. Selain pada telur, lutein dan zeaksantin juga banyak terdapat pada sayuran hijau.

Hasil penelitian yang dimuat dalam The Journal of Nutrition, Agustus 2004, menunjukkan bahwa lutein pada kuning telur lebih mudah diserap tubuh daripada lutein pada sayuran hijau seperti bayam. Meskipun belum ada penelitian yang menjelaskan secara pasti, kemungkinan besar karena kuning telur banyak mengandung lemak, sehingga lutein lebih mudah larut dan diserap oleh tubuh.

Lutein dan zeaksantin tidak mempunyai aktivitas vitamin A, meski keduanya sangat baik untuk mata. Secara alamiah lutein dan zeaksantin terdapat pada retina mata. Konsumsi makanan yang kaya lutein dan zeaksantin akan meningkatkan kandungan lutein dan zeaksantin dalam retina mata.

Di dalam retina mata, lutein dan zeaksantin dapat membantu melindungi mata dari kerusakan dengan cara memfilter sinar biru, terutama pada bayi dan anak-anak. Menurut Bone dkk (1992), lutein dan zeaksantin berpotensi menyerap cahaya biru hingga 20-90 persen.

Anak-anak sangat berpotensi terkena sinar biru yang berasal dari pancaran sinar matahari, layar televisi, ataupun komputer. Sinar biru sebenarnya adalah sinar yang memiliki panjang gelombang antara 400-500 nm pada spektrum sinar yang masih dapat diterima mata.

Namun, pada usia yang masih dini, lensa mata pada anak relatif jernih, sehingga belum maksimal menghambat sinar biru yang masuk. Jika hal tersebut berlangsung lama, sinar tersebut dapat menyebabkan kerusakan dan menimbulkan luka pada retina mata anak.

Singkat kata, telur puyuh sangat dianjurkan untuk anak-anak yang sedang dalam tahap pertumbuhan ataupun ibu-ibu pada masa kehamilan dan menyusui. Orang tua juga dianjurkan untuk mengonsumsi telur puyuh, asalkan tidak mempunyai kadar kolesterol tinggi atau menderita obesitas.

Mengandung Zat Antikanker

Tubuh tidak dapat mensintesis sendiri lutein dan zeaksantin yang dibutuhkan tubuh. Karena itu, peran makanan yang kaya akan lutein dan zeaksantin sangat mutlak diperlukan. Dalam hal ini, termasuk telur burung puyuh.

Lutein dan zeaksantin tidak hanya diperlukan oleh anak-anak yang berusia dini, tetapi juga bagi orang dewasa. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi minimal 30 mg lutein setiap hari dapat memperlambat proses penuaan hingga 40 persen. Tubuh pun terlihat awet muda, terutama yang berhubungan dengan kesehatan mata.

Beberapa penelitian menunjukkan, lutein dan zeaksantin juga baik untuk mereduksi risiko penyakit kanker dan tumor.

Menurut penelitian Voorrips dkk (2000), konsumsi lutein dan zeaksantin yang dikombinasikan dengan betakriptoxantin, asam folat, dan vitamin C terbukti secara efektif dapat mereduksi risiko tubuh terjangkit kanker paru-paru.

Menurut penelitian Haegele dkk (2000) dan Astley dkk (1999), lutein dan zeaksantin juga dapat berfungsi sebagai antioksidan karena kemampuannya untuk mencegah kerusakan DNA.

Penelitian yang dilakukan oleh Nishino dkk (1999) juga menunjukkan, tikus percobaan yang diberi konsumsi zeaksantin dapat mengurangi risiko terbentuknya tumor hingga empat kali lipat dibandingkan dengan tikus yang tidak diberi konsumsi zeaksantin.

Jangan Takut Kolesterol

Banyak orang takut mengonsumsi telur, terutama telur puyuh, karena kadar kolesterolnya tinggi. Padahal, hal itu tidak perlu ditakuti mengingat kolesterol juga diperlukan oleh tubuh, asalkan tidak dikonsumsi secara berlebihan.

Untuk menyiasatinya, kita dapat mengonsumsi makanan yang dapat melawan asupan kolesterol. Salah satunya adalah makanan kaya serat pangan (dietary fiber), seperti sayuran, buah-buahan, dan serealia, dalam jumlah banyak. Konsumsi serat pangan yang dianjurkan sekitar 20-30 gram sehari.

Selain serat pangan, konsumsi vitamin B kompleks juga dapat membantu menurunkan efek buruk kolesterol. Dengan mengonsumsi 3-6 gram vitamin B kompleks setiap hari, kolesterol total dapat diturunkan sebanyak 15-20 persen, kadar trigliserida 45-50 persen, sedangkan kadar HDL ditingkatkan hingga 20 persen.

Kebutuhan akan vitamin B kompleks ini dapat dipenuhi dengan mengonsumsi 200 g serealia seperti roti gandum, beras pecah kulit (brown rice), ataupun oat setiap hari.

Vitamin B kompleks juga berperan dalam merangsang pembentukan prostaglandin 12, yaitu hormon yang membantu mencegah agregasi trombosit. Dengan demikian, vitamin B kompleks dapat memperkecil proses aterosklerosis dan akhirnya memperkecil kemungkinan terjadinya serangan jantung.

Vitamin C juga berperan sangat penting untuk menurunkan kadar kolesterol dan trigliserida yang tinggi. Dalam metabolisme kolesterol, vitamin C berperan meningkatkan laju kolesterol yang dibuang dalam bentuk asam empedu, meningkatkan kadar HDL, dan berfungsi sebagai pencahar, sehingga meningkatkan pembuangan kotoran. Namun, vitamin C hanya bekerja pada orang yang mempunyai kadar kolesterol dan trigliserida tinggi.

Vitamin C juga berperan penting dalam sintesis kolagen. Padahal, kolagen itu berbentuk serabut kuat dan merupakan jaringan ikat yang penting bagi kulit, otot, pembuluh darah, dan bagian tubuh lainnya. Kehadiran vitamin C dalam pembentukan kolagen merupakan faktor positif untuk mencegah penyakit jantung koroner akibat kolesterol.

Angka kecukupan vitamin C per hari untuk orang dewasa ditetapkan sebesar 75 mg untuk wanita dan 90 mg pria. Namun, kebutuhan itu dapat meningkat sesuai dengan kondisi tubuh setiap orang.

Vitamin E berperan sebagai antioksidan penting yang dapat menghambat oksidasi LDL, sehingga bisa mencegah risiko penyakit jantung koroner. Sebuah hasil studi di Medical Center, Texas Southwestern University, Amerika Serikat, menunjukkan konsumsi 800 IU vitamin E setiap hari selama tiga bulan dapat memangkas oksidasi LDL sebesar 40 persen.

Sebuah studi terhadap 87.000 perawat di Harvard Medical Center menunjukkan bahwa konsumsi vitamin E sebanyak 100-250 IU setiap hari selama dua tahun dapat menurunkan risiko penyakit jantung hingga 41 persen. Dari diet sehari-hari, diperkirakan konsumsi vitamin E yang baik untuk mencegah penyakit jantung sekurang-kurangnya adalah sebesar 100 IU setiap hari.

Selain itu, olahraga secara teratur, yaitu minimal tiga kali setiap minggu, dapat membantu menurunkan risiko penyakit jantung akibat kolesterol.

Jelaslah bahwa kolesterol tidak perlu ditakuti bila dikonsumsi secara cermat.

Selasa, 28 Juli 2009

manusia....bionik

Dengan teknologi sekarang, kita dapat mereplikasi atau memperbaiki sejumlah organ dan bagian tubuh dari yang sudah pernah dilakukan sebelumnya. Berikut adalah daftar sepuluh teknologi bionik 2009 versi Livescience.

1. Mata Bionik
Seperti sudah dipaparkan sebelumnya, mata bionik memberikan secercah harapan pada penyandang tunanetra di seluruh dunia [baca: Mata Bionik untuk Tunanetra]. Pasalnya, mata palsu itu membantu fungsi retina yang rusak dengan mekanisme yang cukup rumit. Segala informasi visual yang terekam oleh sebuah kamera mini di mata bionik, diproses menjadi sinyal elektronik dan dikirimkan pada implan elektroda. Dengan begitu, tunanetra diharapkan dapat melihat seperti orang normal. Menurut Dr. John Pezaris dari Universitas Harvard, Cambridge, mata bionik akan bekerja lebih baik pada tunanetra yang sebelumnya tidak buta.

2. Protein Tulang Jitu
Sejak 1960, para peneliti telah mengetahui sebuah protein yang mampu memperbaiki jaringan tulang yang rusak. Namun sayang, teknologi tersebut tidak bekerja sempurna. Terkadang, tumbuh jaringan tulang yang salah atau bahkan tumbuh tulang pada bagian yang seharusnya tidak tumbuh. Pada 2005, ilmuwan asal University of California, Los Angeles, (UCLA) menggunakan protein UCB-1 yang dapat menstimulus pertumbuhan tulang pada jaringan yang tepat.

3. Pankreas Portabel
Menurut Aaron Kowalski, kepala proyek riset di the Juvenile Diabetes Research Foundation, pankreas buatan yang mampu memonitor gula darah dan kadar insulin dalam tubuh seseorang akan dilempar ke pasar dalam waktu dekat. Ia mengatakan alat ini mengombinasikan dua teknologi, yaitu pompa insulin dan monitor glukosa berkelanjutan. Dengan alat ini, penderita diabetes yang tergantung pada insulin akan lebih mudah menjalani hidup secara normal.

4. Lidah Super Sensitif
Profesor komputer dan mesin elektrik asal Universitas Texas di Austin, Texas, Dean Neikirk, menciptakan lidah elektronik yang dapat menganalisis cairan dan menentukan kandungan kimianya secara tepat. Lidah ini menggunakan mikrosphere, semacam sensor mini yang berubah warna jika terekspos pada target spesifik, seperti berbagai jenis sugar. Alat ini hanya bisa merasakan rasa "enak" secara kimiawi.

5. Tangan Mekanik
Pasien amputasi pada bagian tangan kini boleh merasa sedikit lega. Pasalnya, Dr. Todd Kuiken dari Institut Rehabilitasi Chicago berhasil membuat tangan mekanik yang berfungsi hampir sama dengan tangan sungguhan. Tangan ini tersambung ke otak oleh sejumlah saraf motorik buatan. Jika sang pemakai ingin menggerakkan tangannya, saraf-saraf yang seharusnya mengirim sinyal pada tangan sungguhan beralih menuju tangan mekanik.

6. Lutut Pintar
Lutut adalah bagian tubuh yang tidak mempunyai kemampuan berpikir dengan sendirinya. Namun tidak begitu dengan lutut bionik buatan The Massachusetts Institute of Technology (MIT) bernama RHEO. Alat ini memiliki kepintaran buatan yang akan memberikan rasa nyaman pada penderita kelumpuhan. RHEO akan mempelajari cara berjalan sang pengguna dan mendeteksi medan seperti apa yang sedang ditapaki dengan menggunakan semacam sensor.

7. Ginjal Portabel
Menyingkirkan racun dalam darah dan menjaga kadar cairan tubuh selalu seimbang adalah rutinitas yang harus dijalani penderita gagal ginjal. Untuk melakukan itu, mereka harus menggunakan mesin dialisis yang biasanya berukuran sebesar pengering pakaian. Singkirkan alat itu karena ginjal portabel berukuran kecil dan berbobot ringan telah hadir di hadapan kita. Walau mini, alat buatan Martin Roberts dan David B.N. Lee asal UCLA bekerja lebih baik ketimbang mesin dialisis konvensional. Ginjal buatan ini dapat bekerja 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, seperti layaknya ginjal sungguhan.

8. Sel Artifisial
Terkadang, untuk mengantarkan efek obat ke lokasi tepat di dalam tubuh, sebuah pil atau injeksi saja tidak cukup. Daniel Hammer, profesor biologi asal Universitas Pennsylvania mempunyai metode lain, yaitu menggunakan sel buatan. Sel yang terbuat dari polimer ini dapat meniru fungsi sel darah putih yang menjelajahi seluruh jaringan tubuh. Kreasi mengagumkan bernama c ini mampu mengirim obat-obatan menuju tempat yang dibutuhkan, membuat perjuangan melawan sejumlah penyakit seperti kanker menjadi lebih mudah.

9. Tubuh Lama, Penis Baru
Disfungsi ereksi dapat menjadi momok menakutkan bagi hampir semua pria di dunia ini. Tak usah ditanya mengapa, karena seks terkadang dianggap segalanya oleh kaum adam. Untungnya, Anthony Atala dan tim dari Universitas Wake Forest, AS, sukses mengembangkan jaringan organ bernama corpora cavernosa, jaringan berlubang yang diisi darah saat ereksi terjadi. Percobaan dilakukan dengan mengkebiri kelinci dewasa. Setelah beberapa bulan, jaringan baru terbentuk dan sang penis sudah bisa "berjaya" kembali.

10. Memindahkan Otak
Mengganti beberapa bagian otak tidaklah semudah mengganti bagian tubuh lain seperti tangan atau kaki. Namun, hal itu mungkin dilakukan pada masa mendatang. Pasalnya, profesor Theodore Berger asal University of Southern California telah menciptakan chip komputer yang mampu menggantikan hippocampus, bagian otak yang mengontrol ingatan jangka pendek dan pemahamam spasial. Chip ini mampu menormalkan fungsi otak penderita penyakit Alzheimer dan stroke.

Kamis, 25 Juni 2009

PCR ku yang aneh.....

padahal hari itu udah jadi loh....aku coba beberapa sampel ku aku jalankan dengan suatu metode yang telah aku optimalkan, eh ketika aku running dalam jumlah banyak kok mendadak gak ada satupun pita yang keluar yach......

kalau mau dilihat semuanya, dari konsentrasi DNA, konsentrasi primer yang digunakan, mix yang saya pakai saat itu malah dari RTG (Ready To Go) Amersam, jadi sebetulnya variabel berubahnya hanya air, primer dan DNA.

nah kalau dua dari ketiganya adalah tetap dengan kata lain adalah variabel konstan saya maka hanya air yang saya ubah dari hari kemarin, tapi ya mosok air sih......

selain air yang saya ubah adalah konsentrasi dari agarose yaitu naik ke 2% dari 1%, tapi sebetulnya ini juga tidak akan mempengaruhi jalannya elektroforesis ke arah ketidakmunculan, malah 2% akan memunculkan pita dengan garis yang tegas.

hal lain yang saya ubah adalah voltase yang saya gunakan adalah 50 v, padahal kemarin saya pake 100 v. inipun tidak akan berpengaruh kearah ketidaknampakan pita, sebab semakin kecil voltase yang kita gunakan maka pergerakan dari DNA kita akan semakin pelan dan hal ini akan membuat pita yang rapi dan tegas.

perubahan yang lain tidak saya lakukan, tapi anehnya kemarin PCR saya jadi pada visualisasi di agarose dengan elektroforesis tapi hari ini kok mendadak ilang entah kemana......apakah ini yang disebut faktor X ya....wong pake voltase 50 v aja TAE bisa mendidih panas sekali.....ANEH.

Sabtu, 30 Mei 2009

PCR ku....

Dulu tak kira kalau PCR tuh pasti loh komposisinya pasti denaturasi nya 1 menit, annealingnya 1 menit dan ekstensinya 2 menit. Hal itu dikarenakan memang komposisi yang tepat untuk pemisahan untai ganda yang ada trus dilanjutkan dengan penempelan primer yang dimaksud trus pemanjangan primer tersebut harus 1 : 1 : 2, ternyata itu salah besar toh.....Jangan pernah optimasi PCR dengan memulai dengan komposisi seperti itu.
Kalau kita bicara tentang PCR, tentunya kita bicara tentang lima hal sekaligus yaitu 1. tentang sequen DNA yang kita miliki, 2. primer yang akan kita gunakan, 3. mix PCR yang kita pilih, 4. suhu denaturasi dan 5. suhu anneallingnya.

Tentang DNA yang kita miliki kita harus paham benar tentang hal tersebut, apakah DNA kita telah kita murnikan sehingga kita tidak akan mendapatkan pita-pita yang tidak jelas, ataukah tanpa kita murnikan. Selain itu, kita juga harus tau berapa nih besaran konsentrasi DNA kita, memang sih untuk PCR biasanya konsentrasinya berkisar antara 20-50 ng akan tetapi pernah saya membuat suatu metode PCR berhasil dengan konsentrasi DNA hanya berkisar 0,2-0,4 ng, nah loe....jadi pada titik ini memang perlu dilakukan variasi sehingga kita temukan titik optimumnya.

Kalau primer yang terpenting adalah membaca literatur sih, dan tentukan juga konsentrasi yang kita pakai, kalau terlalu banyak akan dijawab dengan penampakan ekses primer dibawah gel hasil elektroforesis. Biasanya kita gunakan untuk PCR adalah sekitar 100-500 ng, ini juga ditentukan oleh lamanya annealling yang dilakukan, semakin lama maka semakin banyak primer yang dibutuhkan.

Mix PCR ini jelas akan mengacu pada literatur tapi yang perlu digarisbawahi disini adalah penggunaan dNTP yang ada, apakah dengan waktu ekstensi yang ada bisa dicover oleh dNTP yang tersedia, sebab bila tidak maka untai DNA ini akan menjawab dengan membuat spin pada basa-basa yang cocok, hal ini akan mengakibatkan DNA terplintir dan terpotong-potong pada siklus berikutnya.

Untuk suhu denaturasi dan annealling perlu disisir dari suhu 30 tiap dua derajat naik ke atas, kalau RAPD ya sampai 40 itu udah maksimal, kalau sampai suhu tersebut belum ditemukan maka bisa dikatakan bahwa unsur lain yang mempengaruhi hal tersebut, bukan suhunya.

Setelah itu kembali ke waktu tiap-tiap tahap dalam PCR ini, tentunya kita gak mau kan kalau PCR kita habis bahannya ditengah jalan, soalnya gak bisa diisi ulang ditengah reaksi sih. Untuk itu perhitungkan dengan matang sebab dalam waktu 1 menit itu Taq polymerase bisa bekerja dalam 2000 kopi basa-basa yang ada (termasuk eksistensinya = pemanjangan), nah kita bisa hitung dengan tangan, apakah dNTP kita mencukupi untuk sekian siklus atau habis di tengah-tengah siklus yang kita rencanakan.
Gimana sih kalau habis dNTP nya ditengah reaksi, ya untai DNA itu akan berpilin karena memang dalam posisi single stranded karena adanya proses denaturasi. Pada saat annealling, ada dua untai yang saling komplement dan terdapat pilinannya, saat inilah yang menentukan, ketika pemanjangan (elongasi) maka untai tersebut akan terhenti atau bahkan terputus. Hal inilah yang menyebabkan DNA terfragmentasi menjadi kecil-kecil dan terlihat seperti ekses primer pada elektroforesis.

dong ra, kalau gak dong boleh nanya kok ?


Minggu, 24 Mei 2009

isolasi = i love u

Isolasi merupakan titik awal dalam melakukan kerja molekuler, sebab tanpanya kita tidak akan dapat menguak hasil dari sebuah DNA yang dimiliki oleh tiap2 organisme, tapi apakah teknik isolasi itu sama ?

Tidak tentu aja tidak, sebab tiap organisme memiliki protein yang berbeda dan susunan dan fungsinya masing2, tidak kurang tidak lebih. Tapi pada dasarnya teknik isolasi itu adalah mengambil DNA dalam suatu organisme dengan menyingkirkan banyak sekali protein penganggu tanpa harus merusaknya, itulah seninya….kalaulau memang tidak boleh disebut seni saya minta ma’af.

Tapi buat saya, isolasi DNA dari organisme adalah merupakan suatu seni mengenal ‘sesuatu’. Layaknya kita mengenal pacar kita, kita harus tau dulu karakternya dan kita baru susun strategi untuk bilang ‘I love u’ ama dia kan, seperti itu juga dengan isolasi, kita kenalin dulu karakter dari organisme ini setelah itu kita baru tentukan dengan zat atau enzim apa aja kita akan isolasi DNA nya, kalau kita tidak lakukan itu muskil kita dapat yang terbaik. Memang sih ada beberapa protocol yang telah ada, namun itulah kekalahan kita, kita tidak tahu untuk apa tiap element yang diikutkan dalam protocol itu untuk sample kita, layaknya biasanya orang bilang jatuh cinta dengan bunga nah kalau pacar kita gak mau bunga gimana ?, berabe kan…..

Setelah kita menyelami apa itu DNA yang dimiliki maka kita akan dengan mudah ‘menyuruhnya’ keluar dari persembunyian….itulah seninya. Bukankah kalau cinta semua dilakukan demi sang kekasih, kita buat DNA jatuh cinta dengan kita. Suatu kata yang mudah tapi sangat susah dilakukan, sebab lebih dari seribu enzim yang digunakan dan lebih dari satu juta unsur yang menjadi pilihan, mana yang tepat harus segera dilakukan.

Seperti itu juga yang saya alami dengan ganja kering…..tunggu publikasi saya ya ! ! ! !